Disebut Penyumbang Polusi Udara Terbesar, Berikut 16 PLTU Batubara yang Mengelilingi Jakarta dan Sekitarnya
- Penulis : Dimas Anugerah Wicaksono
- Minggu, 20 Agustus 2023 11:58 WIB
ORBITINDONESIA.COM- Polusi udara di Jakarta sedang hangat diperbincangkan di Indonesia bahkan menjadi sorotan dunia yang banyak diberitakan oleh media asing.
Jakarta kini dijuluki sebagai kota paling tercemar di dunia karena dinilai memiliki polusi udara yang sangat tinggi menurut perusahaan teknologi kualitas udara Swiss, IQAir.
Banyak orang beranggapan bahwa polusi udara parah yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh tingginya emisi karbon yang dihasilkan dari PLTU batubara di sekitar Jakarta.
Baca Juga: HUT ke 78 RI, BRI Gelar BRILiaence Week 2023 dan Gelar Bazar hingga Bagikan Beasiswa
Banyaknya kendaraan bermotor yang menjadikan Jakarta macet setiap harinya juga menjadi pemicu dari buruknya kualitas udara di pusat kota ini.
Namun akhir-akhir ini polusi dari PLTU batubara di sekitar Jakarta pun ikut disalahkan karena diduga menjadi penyumbang sebagian besar pencemaran selain kendaraan bermotor.
Lalu, PLTU batubara mana sajakah yang menyumbang emisi karbon sehingga udara di Jakarta menjadi begitu tercemar?
Berikut 16 PLTU batubara yang berada di Jakarta dan sekitarnya yang diduga menjadi penyebab tingginya polusi udara di ibukota:
-
PLTU Banten Suralaya: 8 unit - 4.025 MW
-
PLTU Cemido Gemilang: 1 unit - 60 MW
-
PLTU Pelabuhan Ratu: 3 unit -1.050 MW
-
PLTU Merak: 2 unit 120 MW
-
PLTU Cilegon PTIP: 1 unit - 40 MW
-
PLTU Jawa-7: 2 unit - 1.982 MW
-
PLTU Banten Labuan: 2 unit - 600 MW
-
PLTU DSS Serang: 4 unit - 175 MW
-
PLTU Banten Lontar: 3 unit -945 MW
-
PLTU Cikarang Babelan: 2 unit 280 MW
-
PLTU FAJAR: 1 unit - 55 MW
-
PLTU Pindo-Deli II: 1 unit - 50 MW
-
PLTU Indo Bharat Rayon: 1 unit - 36.6 MW
-
PLTU Purwakarta Indorama: 2 unit - 60 MW
-
PLTU Banten Serang: 1 unit - 660 MW
-
PLTU Bandung Indosyntec: 1 unit - 30 MW
Dari ke-16 PLTU di atas, PLTU Suralaya dan Jawa-7 yang juga berada di Serang, Banten merupakan PLTU raksasa dari segi kapasitasnya.
Kedua unit PLTU inilah yang kemudian menyumbang emisi karbon terbesar dan mencemari udara di lingkungan sekitarnya termasuk Jakarta.
Semua PLTU yang berbahan bakar batubara memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan sekitar karena menghasilkan emisi karbon yang tak sedikit.
Baca Juga: Beda Orang Kaya dan Orang Biasa tentang Beberapa Aliran Pendapatan
Solusi untuk permasalahan ini pun cukup berat dimana batubara memiliki pasokan yang lebih murah dan terjamin dibandingkan dengan bahan bakar lainnya.
Bisa saja PLTU ini diubah menggunakan tenaga gas yang lebih ramah lingkungan, namun pasokan gas tidak seperti batubara yang dapat dengan mudah diangkut.
PLTU Suralaya sendiri merupakan tulang punggung listrik yang ada di Jakarta, sehingga jika kita menyalahkan PLTU batubara satu ini dan pembangkitnya dimatikan, Jakarta bisa menjadi gelap gulita di malam hari.
Sejak dulu, emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batubara untuk pembangkit listrik sangatlah besar.
Polutan yang tinggi ini pun akhirnya menghasilkan polusi udara yang cukup tinggi dan merusak kualitas udara di lingkungan sekitarnya.
Polusi inilah yang kemudian menyebabkan tak sedikit warga Jakarta yang mengalami infeksi saluran pernafasan hingga asma bahkan yang paling parah terjangkit penyakit paru akut.
Meski menjadi penyumbang sebagian besar polusi udara di Jakarta, bukan berarti kendaraan bermotor tidak menyumbang sebagian besar lainnya atas polusi udara yang terjadi.
Baca Juga: KAWS: HOLIDAY Hadir di Candi Prambanan Yogyakarta Pengunjung Boleh Berfoto
Untuk itu, langkah pemerintah harus mulai tegas dari sekarang agar masalah pencemaran di Jakarta dapat segera ditangani.
Selain itu, kesadaran masyarakat pun harus lebih ditingkatkan karena kita juga harus sama-sama saling membantu mengurangi pencemaran lingkungan mulai dari diri sendiri.
Dengan tindakan kecil yang dilakukan setiap orang, tentunya akan membantu merubah lingkungan sekitar kita sekecil apapun itu tapi akan terasa jika kita konsisten melakukannya sambil mengajak orang-orang di sekitar kita.***