Tren Wellness Anak Muda Ubah Makna Cantik dan Skincare
ORBITINDONESIA.COM – Tren wellness anak muda menggeser definisi cantik dari sekadar makeup dan skincare menjadi gaya hidup sehat, mental stabil, dan ekspresi diri. Pergeseran ini menguat lewat arus konten self-care di media sosial, sekaligus memunculkan pertanyaan: apakah “cantik” kini makin manusiawi, atau justru makin menuntut?
Dulu, kecantikan sering dipersempit menjadi wajah mulus dan riasan rapi. Kini, generasi muda menautkannya dengan kebiasaan tidur, nutrisi, olahraga, dan cara mengelola stres.
Di BeautyFest Asia 2026, aktris Dara Sarasvati menyebut beauty sebagai bagian dari lifestyle yang sedang bergerak ke arah wellness. “Orang tidak hanya ingin terlihat cantik, tetapi juga ingin sehat secara menyeluruh,” katanya.
Perubahan ini tidak lahir di ruang hampa, karena media sosial membuat standar baru menyebar cepat. Setiap hari, anak muda disuguhi resep “glow up” yang mencampur skincare, suplemen, hingga rutinitas mental health.
Wellness dan self-care terdengar membebaskan, tetapi ia juga bisa menjadi disiplin baru yang melelahkan. Rutinitas yang awalnya menenangkan berubah menjadi daftar target harian yang harus dicentang.
Pengalaman Dara memperlihatkan sisi realitasnya, karena jadwal padat dan tidur larut membuat tubuh menagih “pembayaran” lewat kelelahan. Ia mengaku menjaga nutrisi, vitamin, dan pemulihan, serta menekankan manajemen stres dan overthinking.
Aesthetic expert Yessica Tania menautkan kebiasaan populer anak muda seperti begadang, minuman manis, dan kurang tidur dengan kualitas kulit jangka panjang. Ia menekankan bahwa regenerasi kulit berlangsung optimal saat tubuh beristirahat, sehingga kurang tidur membuat kulit lebih kusam dan rentan inflamasi.
Ia juga mengingatkan bahwa produksi kolagen alami menurun sejak usia 20-an, lalu terus turun sekitar satu persen per tahun. Angka ini kerap disebut dalam literatur dermatologi populer, meski variasinya bisa berbeda antarindividu karena faktor genetik, UV, merokok, dan gaya hidup.
Di titik ini, skincare tidak lagi cukup dipahami sebagai produk, melainkan sebagai ekosistem kebiasaan. Bila tidur buruk dan stres tinggi, serum mahal sering hanya menjadi “plester” pada luka yang sumbernya tidak disentuh.
Yessica juga mengoreksi kambing hitam yang sering dipakai, yaitu kopi. Menurutnya, yang lebih perlu dicermati justru gula berlebihan yang dapat memicu glikasi dan memengaruhi kualitas kolagen serta elastin.
Sejumlah kajian ilmiah memang mengaitkan asupan gula tinggi dengan pembentukan advanced glycation end-products (AGEs) yang dapat mempercepat penuaan kulit. Namun, konteksnya tetap penting, karena pola makan total, aktivitas fisik, dan paparan sinar matahari sama-sama berperan besar.
Di ranah suplemen, Yessica menyebut kolagen lebih maksimal bila dikombinasikan dengan biotin dan essential multivitamin. Ia juga menyebut kombinasi seperti ginseng, multivitamin, mineral, dan asam folat untuk stamina dan imun.
Di sinilah publik perlu lebih kritis, karena klaim suplemen sering melampaui bukti pada sebagian populasi. Banyak manfaat suplemen bersifat kondisional, yakni lebih terasa pada orang dengan defisiensi atau kebutuhan khusus, bukan sebagai jalan pintas universal.
Tren wellness anak muda patut diapresiasi karena mengembalikan kecantikan ke akar yang lebih sehat. Cantik menjadi konsekuensi dari tubuh yang dirawat, bukan hasil instan dari filter dan lapisan makeup.
Namun, ada risiko baru yang mengintai, yakni “perfeksionisme kesehatan” yang menyamar sebagai self-care. Saat semua hal harus optimal—tidur, langkah kaki, kalori, suplemen, skincare—wellness berubah menjadi kompetisi terselubung.
Media sosial memperkuat paradoks itu, karena algoritma menyukai transformasi cepat dan rutinitas ekstrem. Akibatnya, anak muda bisa merasa gagal bukan karena tidak sehat, melainkan karena tidak cukup “terlihat sehat”.
Di sisi lain, narasi “kulit rusak karena begadang” bisa membantu orang lebih disiplin, tetapi juga rawan menyederhanakan masalah. Jerawat, inflamasi, dan penuaan dini tidak selalu soal kemauan, karena ada hormon, lingkungan, dan akses layanan kesehatan yang tidak merata.
Karena itu, gagasan cantik sebagai lifestyle seharusnya tidak berhenti pada konsumsi produk dan suplemen. Ia mesti bergerak ke kebijakan kecil yang nyata, seperti jam tidur yang masuk akal, literasi gizi, ruang aman untuk istirahat, dan budaya kerja yang tidak memuliakan lembur.
Wellness anak muda membuka babak baru: kecantikan tidak lagi hanya di permukaan, tetapi juga di ritme hidup yang lebih waras. Pesan Dara tentang nutrisi dan kesehatan mental, serta peringatan Yessica soal tidur dan gula, menegaskan bahwa kulit sering menjadi cermin dari kebiasaan.
Tetapi pertanyaan yang tersisa justru lebih dalam: apakah kita merawat diri untuk hidup lebih baik, atau untuk memenuhi standar baru yang tak pernah selesai? Barangkali self-care paling radikal hari ini adalah kembali sederhana, yakni cukup tidur, makan wajar, dan berdamai dengan tubuh yang tidak harus sempurna. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)