DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Pertarungan Isu Ekonomi Paling Ditunggu di Pilpres 2024

image
Inilah analisis medan pertarungan Pilpres 2024.

 

Oleh LSI DENNY JA?29 Mei 2023

ORBITNDONESIA.COM - Dalam empat area pertarungan pilpres 2024: Isu ekonomi, dukungan pemilih partai, teritori di lima provinsi terbesar dan pemilik akun media sosial, Prabowo, Ganjar dan Anies saling mengalahkan.

Anies menang di segmen pemilih  pemilik akun Twitter. Ganjar menang untuk citra kedekatan dengan media. Prabowo menang di isu membangkitkan ekonomi.

Tapi Probowo lebih diuntungkan dibandingkan capres lain. Itu karena tiga tahun pandemik, membuat isu ekonomi semakin dianggap paling penting oleh mayoritas pemilih.

Baca Juga: PDIP dan PPP Muai Bahas Kerangka Bangun Tim Pemenangan Ganjar Pranowo Berbasis Nasionalis Islam

Baca Juga: Survei LSI Denny JA: Elektabilitas Prabowo Tertinggi, Anies…

Baca Juga: Survei LSI: Elektabilitas Prabowo dan Ganjar Beda Tipis, Anies Tertinggal

Demikian temuan penting, dari hasil riset terbaru LSI Denny JA pada bulan Mei 2023. LSI Denny JA melakukan survei tatap muka (face to face interview) dengan menggunakan kuesioner kepada 1.200 responden di seluruh Indonesia.

Dengan 1200 responden, margin of error survei ini sebesar 2.9 persen. Survei dilakukan pada tanggal 3-14 Mei 2023.

Selain survei dengan metode kuantitatif, LSI Denny JA juga memperkaya informasi dan analisa dengan metode kualitatif, seperti analisis media, in-depth interview, expert judgement dan focus group discussion. 

***

Bagian 1: Pandemi Membuat Isu Ekonomi Semakin Penting 

Sebelum pandemi (survei LSI Denny JA, September 2019), pemilih yang menyatakan isu ekonomi sebagai hal yang paling penting sebesar 42.3 persen.

Isu hukum sebagai hal paling penting oleh pemilih sebesar 14.5 persen. Isu politik sebagai hal paling penting sebesar 11.7 persen. Isu budaya sebagai hal paling penting sebesar 8.6 persen. Isu hubungan international sebagai hal paling penting sebesar 5.7 persen.

Setelah pandemi (Survei LSI Denny JA, Mei 2023), pemilih yang menyatakan isu ekonomi sebagai hal yang paling penting, meningkat sebesar 64.7 persen.

Isu hukum sebagai hal paling penting sebesar 10.7 persen. Isu politik sebagai hal paling penting sebesar 8.2 persen. Isu budaya sebagai hal paling penting sebesar 5.3 persen. Isu hubungan international sebagai hal paling penting sebesar 3.1 persen.

Pentingnya isu ekonomi akibat covid-19, naik dari 42.3 persen (September 2019), ke-64.7 persen (Mei 2023). Terdapat kenaikan 22.4 persen.

Tiga tahun Covid-19 membuat publik tidak puas di tiga isu. Kepuasan terhadap tiga isu ini dibawah 50 persen.

Pertama, ketidakpuasan terhadap pembukaan lapangan pekerjaan.

Kepuasan publik terhadap pembukaan lapangan pekerjaan sebesar hanya 38.1 prsen.

Kedua, isu mengurangi kemiskinan. Kepuasan pubik terhadap isu mengurangi kemiskinan sebesar 43.5 persen.

Ketiga, kesejahteraan petani, buruh dan nelayan. Kepuasan publik terhadap kesejahteraan petani, buruh, nelayan sebesar 44.6 persen.

Seberapa penting isu pemimpin yang kuat (strong leader) untuk menumbuhkan ekonomi? Setelah pandemi, kebutuhan strong leader untuk menumbuhkan ekonomi tinggi sekali mencapai 85.6 persen.

Pemilih yang menyatakan biasa saja terhadap pentingnya strong leader untuk menumbuhkan ekonomi sebesar 10.1 persen. Pemilih yang menyatakan tidak penting terhadap strong leader untuk menumbuhkan ekonomi, kecil sekali hanya 2.1 persen.

Di antara tiga capres, Prabowo Subianto merupakan capres yang lebih mengesankan strong leader yang menumbuhkan ekonomi.

