Kontroversi Film The Odyssey Nolan: Dihujat Penerjemah, Dipuja Kritikus

ORBITINDONESIA.COM – Film The Odyssey karya Christopher Nolan memicu kontroversi setelah Emily Wilson, penerjemah Odyssey (2017), menulis ulasan pedas yang menyebut naskahnya “memalukan” dan strukturnya “penuh gimmick”. Di saat yang sama, banyak kritikus film justru memujinya sebagai “film tahun ini” dan bahkan “mengubah sinema selamanya”.

The Odyssey adalah film terbaru Nolan setelah Oppenheimer (2023) yang memenangkan Oscar Film Terbaik. Adaptasi ini mengikuti perjalanan Odysseus, raja Ithaka, pulang dari Perang Troya untuk kembali pada istri dan anaknya.

Nama Emily Wilson ikut masuk dalam percakapan publik karena Nolan mengakui terinspirasi oleh terjemahan Wilson. Kepada Empire, Nolan menyebut baris pembuka versi Wilson, “Tell me about a complicated man,” sebagai kompas untuk membentuk Odysseus yang dimainkan Matt Damon.

Namun, Wilson menanggapi hasil akhirnya lewat London Review of Books dengan kritik yang tajam. Ia menilai film itu miskin kedalaman psikologis, emosional, politik, dan etis, meski tetap mengakui dampak budaya yang ditimbulkannya.

Wilson menulis, “The writing is abysmal,” dan menambahkan bahwa tak ada karakter yang memiliki motivasi meyakinkan. Ia juga menyindir, “There are no sex scenes, and all the food looks horrible,” sebuah catatan yang terdengar remeh tetapi sebenarnya menyoal vitalitas dunia yang dibangun film.

Di titik ini, kritik Wilson bukan sekadar soal selera, melainkan soal fungsi adaptasi. Ketika epos Homer hidup dari kompleksitas moral dan konsekuensi sosial, film yang terlalu mengandalkan “big bangs and big giants” berisiko mengubah tragedi manusia menjadi katalog kemegahan.

Wilson juga menyoroti struktur narasi yang ia sebut “gimmicky.” Dalam bahasa penonton, ini sering terasa sebagai cerita yang memamerkan teknik, tetapi menahan empati agar tidak mengganggu ritme tontonan.

Kontrasnya tajam karena media arus utama memberi pujian besar. The Telegraph menyebutnya “film of the year,” Metro menulis film itu akan “change cinema forever,” The Times menyebutnya “a masterpiece in every way,” dan Standard memuji sebagai “colossal piece of cinema.”

Perbedaan ini mengungkap dua standar penilaian yang sedang bertabrakan. Dunia kritik film sering memberi nilai tinggi pada skala produksi, desain suara, dan kecanggihan penyutradaraan, sedangkan akademisi klasik menagih kesetiaan pada kedalaman gagasan dan karakter.

Menariknya, Wilson tetap mengakui sisi ekonomi-budaya yang jarang dibahas secara jernih. Ia menulis rilis film ini “an event to celebrate,” karena membawa penonton kembali ke bioskop dan membuat terjemahan Odyssey, termasuk karyanya, “flying off the shelves.”

Di sini film berfungsi sebagai mesin perhatian publik. Bahkan Wilson berharap dampaknya bisa membuat administrator kampus berpikir dua kali sebelum memangkas jurusan sastra, bahasa, dan sejarah.

Namun ia tetap menilai film tiga jam itu gagal memenuhi janji ide besarnya. Ia menyebut Nolan menawarkan “kombinasi kebesaran dan kedangkalan,” dengan visi yang “terlalu bingung” dan karakter “terlalu kurang berkembang” untuk mengantar gagasan yang setengah dijanjikan.

Wilson juga mencatat film ini ramah keluarga, seperti “pertunjukan kembang api 4 Juli” dengan kedalaman naratif dan emosional yang setara. Bahkan ketika ada lebih banyak karakter perempuan dibanding film Nolan lain karena materi sumber, ia menilai mereka “tidak punya banyak yang bisa dikatakan,” berlawanan dengan penggambaran dalam puisi.

Kontroversi The Odyssey Nolan memperlihatkan paradoks adaptasi modern. Film bisa menjadi gerbang menuju literatur, tetapi juga bisa menjadi penyaring yang membuang hal paling mengganggu, yakni ambiguitas moral dan luka batin tokohnya.

Dari sudut Wilson, keberhasilan box office dan pujian kritikus tidak otomatis membuktikan keberhasilan artistik. Ia menuntut “manusia” di balik mitos, bukan sekadar “spektakel” yang memukau tetapi sulit diingat setelah lampu bioskop menyala.

Dari sudut Nolan dan para kritikus yang memujinya, sinema adalah bahasa sendiri. Dalam bahasa itu, skala, ritme, dan pengalaman audiovisual bisa dianggap setara dengan kedalaman psikologi, terutama ketika targetnya adalah audiens luas.

Namun, justru di ruang benturan inilah pertanyaan publik menjadi penting. Apakah adaptasi epos klasik harus setia pada kompleksitas, atau cukup membangkitkan rasa ingin tahu yang kemudian membawa penonton kembali ke teks aslinya.

Wilson tanpa sengaja memberi argumen paling kuat untuk film yang ia kritik. Jika benar buku-buku Odyssey kembali laris, maka film itu menjadi “iklan budaya” yang efektif, meski sebagai karya naratif ia dinilai mengecewakan.

The Odyssey Nolan mungkin akan dikenang sebagai film yang memecah penilaian antara panggung kritik film dan ruang seminar sastra. Wilson mengingatkan bahwa kemegahan visual tidak boleh menggantikan kejujuran motivasi, kedalaman etika, dan suara karakter yang hidup.

Namun ia juga mengakui sesuatu yang jarang diucapkan: film besar bisa menghidupkan kembali minat membaca, bahkan menyelamatkan percakapan tentang humaniora di kampus. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya apakah Nolan “benar” mengadaptasi Homer, melainkan apakah kita, sebagai penonton, masih mau mencari makna setelah kembang api selesai menyala.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)