Cerpen Iyek Aghnia: Azka, Jangan Jadikan Bunga Kekasihmu

ORBITINDONESIA.COM - Azka memandang hamparan sawah yang membentang luas. Sekumpulan burung terbang meliuk-liuk di angkasa, lalu menyambar batang-batang padi yang mulai menguning.

Burung-burung itu tidak mencuri banyak. Mereka hanya sekadar menyumpal perut. Setelah kenyang, kawanan itu terbang tinggi ke angkasa luas, meninggalkan sawah, dan baru kembali keesokan harinya.

Pandangan Azka masih melayang, mengikuti gerak burung-burung yang perlahan menjauh hingga lenyap dari jangkauan mata.

“Seandainya dia seperti burung-burung itu,” desis Azka lirih, “datang secukupnya, lalu pergi tanpa meninggalkan luka… mungkin aku tak akan merasakan kepedihan jiwa seperti ini.”

Ingatan Azka pun terbang jauh, sejauh burung-burung yang menuju cakrawala.

Sebagai mahasiswa yang datang dari kampung, Azka dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berwajah rupawan. Tak sedikit mahasiswi yang berusaha mendekatinya. Namun Azka selalu teringat pesan orang tuanya.

“Ananda selesaikan kuliah dulu. Setelah itu, silakan memikirkan yang lain.”

Pesan itu masih terngiang jelas di telinganya.

Di kampusnya yang asri dan tenang, ada seorang mahasiswi yang menjadi idola hampir seluruh mahasiswa. Namanya Bunga.

Seperti namanya, Bunga benar-benar menjadi “Bunga Kampus”. Hampir tak ada yang tak mengenalnya. Kecuali mereka yang jarang bergaul atau jarang menginjakkan kaki di kampus.

Bunga berpostur tinggi semampai, berwajah memesona, dengan kulit kuning langsat khas perempuan Indonesia. Pesonanya membuat banyak mahasiswa memendam harap—tak terkecuali Azka.

Bahkan, teman-teman mereka sering menjodohkan Azka dan Bunga.

“Kalian pasangan yang serasi,” ujar seorang teman.
“Sama-sama pintar,” sahut yang lain.
“Ganteng dan cantik. Ibarat Romeo dan Juliet,” kelakar seorang teman, disambut derai tawa.

Azka hanya tersipu.

Suatu pagi, matahari sudah meninggi saat Azka tiba di kampus. Setelah memarkirkan motornya, ia melangkah menuju kelas. Di area parkir, ia berpapasan dengan Bunga yang baru saja datang.

Langkah Azka terhenti. Ia menebarkan senyum.

Namun wajah Bunga tampak datar. Seolah senyum Azka tak pernah ada.

Saat Azka mengajaknya berjalan bersama menuju ruang kelas, Bunga tetap diam. Ia justru melangkah cepat, meninggalkan Azka yang tertegun sendiri.

Sikap dingin itu seketika memadamkan gelora jiwa muda Azka. Wajahnya memerah—antara malu dan perih. Beruntung tak ada yang menyaksikan kejadian itu.

Waktu berlalu.

Setelah meraih gelar sarjana, Azka bekerja di sebuah perusahaan jasa telekomunikasi. Jabatannya mapan. Gajinya pun lebih dari cukup bagi seorang anak muda di zamannya.

Suatu siang, usai rapat, ponsel Azka bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Hai, Azka. Apa kabarmu? Aku Bunga, teman kampusmu dulu. Sekarang sudah sombong ya? Mentang-mentang sudah jadi bos.”

Azka terpaku. Jemarinya hampir saja membalas pesan itu. Namun tiba-tiba ia teringat pesan sahabatnya—seorang pendidik yang mengabdi di sebuah pulau terpencil.

“Bunga… jangan Bung jadikan kekasihmu.”

Kalimat itu seperti air yang menyiram bara. Seketika gelora mudanya padam. Pesan dari Bunga pun dihapusnya tanpa balasan.

Padahal, Azka hanya ingin mengatakan bahwa ia telah melupakan Bunga Kampus itu. Kini hatinya telah berlabuh pada seseorang yang tinggal jauh dari kotanya—seorang penulis muda berbakat, yang kerap menorehkan kisah di koran dan menjadi idola pembaca.

Nama kekasihnya sengaja ia rahasiakan. Sebagai pengganti Bunga dalam hidupnya.

Yang jelas, kekasihnya bukan bernama Kembang. Soal inisial huruf depannya, biarlah pembaca yang menebaknya sendiri.

Toboali, awal Januari 2026

*Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.