Retret Literasi Keuangan Wems BO: Ubah Mindset, Bukan Cuma Anggaran
ORBITINDONESIA.COM – Retret literasi keuangan Wems BO Personal Finance Retreat 1.0 di Lagos menjual janji yang jarang diucapkan keras-keras: masalah uang sering bukan semata kurang penghasilan, melainkan budaya dan mindset uang. Wems BO menegaskan, “lack is primarily not always the reason people have bad finances, but often, money culture is.”
Di ruang publik, literasi keuangan kerap dipersempit menjadi rumus 50/30/20, daftar pengeluaran, dan target tabungan. Namun banyak orang tetap terjebak siklus “gajian-habis” karena keputusan finansial dipandu kebiasaan lama, tekanan sosial, dan motivasi yang tak disadari.
Di titik inilah retret akhir pekan seperti Wems BO Personal Finance Retreat 1.0 mencoba mengambil celah. Ia menawarkan format interaktif, permainan, jejaring, workbook, dan sesi coaching satu lawan satu, bukan kuliah satu arah.
Acara ini dijadwalkan 17–18 Juli 2026 di Lagos Mainland, dengan harga tiket N40.000 untuk individu dan N76.000 untuk duo. Penyelenggara juga menambahkan insentif “tiga bulan akses replay”, yang menandai upaya memperpanjang efek belajar di luar dua hari acara.
Secara desain, retret ini memindahkan fokus dari “apa yang harus dilakukan” ke “mengapa saya mengambil keputusan itu.” Wems BO menyebut akar persoalan ada pada “mindset, defaults and motivations shaping decisions,” sehingga solusi dimulai dari “inner inquiring” sebelum menyusun rencana aksi.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan riset perilaku yang menekankan bahwa pengetahuan saja tidak otomatis mengubah tindakan. Dalam literatur ekonomi perilaku, bias seperti present bias, mental accounting, dan social proof sering membuat orang mengabaikan rencana yang sudah mereka pahami secara rasional.
Keunggulan retret adalah pengalaman yang imersif dan akuntabilitas yang lebih kuat dibanding kelas daring pasif. Sesi coaching privat berpotensi mengurai pola belanja, utang, dan tujuan hidup peserta secara personal, lalu menerjemahkannya menjadi sistem kebiasaan yang realistis.
Namun ada juga risiko yang perlu dibaca jernih. Produk literasi keuangan mudah tergelincir menjadi “event yang terasa menyembuhkan” tetapi miskin tindak lanjut, apalagi jika peserta pulang tanpa mekanisme kontrol, pengukuran, dan komunitas yang menjaga disiplin.
Harga tiket yang relatif terjangkau untuk kelas menengah kota besar tetap bisa menjadi penghalang bagi pekerja informal dan kelompok rentan. Di sisi lain, model duo ticket memberi sinyal bahwa perubahan finansial lebih mudah jika dilakukan berpasangan, karena keputusan uang sering bersifat rumah tangga.
Retret ini juga menantang narasi populer bahwa solusi finansial selalu berupa tambahan penghasilan. Tambahan penghasilan penting, tetapi tanpa perubahan budaya uang, kenaikan pemasukan sering hanya memperbesar gaya hidup dan mempercepat kebocoran.
Yang menarik dari retret literasi keuangan Wems BO adalah keberaniannya menempatkan “money culture” sebagai tersangka utama. Ia menggeser pembicaraan dari teknik menyusun anggaran ke pembongkaran identitas, nilai, dan dorongan psikologis yang diam-diam mengendalikan dompet.
Tetapi pendekatan mindset tidak boleh berubah menjadi pengabaian faktor struktural. Inflasi, biaya hidup kota besar, dan ketidakpastian kerja tetap nyata, sehingga retret idealnya juga membekali strategi proteksi risiko, dana darurat, dan disiplin utang yang terukur.
Jika format interaktif benar-benar menghasilkan “practical and concrete action plan,” maka ia bisa menjadi model edukasi yang lebih manusiawi. Pendidikan finansial yang baik bukan membuat orang hafal istilah, tetapi membuat mereka mampu menolak godaan, menunda kepuasan, dan memegang kendali atas pilihan hidup.
Retret literasi keuangan Wems BO Personal Finance Retreat 1.0 menawarkan satu pesan yang tajam: uang mengikuti kebiasaan, dan kebiasaan mengikuti cara kita memaknai diri. Di tengah budaya pamer dan konsumsi cepat, ajakan untuk bertanya “mengapa saya melakukan ini” terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit.
Pertanyaannya kemudian, setelah dua hari pulang dari venue, apa yang tetap tinggal di tangan peserta selain workbook dan souvenir. Jika yang tertinggal adalah sistem keputusan yang baru, maka retret ini bukan sekadar acara, melainkan titik balik yang pelan-pelan mengubah hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juli 2026)