Lonnie Bunch dan Polemik Smithsonian di Era Trump

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Lonnie G. Bunch III, Sekretaris Smithsonian, menyebut lembaganya sebagai “ingatan kolektif Amerika” saat Smithsonian diserang tudingan “ideologi rasial yang memecah-belah”. Di tengah tekanan politik dan ancaman pemotongan dana dari Gedung Putih, ia menegaskan museum harus berani menceritakan sejarah sulit agar publik tidak hidup dalam versi diri yang “tidak lengkap”.

Bunch berjalan di National Air and Space Museum dengan rasa memiliki yang nyaris personal. Ia menyebut Wright Brothers’ Flyer 1903 sebagai simbol kreativitas, dan tertawa saat mengingat replika di Kitty Hawk: “Yang asli ada di sini.”

Kariernya memang berangkat dari museum itu hampir 50 tahun lalu, ketika Michael Collins, astronot Apollo 11, merekrutnya sebagai sejarawan muda. Bunch mengatakan Collins melihat “gairah”, dan ia sendiri mengakui belum tahu akan menjadi apa, tetapi ia mencintai sejarah.

Pada 2019, Bunch mencetak sejarah sebagai sejarawan pertama dan Afrika-Amerika pertama yang memimpin Smithsonian dalam 180 tahun. Saat pelantikan, ia menyinggung Frederick Douglass, seolah berkata kini Douglass “berbicara” di ruang yang dulu menutup suaranya.

Baginya, menceritakan kisah yang menyakitkan bukan pilihan estetika, melainkan kewajiban etis. Ia mengibaratkan sejarah seperti hasil pemeriksaan dokter: jika hanya mau tahu “setengahnya”, identitas bangsa menjadi timpang.

Konflik memuncak ketika pada Maret 2025 Presiden Donald Trump meneken perintah eksekutif yang mengecam Smithsonian karena “ideologi yang memecah-belah dan berpusat pada ras”. Perintah itu juga mengancam pemotongan pendanaan, sementara Trump mengulang kritiknya di media sosial pada 19 Agustus 2025.

Serangan berikutnya datang pada 4 Juli lewat laporan 162 halaman yang menarget National Museum of American History. Laporan itu bahkan mengusulkan label peringatan di setiap pintu masuk: pameran dibuat oleh orang-orang yang “tidak ingin Anda mencintai negara Anda.”

Terjemahan inti artikel sumber menunjukkan garis konflik yang jelas: siapa yang berhak mendefinisikan patriotisme melalui museum. Bunch menolak premis bahwa kritik sejarah sama dengan kebencian pada negara, dan ia menyebut banyak pertanyaan kompleks dipaksa jadi jawaban sederhana.

Trump menuduh museum “di luar kendali” dan hanya membahas betapa “mengerikannya” Amerika serta betapa buruknya perbudakan. Bunch justru melihat narasi semacam itu sebagai upaya memindahkan fokus dari totalitas sejarah menuju seleksi yang menenangkan.

Laporan 162 halaman itu menuding museum kurang menghormati para Founding Fathers. Bunch membantah, menyatakan kisah mereka ada, meski bisa diperluas, dan ia menilai tuduhan “tidak ada cinta” pada pendiri bangsa sebagai klaim yang keliru.

Di sini, pertarungan sebenarnya bukan sekadar panel pameran, melainkan otoritas atas memori publik. Smithsonian mengelola 20 museum dan National Zoo, sehingga perubahan narasi di dalamnya berpengaruh langsung pada cara jutaan pengunjung memahami Amerika.

Bunch menyebut museum sebagai pendongeng terbaik di Amerika, dan pernyataan itu relevan dalam era polarisasi. Museum tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga menyusun urutan sebab-akibat, memilih kata, dan menentukan apa yang dianggap “layak diingat.”

Ketika Gedung Putih menekan dengan ancaman dana, kurasi dapat berubah dari kerja ilmiah menjadi proyek kepatuhan. Risiko paling nyata adalah “self-censorship”, yakni kurator menghindari topik sensitif demi mengurangi serangan politik.

Bunch mengaku pensiunnya tidak didorong tekanan, bahkan ia bertahan lebih lama karena tantangan itu. Ia menolak karikatur bahwa Smithsonian dikuasai “radikal kiri” yang ingin menghancurkan Amerika, dan ia menempatkan dirinya sebagai pelindung institusi sekaligus pelindung sejarah.

Landasan moralnya terlihat saat ia menegaskan, “Anda bisa lari dari sejarah, tetapi Anda tidak bisa bersembunyi.” Ia juga mengaitkan patriotismenya dengan latar keluarga, sebagai anak veteran Perang Dunia II yang tumbuh dengan parade Memorial Day.

Jejak paling kuat dari filosofi itu adalah National Museum of African American History and Culture, yang dibuka 10 tahun lalu dan dipuji luas. Bunch, sebagai direktur pendiri, menyebutnya karya terpentingnya karena museum itu berkata: “Ini kisah kita semua, perjalanan sebuah bangsa.”

Polemik Smithsonian menunjukkan bagaimana “cinta negara” kerap dipakai sebagai alat uji loyalitas, bukan sebagai dorongan memahami kenyataan. Jika patriotisme hanya berarti memajang kemenangan dan menutup luka, maka ia berubah menjadi propaganda yang rapuh.

Usulan label peringatan di pintu museum adalah simbol politik yang berbahaya, karena mengajari pengunjung untuk curiga pada pengetahuan sebelum melihat bukti. Ini bukan debat akademik, melainkan strategi delegitimasi: jika kurator dianggap anti-Amerika, maka fakta apa pun bisa ditolak.

Di titik ini, Bunch menawarkan definisi yang lebih dewasa: mencintai negara sambil menatap keseluruhan sejarahnya. Sejarah perbudakan, rasisme, dan konflik bukan noda yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari sebab mengapa demokrasi perlu terus diperbaiki.

Kritik bahwa Founding Fathers kurang dihormati juga menyimpan jebakan, karena “penghormatan” sering dimaknai sebagai pemutihan. Menghormati pendiri bangsa tidak harus berarti membekukan mereka sebagai ikon tanpa kontradiksi, melainkan memahami konteks dan dampaknya secara jujur.

Smithsonian berada di garis depan perang budaya, tetapi ia juga memegang peluang langka untuk menurunkan tensi. Museum dapat mengubah pertengkaran menjadi pembelajaran, asalkan tidak tunduk pada tuntutan untuk menyederhanakan masa lalu menjadi slogan.

Bunch mengatakan Smithsonian adalah “ingatan kolektif Amerika”, dan bangsa yang lupa akan mudah dipimpin oleh ketakutan. Jika museum dipaksa hanya menampilkan setengah kebenaran, publik akan mewarisi identitas yang cacat, dan demokrasi kehilangan kompas moralnya.

Pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang akan menggantikan Bunch, meski ia menyindir pemimpin baru harus cukup berani “menyalahkan saya” saat keadaan sulit. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah Amerika mau melihat dirinya utuh, atau memilih cermin yang hanya memantulkan bagian yang nyaman. (Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2026)