Perahu Terbalik San Francisco Saat Tabur Abu, 2 Hilang

ORBITINDONESIA.COM – Tragedi perahu terbalik di Teluk San Francisco terjadi saat sebuah keluarga menabur abu jenazah, dan dua orang masih hilang. Perahu kabin 49 kaki bernama Volare tenggelam dengan 20 orang di dalamnya, ketika acara peringatan berubah menjadi kepanikan.

Menurut laporan KSBW 8 dan San Francisco Chronicle, keluarga berkumpul di atas perahu pada Selasa untuk menabur abu seorang perempuan asal Santa Cruz County. Abu itu adalah milik Maria Vi Boisa, yang dilaporkan hilang pada Mei 2015 dan jenazahnya ditemukan dua bulan kemudian dekat Julia Pfeiffer Burns State Park.

Penyebab kematian Maria disebut belum ditentukan, namun San Francisco Chronicle melaporkan ia meninggal setelah mengakhiri hidupnya. Ralph Boisa, ayah angkat Maria, mengatakan Maria mencintai air dan teluk, sehingga keluarga memilih menabur abunya di sana.

Tiga generasi keluarga Boisa hadir untuk mengenang, meski Ralph dan istrinya tinggal di negara bagian Washington dan tidak ikut. Putri mereka, Yvonne Thatcher, datang dari Auburn bersama keluarga untuk menghormati saudara perempuannya, sebagaimana dikutip Chronicle.

Kesaksian yang disampaikan Ralph Boisa menggambarkan betapa cepatnya situasi berubah dari ritual duka menjadi bencana. Dari dek tengah, tempat Thatcher duduk bersama paman dan bibi, perahu disebut terbalik tanpa peringatan.

“Mereka tidak melihat atau mendengar apa pun,” kata Ralph Boisa, mengutip cerita putrinya kepada San Francisco Chronicle. “Mereka duduk, dan tiba-tiba, perahunya terguling.”

Dalam insiden ini, satu korban jiwa dilaporkan meninggal setelah ditarik dari air, yakni Clifford Boisa berusia 79 tahun. Dua orang masih hilang, sementara otoritas menyebut perahu diduga berada di kedalaman sekitar 120 kaki.

Otoritas juga mengonfirmasi satu dari tiga orang yang sempat hilang telah ditemukan dalam kondisi meninggal. Korban diidentifikasi sebagai Tondra Madruga (juga dikenal sebagai Tondra Miller), 58 tahun, dan jasadnya ditemukan Kamis, dua hari setelah kejadian.

Penanganan darurat menunjukkan batas kemampuan penyelamatan di perairan terbuka ketika waktu dan kondisi menjadi lawan utama. Penjaga Pantai AS telah menghentikan upaya penyelamatan, namun polisi setempat masih melanjutkan pencarian.

Tragedi perahu terbalik di Teluk San Francisco ini memperlihatkan ironi yang menyakitkan: laut yang dipilih sebagai tempat perpisahan terakhir justru menjadi lokasi kehilangan baru. Ada pesan keras bahwa momen paling sakral pun tetap tunduk pada risiko teknis, cuaca, dan keselamatan pelayaran.

Fakta bahwa perahu dapat terbalik “tanpa peringatan” menimbulkan pertanyaan publik tentang stabilitas, muatan, prosedur keselamatan, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Saat duka keluarga bertemu dengan realitas laut, yang tersisa bukan hanya kesedihan, tetapi juga kebutuhan transparansi agar tragedi serupa tidak berulang.

Kasus Maria Vi Boisa juga menambah lapisan reflektif tentang kesehatan mental dan cara keluarga memaknai kehilangan jangka panjang. Ketika peringatan untuk seseorang yang diduga meninggal karena bunuh diri berujung kecelakaan fatal, kita diingatkan bahwa duka tidak selesai dalam satu upacara.

Di ujung kisah ini, keluarga Boisa berangkat untuk menutup luka lama, tetapi pulang dengan luka baru yang lebih segar dan lebih keras. Satu orang meninggal, dua orang hilang, dan sebuah perahu tenggelam menjadi simbol betapa rapuhnya rencana manusia di hadapan alam.

Tragedi perahu terbalik di Teluk San Francisco seharusnya mendorong evaluasi keselamatan wisata dan pelayaran rekreasi, terutama saat membawa banyak penumpang dalam kegiatan seremonial. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya “mengapa perahu bisa terbalik,” tetapi juga “apa yang akan kita ubah agar perpisahan tidak lagi berakhir sebagai musibah.”

(Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)