Puisi Ahmad Gusairi: Munajat Tanah Retak
ORBITINDONESIA.COM - Langit membentang tanpa kabar hujan
Matahari menyalakan tungku kecemasan
Tanah merekah menadah kehampaan
Akar-akar merintih kehilangan pegangan
Kemarau mengetuk pintu kehidupan
El Nino mengulur musim kekeringan
Sumur menyimpan gema kehilangan
Sungai menyusut dalam kesunyian
Petani menatap ladang penuh tanya
Benih-benih tertidur dalam dahaga
Daun-daun luruh kehilangan warna
Sementara harapan menggigil di dada
Ya Allah, ke langit kami menengadah
Memohon hujan membasuh tanah yang lelah
Dalam istighfar, jiwa bersimpuh pasrah
Semoga rahmat-Mu kembali tercurah
Namun doa bukan akhir perjalanan
Ikhtiar adalah denyut sebuah pengharapan
Menjaga mata air, menghijaukan hutan
Menghemat setetes demi keberlangsungan
Bukankah bumi titipan kehidupan?
Mengapa kita melukai pelukan pepohonan?
Sungai dicemari, hutan kehilangan pertahanan
Lalu kemarau datang mengetuk kesadaran
Mari basahi hati dengan kepedulian
Ringankan tangan bagi yang kehausan
Rawatlah bumi, teguhkan persaudaraan
Agar air tak menjadi barang perebutan
Sebab hujan bukan sekadar jatuh dari awan
Ia rahmat, amanah, dan pelajaran
Kemarau menguji, nurani menggugah kesadaran
Menjaga bumi adalah ibadah kehidupan
Toboali, 11 Oktober 2026
*Ahmad Gusairi adalah seseorang pengajar di SMAN 1 Toboali Bangka Selatan dan anggota Satupena Bangka Belitung. ***