Box Office Moana Live-Action Anjlok, Remake Disney Terancam
ORBITINDONESIA.COM – Box office Moana versi live-action dibuka lemah, hanya meraup US$43 juta di Amerika Utara. Angka ini tetap nomor satu, tetapi terasa seperti alarm keras untuk remake Disney yang menelan biaya produksi US$250 juta.
“Moana” gagal membuat gelombang besar di bioskop, meski tayang di 3.827 teater Amerika Utara. Penjualan tiket pembukaannya jauh dari proyeksi Disney yang semula memasang target US$60–65 juta domestik dan US$140 juta global.
Secara global, film ini hanya mengumpulkan US$95 juta, terdiri dari US$43 juta domestik dan US$52 juta internasional. Untuk film sebesar ini, angka tersebut dianggap berbahaya karena belum menghitung biaya pemasaran Disney yang biasanya sangat agresif.
Kasus “Moana” menyorot problem timing pada strategi remake live-action Disney. Jika terlalu lama, seperti “Snow White” dan “Dumbo,” gaung budayanya memudar, tetapi jika terlalu cepat, nostalgia belum sempat terbentuk.
Dengan modal produksi US$250 juta, “Moana” berisiko mengikuti jejak “Snow White” (debut US$42 juta) sebagai pembukaan terendah remake live-action Disney. “Snow White” berakhir di US$87 juta domestik dan US$205 juta global, dan itu menjadi pelajaran mahal.
Jika pola yang sama terulang, “Moana” bisa membuat studio merugi sekitar US$100 juta selama masa tayang. Ini bukan sekadar film yang “kurang laku,” tetapi sinyal bahwa mesin remake mulai kehilangan presisi.
David A. Gross dari buletin FranchiseRe menilai pembukaan ini “tidak mendekati” performa remake Disney sebelumnya. Disney memang menciptakan fenomena remake live-action, tetapi formula itu kini terlihat rapuh ketika jadwal rilis tidak memberi ruang rindu penonton.
Bandingkan dengan remake sukses seperti “The Lion King” (2019), “Aladdin” (2019), dan “Beauty and the Beast” (2017) yang masing-masing debut di atas US$100 juta dan menembus US$1 miliar. Kesamaan mereka jelas, yaitu bersumber dari film era 1990-an hingga awal 2000-an yang menjadi “sweet spot” nostalgia.
“Moana” berasal dari 2016, terlalu baru untuk diperlakukan sebagai “klasik lama.” Bahkan waralaba ini baru saja punya sekuel animasi yang meroket menjadi hit US$1 miliar, sehingga penonton merasa baru saja “pulang” dari pulau yang sama.
Disney sebenarnya tidak berniat menumpuk jadwal, karena “Moana 2” awalnya digarap sebagai serial televisi lalu diputar haluan menjadi film layar lebar. Setelah sekuel diputuskan tayang bioskop pada Thanksgiving 2024, versi live-action bahkan sudah ditunda setahun untuk memberi jarak.
Namun jarak itu tetap terasa pendek di mata penonton. Gross menyimpulkan, “Cerita ini belum siap kembali, dan penonton tidak terburu-buru menontonnya.”
Di sisi kualitas, kritik juga ikut memperberat. Versi live-action memegang 35% di Rotten Tomatoes, meski penonton yang datang memberi nilai “A-” di CinemaScore, menandakan masalahnya mungkin bukan kepuasan, melainkan urgensi.
Kompetisi juga menekan performa “Moana” karena berhadapan dengan dua merek keluarga besar. Universal-Illumination punya “Minions and Monsters,” sementara Disney sendiri menaruh “Toy Story 5” yang masih kuat.
“Minions and Monsters” meraih US$20,5 juta pada pekan kedua dari 4.244 lokasi, turun 45%. Totalnya US$108 juta domestik dan US$280 juta global, dan karena biaya produksinya hanya US$85 juta, film itu tetap aman secara bisnis.
“Toy Story 5” menambah US$18,5 juta pada pekan keempat, dengan total US$403,8 juta domestik dan US$879,1 juta global. Film ini bahkan berada di jalur menembus US$1 miliar dan berpotensi melampaui “Toy Story 4” yang meraih US$1,07 miliar.
Dalam lanskap yang sama, “Evil Dead Burn” justru menunjukkan model risiko yang lebih terkendali. Debutnya US$13,7 juta domestik dan US$27 juta global memang di bawah harapan, tetapi biaya produksinya hanya US$20 juta sehingga kerugiannya tidak menganga.
Musim panas Hollywood sendiri sedang kuat, dengan periode empat bulan diproyeksikan melampaui US$4 miliar untuk kedua kalinya sejak pandemi. Jadwal film besar seperti “The Odyssey” (17 Juli) dan “Spider-Man: Brand New Day” (31 Juli) diperkirakan mengangkat kembali jumlah penonton.
Di luar itu, Lionsgate mencatat sejarah lewat “Michael” yang menembus US$1 miliar global. Ini menjadi biopik pertama yang mencapai tonggak tersebut, memperlihatkan bahwa penonton masih mau datang jika ada alasan yang terasa “peristiwa.”
Kegagalan box office “Moana” live-action bukan semata soal kualitas film, melainkan soal kejenuhan strategi. Disney tampak mengandalkan memori kolektif sebagai mesin penjualan, padahal memori butuh waktu untuk menjadi nostalgia.
Remake yang terlalu cepat membuat penonton merasa sedang membeli ulang pengalaman yang masih segar, apalagi ketika versi animasinya tersedia di Disney+. Dalam ekonomi perhatian, kemudahan streaming mengubah pertanyaan dari “bagus atau tidak,” menjadi “perlu sekarang atau tidak.”
Kasus ini juga memperlihatkan paradoks Disney modern, yaitu bersaing dengan katalog miliknya sendiri. Ketika “Moana 2” baru saja sukses besar, versi live-action menjadi produk yang tampak redundan, sekalipun dikemas ulang dengan sutradara Thomas Kail dan bintang Dwayne Johnson.
Di titik ini, strategi remake perlu bergeser dari sekadar “menghidupkan ulang” menjadi “menafsirkan ulang.” Tanpa sudut pandang baru yang signifikan, film mahal akan terus kalah oleh film lama yang tinggal satu klik di rumah.
“Moana” live-action membuka pekan dengan US$95 juta global, tetapi beban US$250 juta membuat angka itu terasa kecil. Disney kini berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar target akhir pekan, yaitu kapan sebuah cerita pantas dipanggil pulang.
Jika nostalgia adalah bahan bakar, maka waktu adalah tangkinya. Dan ketika tangki itu belum terisi, bahkan lautan pun tidak cukup untuk membuat kapal besar tetap mengapung. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juli 2026)