Hilang Penciuman Tanda Dini Penyakit Neurodegeneratif, Bisa Dilatih

The Washington Post

The Washington Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kehilangan penciuman atau hilang penciuman kerap dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda dini penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer. Kabar baiknya, kemampuan mencium dapat ditingkatkan lewat latihan penciuman yang terstruktur.

Terjemahan akurat artikel sumber: “Kehilangan penciuman dapat menjadi tanda awal penyakit neurodegeneratif, tetapi kemampuan mengendus dapat ditingkatkan.” Kalimat singkat ini menempatkan indera penciuman sebagai alarm biologis, bukan sekadar urusan aroma kopi pagi.

Dalam praktik sehari-hari, banyak orang baru menyadari penciumannya menurun setelah flu berat, penuaan, atau paparan polusi. Namun di ruang klinik saraf, perubahan halus pada penciuman sering dibaca sebagai sinyal bahwa ada proses yang lebih dalam sedang berlangsung.

Masalahnya, skrining kesehatan jarang menempatkan tes penciuman sebagai pemeriksaan rutin. Padahal, bila penciuman adalah “sensor dini”, mengabaikannya berarti membiarkan peluang deteksi awal berlalu begitu saja.

Penelitian neurologi selama beberapa dekade menunjukkan gangguan penciuman sering muncul lebih awal dibanding gejala motorik pada Parkinson. Sejumlah studi juga mengaitkan penurunan penciuman dengan peningkatan risiko gangguan kognitif pada spektrum Alzheimer, meski hubungan sebab-akibatnya tidak selalu sederhana.

Secara biologis, masuk akal bila penciuman menjadi “korban pertama”. Sistem olfaktori terhubung dekat dengan bulbus olfaktorius dan struktur limbik yang terlibat dalam memori dan emosi, area yang juga rentan pada proses neurodegeneratif.

Di sisi lain, hilang penciuman tidak otomatis berarti Parkinson atau Alzheimer. Infeksi saluran napas, sinusitis kronis, cedera kepala, merokok, paparan bahan kimia, hingga efek obat tertentu dapat menurunkan fungsi penciuman.

Yang sering luput adalah dampak sosialnya. Orang dengan gangguan penciuman lebih sulit mendeteksi asap kebakaran, kebocoran gas, atau makanan basi, sehingga risikonya nyata dan praktis.

Lalu mengapa artikel sumber menekankan “mungkin untuk meningkatkan kemampuan mengendus”? Karena ada pendekatan yang dikenal sebagai latihan penciuman (olfactory training), yakni paparan teratur pada beberapa aroma berbeda untuk merangsang adaptasi saraf.

Dalam literatur medis, latihan penciuman kerap menggunakan aroma kuat dan kontras seperti mawar, lemon, cengkeh, dan eucalyptus. Metodenya sederhana, tetapi konsistensi menjadi kunci, biasanya dilakukan berulang setiap hari selama beberapa bulan.

Latihan ini tidak menjanjikan pemulihan total bagi semua orang. Namun sejumlah tinjauan ilmiah menunjukkan sebagian pasien mengalami perbaikan ambang penciuman dan kemampuan membedakan aroma, terutama pada gangguan pascainfeksi.

Di titik ini, pesan pentingnya adalah dua arah. Pertama, hilang penciuman layak dicatat sebagai gejala, bukan ditertawakan sebagai “hidung sedang malas”.

Kedua, penciuman juga bisa diperlakukan sebagai kemampuan yang dapat dilatih, mirip kebugaran yang ditingkatkan lewat latihan. Ini menggeser posisi masyarakat dari pasif menunggu pulih, menjadi aktif mengupayakan perbaikan.

Sudut pandang tajamnya: kita terlalu lama menganggap indera penciuman sebagai indera kelas dua. Padahal, ia menyimpan informasi klinis yang mungkin lebih “jujur” daripada keluhan yang mudah disangkal atau disembunyikan.

Jika hilang penciuman dapat menjadi tanda dini penyakit neurodegeneratif, maka pertanyaannya bukan sekadar “bisakah kita melatihnya?”. Pertanyaan yang lebih menantang adalah mengapa sistem kesehatan belum mempopulerkan skrining penciuman murah sebagai bagian dari pemeriksaan dasar, terutama pada kelompok usia berisiko.

Di ranah publik, narasi tentang otak sering berpusat pada memori dan fokus, sementara penciuman nyaris tak dibahas. Akibatnya, orang baru panik ketika gejala lain muncul, padahal sinyal awal mungkin sudah ada bertahun-tahun sebelumnya.

Namun kehati-hatian tetap diperlukan agar pesan ini tidak berubah menjadi ketakutan massal. Hilang penciuman adalah gejala nonspesifik, sehingga memerlukan evaluasi medis, terutama bila terjadi mendadak, menetap, atau disertai gejala neurologis lain.

Di sinilah latihan penciuman menjadi jembatan yang masuk akal. Ia memberi tindakan praktis yang aman bagi banyak orang, sambil tetap mendorong kesadaran untuk memeriksakan diri bila ada tanda bahaya.

Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang aroma. Ini tentang literasi tubuh, yaitu kemampuan membaca sinyal kecil sebelum menjadi krisis besar.

Kehilangan penciuman bisa menjadi tanda dini penyakit neurodegeneratif, tetapi juga bisa berasal dari sebab yang jauh lebih sederhana. Yang menentukan adalah respons kita, apakah mengabaikan, atau menelusuri dengan tenang dan terukur.

Latihan penciuman menunjukkan bahwa indera ini tidak sepenuhnya “nasib”, melainkan dapat dirawat dan ditingkatkan. Tetapi latihan pun seharusnya tidak menutupi kebutuhan untuk evaluasi medis ketika gejala menetap atau memburuk.

Perenungan akhirnya sederhana: jika tubuh sudah memberi sinyal melalui hidung, mengapa kita menunggu sampai otak berteriak lebih keras? (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)