DECEMBER 9, 2022
Internasional

Korea Selatan dan AS Selesai Tinjau Ulang Pedoman Merespons Jika Terjadi Serangan Nuklir Korea Utara

image
Arsip Foto - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, yang disiarkan kantor berita Korea Utara KNA, Jumat, 25 Maret 2022. (ANTARA/Korean Central News Agency/Handout via Xinhua/tm/am.)

ORBITINDONESIA.COM - Korea Selatan dan Amerika Serikat pada Senin, 10 Juni 2024, menyelesaikan peninjauan dokumen pedoman bersama mengenai cara merespons jika terjadi serangan nuklir oleh Korea Utara pada sesi ketiga Nuclear Consultative Group (NCG) di Seoul.

“Hari ini, NCG menyelesaikan tinjauannya terhadap dokumen pedoman, mungkin kemajuan kami yang paling signifikan di tahun pertama NCG,” kata Penjabat Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk Kebijakan Luar Angkasa, Vipin Narang saat konferensi pers.

Narang menjelaskan bahwa pedoman yang ditinjau bersama Wakil Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Korea Selatan Cho Chang-rae itu secara khusus mencakup prinsip-prinsip dan prosedur konsultasi khusus dalam krisis nuklir Republik Rakyat Demokratik Korea.

Baca Juga: Universitas Indonesia dan 3 Kampus Korea Selatan Bangun Selatan Kerja Sama Pendidikan

Tinjauan tersebut menandai perkembangan terkini dalam upaya sekutu untuk meningkatkan pencegahan terhadap ancaman nuklir Korea Utara yang terus berkembang melalui badan konsultasi bilateral yang diluncurkan tahun lalu.

NCG didirikan berdasarkan Deklarasi Washington yang diadopsi oleh Presiden Yoon Suk Yeol dan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan puncak mereka di Washington pada bulan April tahun lalu, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kredibilitas pencegahan yang diperluas dalam menghadapi dorongan berkelanjutan dari Korea Utara.

Pencegahan yang diperluas mengacu pada komitmen Amerika Serikat untuk menggunakan seluruh kemampuan militernya, termasuk nuklir, untuk membela sekutunya.

Baca Juga: Korea Utara Kirim Lagi 720 Balon Berisi Sampah ke Korea Selatan dan Terus Mengganggu Sinyal GPS

Kendati menolak untuk memberikan rincian dokumen, Narang mengatakan bahwa dokumen tersebut akan mengatur arsitektur yang pada akhirnya akan diawasi oleh NCG, seperti pengembangan opsi yang mengintegrasikan kemampuan konvensional dan nuklir yang dapat diberikan kepada kepemimpinan sekutu dalam suatu krisis.

Kedua belah pihak mencapai pemahaman bersama bahwa mengintegrasikan kekuatan konvensional Korea Selatan dengan operasi nuklir AS akan memperkuat pencegahan dan respons aliansi terhadap ancaman nuklir dan rudal Korea Utara, menurut Cho.

“Untuk tujuan ini, Korea Selatan dan Amerika Serikat sepakat untuk mengembangkan berbagai opsi integrasi nuklir konvensional dan prosedur konsultasi jika terjadi krisis nuklir Korea Utara melalui simulasi tahunan seluruh pemerintah dan latihan table-top (TTXs),” ucap Cho.

Baca Juga: KBRI Seoul Perkenalkan Kebudayaan Indonesia Pada Festival di Studi Asing Universitas Busan Korea Selatan

Cho mengatakan, sekutu akan mengadakan TTX tingkat tinggi – latihan berbasis diskusi – sehubungan dengan latihan rutin Ulchi Freedom Shield pada musim panas pada bulan Agustus ini. Kementerian pertahanan kemudian mengklarifikasi bahwa TTX akan berlangsung sebelum latihan pada bulan Agustus. ***

Sumber: Antara

Berita Terkait