Fenomena "Quiet Cracking" di Tempat Kerja: Tantangan dan Solusi
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah ancaman AI dan stagnasi promosi, fenomena "quiet cracking" menggerogoti produktivitas global, merugikan $438 miliar dalam setahun.
Fenomena "quiet cracking" muncul ketika karyawan merasa tertekan oleh kurangnya peluang karier dan ketidakstabilan pekerjaan. Mereka hadir di kantor namun secara mental dan emosional tidak terlibat. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan membuat mereka enggan bersuara, menciptakan lingkungan kerja yang penuh ketidakpuasan.
Sebuah laporan dari TalentLMS menunjukkan 54% karyawan merasa tidak bahagia di tempat kerja. Gallup melaporkan penurunan keterlibatan karyawan secara global dari 23% menjadi 21%, mengakibatkan kerugian produktivitas besar. Fenomena ini tidak disengaja, melainkan akibat dari perasaan lelah dan tidak dihargai.
Manajer memainkan peran penting dalam mencegah "quiet cracking" dengan mendengarkan dan memberikan pelatihan. Namun, karyawan juga harus proaktif dalam mencari akar ketidakpuasan mereka. Mengubah peran atau bahkan karier bisa menjadi solusi bagi beberapa orang untuk menemukan kembali motivasi kerja.
"Quiet cracking" adalah panggilan untuk perubahan baik bagi perusahaan maupun karyawan. Menemukan keseimbangan antara kebutuhan bisnis dan kesejahteraan karyawan adalah kunci untuk masa depan kerja yang lebih sehat. Apakah kita siap menjawab tantangan ini?
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Agustus 2025)