
Oleh KH. Dr. Amidhan Shaberah*
ORBITINDONESIA.COM - Dunia terkejut! Amerika akan mengambil alih Jalur Gaza, Palestina. Bagaimana mungkin AS melakukan tindakan konyol yang akan mengobarkan api di Timur Tengah itu?
Pernyataan AS mau mengambil alih Gaza, Palestina, diucapkan Presiden Donald Trump sendiri, usai pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat, 20 Januari 2025. Trump sesumbar: AS dapat "mengambil alih" dan "memiliki" Gaza. Sekaligus menempatkan penduduknya di negara lain, seperti Yordania dan Indonesia.
Baca Juga: China Jawab Usul Donald Trump tentang Pengurangan Jumlah Senjata Nuklir
Sontak, statement Trump menuai kecaman dunia internasional. Tak hanya Dunia Arab dan Islam yang mengecam sesumbar Trump. Tapi juga Eropa Barat, Rusia, dan Cina.
Dalam rilisnya di media sosial X (Twitter), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan "Indonesia dengan tegas menolak segala upaya untuk secara paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis Wilayah Pendudukan Palestina."
Indonesia menolak pernyataan Presiden Donald Trump di atas. Tindakan itu, menurut Kemlu RI, "akan menghambat terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sebagaimana dicita-citakan oleh Solusi Dua Negara berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya."
Baca Juga: PM Spanyol Pedro Sanchez Kecam Trump: Tak Ada Real Estat Bisa Tutupi Kejahatan di Gaza
Pernyataan Trump tersebut muncul saat gencatan senjata sedang berlangsung antara Hamas dan Israel, di tengah kebimbangan tentang masa depan Gaza. PBB memperkirakan sekitar dua pertiga bangunan di Jalur Gaza telah hancur atau rusak setelah 16 bulan pertempuran nyaris tanpa henti, sejak Oktober 2023. Ratusan ribu penduduk Gaza mengungsi ke luar negeri akibat gempuran Israel tersebut.
Jika pernyataan Trump benar-benar terwujud, niscaya akan terjadi keos politik di Timur Tengah. Konsensus internasional tentang perlunya negara Palestina — terdiri dari Gaza dan Tepi Barat — yang hidup berdampingan dengan Israel, akan mustahil terwujud.
Padahal konsensus tersebut dianggap oleh masyarakat internasional merupakan satu-satunya jalan keluar untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. Khususnya antara Palestina dan Israel. Padahal konflik tersebut kini sudah menyeret Iran dan Yaman.
Baca Juga: PM Inggris Keir Starmer Akan Bertemu Donald Trump, Bahas Jaminan Keamanan Bagi Ukraina
Trump memang 'benar' tentang satu hal, yaitu diplomasi AS terhadap Israel dan Palestina selama puluhan tahun gagal menyelesaikan konflik. Berbagai proposal perdamaian, baik dari AS, PBB, dan Dunia Islam juga gagal diimplementasikan. Tapi solusi ala Trump jelas menjauhkan terwujudnya perdamaian langgeng di Timur Tengah yang diharapkan dunia.