Narudin Pituin: Tentang 9 Lukisan Denny JA (Perjumpaan dengan Guru Sufi Jalaluddin Rumi)

Oleh Narudin Pituin 

ORBITINDONESIA.COM - Tak terbantahkan buah dari “kesunyian kreatif” telah menghasilkan 9 lukisan Genre Imajinasi Nusantara dengan asisten AI. Di sini AI digunakan sebagai alat bantu belaka dalam rangka mencipta karya seni apa pun.

Corak imajinasi nusantara pun tetap dengan sapuan batik pada apa pun atau siapa pun, yakni tokoh-tokoh rekaan—atau tokoh nyata yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak agak berbeda—yang diciptakan oleh Denny JA memiliki kesan-kesan tertentu yang mengandung kedalaman artistiknya dari segi semiotik dan dari segi sufistik.  

Sembilan lukisan ekspresionis ini memamerkan perayaan problem mikrokosmos (jiwa manusia) dan makrokosmos (jiwa alam) yang berlatar pemandangan alam yang tak nyata atau lanskap surealistik.

Terdapat konfrontasi dekonstruksionis di sini, yakni realitas jiwa manusia yang nyata dengan realitas jiwa alam yang tidak nyata—membuka percik-percik permenungan lain.

Tema sufistik dari Jalaluddin Rumi ihwal memikirkan diri sendiri sebagai pengenalan ontologi imanen pun mendapat perhatian tersendiri dengan sugesti kebebasan berpikir.

Seperti nasihat lama dari Arab, “Kenali dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu.”

Dalam tradisi Sufisme, penderitaan agung selalu lebih memikat daripada kebahagiaan picisan. Luka ialah usaha. Luka pun ialah doa.

Agama cinta yang dibawa oleh Jalaluddin Rumi akibat pengaruh guru spiritual menyimpangnya, Shams Tabrizi, telah turut pula berpengaruh kepada teologi pencarian.

Seperti seru Jalaluddin Rumi dengan lirih sekali, “Janganlah engkau mencari Tuhan, biarlah Tuhan yang mencari dirimu.”

Tambahan pula, Ibnu Taimiyah menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Kebenaran dan Kesalahan. Seperti bunga di taman, benar dan salah ibarat bunga segar dan bunga layu.

Analogi ini akan berbunyi apabila orang memetik bunga segar dan indah, itu pilihan. Begitu pulalah, saat orang memetik bunga layu dan tak indah, itu pilihan juga.

Kahlil Gibran terpengaruh oleh Jalaluddin Rumi ihwal daya spiritualitasnya hingga Kahlil Gibran berkata dalam salah satu karyanya, “Saat hati sunyi, di luar ramai, saat hati ramai, di luar sunyi.”

Gaya bahasa antitesis ini di sastra Arab demikian lazim demi memusatkan perhatian pihak pembaca.

Bahkan ada seorang sufi yang membedakan kata “sunyi” dari kata “Sunyi” dengan huruf “S” besar, merujuk kepada wilayah transenden Tuhan.

Dalam referensi Sufisme, ada istilah “dzauq” yaitu hati yang hadir. Sebab zikir tak berhasil tatkala hati masih tak hadir atau absen. Hati yang hadir diperoleh dari kesunyian, keheningan, kesepian, kesenyapan, dan sekian sinonim lainnya. 

Di lain tempat, Ibnu Sina pun mengingatkan bahwa hanya dengan hati yang hening atau tenang, manusia dapat menjadi sehat walafiat—hening, tenang, dalam arti tak bising itulah. 

Jadi, sembilan lukisan Denny JA ini ialah perayaan kombinasi jiwa manusia dan jiwa alam dalam bayang-bayang Yang memegang jiwa keduanya itu.

14 Januari 2026