Literasi Investasi Saham Sejak Dini: UNMER Malang Dorong Financial Freedom
ORBITINDONESIA.COM – Literasi investasi saham sejak dini kembali disorot di Malang, saat UNMER Malang menggelar seminar bertema financial freedom untuk mahasiswa dan publik. Di tengah maraknya investasi ilegal dan pinjol ilegal, ajakan belajar pasar modal secara legal terasa makin mendesak.
Seminar “Financial Freedom Bukan Mimpi: Strategi Investasi Saham Sejak Dini” mempertemukan kampus, otoritas, dan komunitas pasar modal dalam satu ruang edukasi. Kegiatan ini juga disertai penandatanganan MoA dan IA dengan sejumlah program studi untuk memperkuat jembatan akademik–industri.
Deputi Kepala OJK Malang, Frederik Alexander Rompies, menekankan bahwa literasi pasar modal Indonesia masih rendah. Ia mengingatkan bahwa celah pengetahuan itu sering dimanfaatkan oleh pelaku investasi bodong yang menargetkan generasi muda.
Konteks ini relevan karena minat investasi meningkat lebih cepat daripada kemampuan memilah risiko. Di media sosial, narasi “cuan cepat” sering mengalahkan penjelasan tentang profil risiko, legalitas, dan disiplin keuangan.
Materi Cita Mellisa menyorot kelompok usia 18–34 tahun sebagai fase produktif yang rentan tergoda iming-iming hasil instan. Ia menawarkan konsep 3P—Paham, Punya, Pantau—sebagai pintu masuk membangun kebiasaan investasi yang sehat.
Konsep itu tampak sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya: ia memaksa investor pemula berhenti sejenak sebelum menekan tombol “beli”. “Paham” menuntut literasi, “Punya” menuntut kesiapan modal yang wajar, dan “Pantau” menuntut evaluasi berkala.
Bernadus Wijaya memperluasnya dengan kerangka “3M + 1D”: Mindset, Method, Money Management, dan Discipline. Ia menegaskan bahwa pasar modal bukan arena adu keberuntungan, melainkan arena pengambilan keputusan yang berulang dan terukur.
Di titik ini, pesan paling penting justru berada di luar saham itu sendiri, yakni pengelolaan keuangan pribadi. Dana darurat, batas risiko, dan rencana waktu investasi sering menjadi pembeda antara investor yang bertahan dan investor yang panik.
Fenomena FOMO menjadi musuh yang nyata, karena ia mendorong pembelian berdasarkan emosi kolektif, bukan analisis. Disiplin yang disebut Bernadus adalah rem psikologis agar investor tidak memindahkan kebiasaan konsumtif ke dalam portofolio.
Data publik OJK selama beberapa tahun terakhir konsisten menempatkan literasi keuangan sebagai pekerjaan rumah nasional, sementara kanal digital mempercepat penyebaran promosi investasi tanpa verifikasi. Dalam situasi seperti ini, seminar kampus berfungsi sebagai “filter awal” yang memberi bahasa dasar untuk membedakan edukasi dari manipulasi.
Seminar seperti ini patut diapresiasi, tetapi ia tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial yang hanya menghasilkan foto dan sertifikat. Jika tujuan akhirnya adalah financial freedom, maka ukuran keberhasilannya harus berupa perubahan perilaku, bukan sekadar peningkatan antusiasme.
Penandatanganan MoA dan IA memberi sinyal bahwa kampus ingin lebih dekat dengan industri keuangan. Namun sinergi itu perlu dijaga agar tidak berubah menjadi promosi terselubung yang mengaburkan prinsip perlindungan konsumen.
Literasi investasi saham sejak dini juga harus jujur mengakui sisi gelap pasar: volatilitas, kerugian, dan bias psikologis. Narasi positif tetap penting, tetapi narasi yang terlalu manis justru berisiko melahirkan investor rapuh.
Karena itu, pendidikan pasar modal idealnya memasukkan latihan praktis yang realistis, seperti simulasi penurunan portofolio dan evaluasi keputusan. Investor muda perlu belajar bahwa “tidak ikut tren” kadang merupakan keputusan paling rasional.
Jika kampus ingin menjadi benteng terhadap investasi ilegal, maka kurikulumnya harus mengajarkan cara memeriksa legalitas, membaca prospektus, dan memahami konflik kepentingan. Literasi bukan hanya tahu istilah, melainkan mampu berkata “tidak” pada skema yang meragukan.
UNMER Malang melalui Merdeka Investment Day mengirim pesan bahwa financial freedom bukan mitos, tetapi proyek jangka panjang yang menuntut pengetahuan dan disiplin. Di era banjir informasi, kemampuan menyaring lebih berharga daripada keberanian mengambil risiko.
Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah kita berinvestasi untuk membangun masa depan, atau sekadar mengejar sensasi “cuan” sesaat. Jika jawabannya masa depan, maka langkah pertama adalah memahami, mengelola, lalu menahan diri ketika pasar dan media sosial mencoba mengendalikan emosi kita. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)