Prabowo berada di urutan pertama dengan 56.2 persen. Diikuti oleh Anies Baswedan dengan 18.7 persen, dan Ganjar Pranowo diangka 14.8 persen. Ganjar diurutan ketiga untuk isu strong leader yang menumbuhkan ekonomi.

Data juga menunjukkan, untuk populasi umum, Prabowo bersaing ketat dengan Ganjar. Elektabilitas Prabowo 33.9 persen. Ganjar 31.9 persen. Anies 20.8 persen.

Jika dibandingkan dengan populasi umum, selisih perolehan dukungan Prabowo dan Ganjar hanya sebesar 2 persen. Tetapi dalam isu strong leader yang mampu menumbuhkan ekonomi selisihnya sebesar 46,1 persen.

Semakin isu strong leader tumbuhkan ekonomi meluas, semakin Prabowo menjulang, semakin Ganjar menurun.

Tetapi, untuk isu kedekatan dengan media, Ganjar nomor satu. Perolehan Ganjar dalam isu kedekatan dengan media sebesar 36.4 persen, diikuti oleh Prabowo dengan 28.3 persen, dan Anies dengan 25.1 persen.

Mengapa Ganjar menjadi nomor tiga, tetapi Prabowo semakin menjulang untuk isu strong leader yang tumbuhkan ekonomi? Argumen yang muncul dalam riset kualitatif mengemuka beberapa hal.

Pertama, petugas partai versus pendiri/ketua umum partai. Istilah petugas partai melemahkan figur Ganjar dihadapan Prabowo yang merupakan pendiri dan ketua umum partai.

Petugas partai tidak mengesankan strong leader, pemimpin yang mandiri, pengendali partai, apalagi pengendali pemerintah/elit negara. 

Kedua, rekam jejak kepemimpinan Ganjar di Jawa Tengah. Jika memimpin satu provinsi saja, Jawa Tengah, Ganjar dinilai gagal soal isu kemiskinan, bagaimana memimpin 38 provinsi?

Ketiga, rekam jejak dibandingkan dengan capres lain, Prabowo terkesan pemimpin yang diterima di spektrum politik yang lebih luas, untuk kuat memulai kebangkitan ekonomi.

Jika Ganjar di garis Nasionalis, Anies di kubu politik Islam, Prabowo berada di poros tengah. Posisi politik ini memudahkan Prabowo membangun kerjasama dengan spektrum politik yang lebih luas.

Keempat, rekam jejak cita-cita Prabowo soal ekonomi Indonesia menjadi macan asia sudah dikenal luas sejak pilpres 2014, 9 tahun yang lalu.

Prabowo dianggap sudah lebih lama dan intens tenggelam dalam cita cita membangkitkan ekonomi Indonesia untuk lebih menonjol di tingkat dunia.

Kelima, rekam jejak sejak pilpres sebelumnya (2014), prabowo sudah dikenal mempopulerkan mengangkat ekonomi rakyat.

Jenis ekonomi yang mewarnai pemikiran Prabowo dikenal lebih berwarna kerakyatan, ekonomi yang banyak perhatian kepada mereka yang tertinggal.

Keenam, rekam jejak ekonomi Anies di Jakarta belum diketahui secara luas oleh pemilih Indonesia. Ini yang membuat Anies Baswedan belum menonjol soal ekonomi.

-000-

Bagian 2: Pertarungan Teritori di lima provinsi terbesar (57.6 persen populasi). 

Lima provinsi terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Banten. Jumlah pemilih di lima provinsi terbesar ini populasinya mencapai 57.6 persen dari populasi nasional.

Jawa Barat, saat ini yang unggul adalah Prabowo dengan perolehan 29 persen, diikuti Anies dengan perolehan 26.3 persen, dan Ganjar dengan 15 persen.

Jawa Timur, saat ini yang unggul adalah Ganjar dengan perolehan 35.3 persen, diikuti oleh Prabowo dengan perolehan 20.2 persen, dan Anies dengan perolehan 8.2 persen.

Jawa Tengah, saat ini yang teratas adalah Ganjar dengan perolehan 55.2 persen, diikuti Prabowo dengan perolehan 20.4 persen, dan Anies dengan perolehan 4.3 persen.

Sumatra Utara, saat ini yang menang adalah Prabowo dengan perolehan 50,0 persen, diikuti oleh Anies dengan perolehan 32.6 persen, dan Ganjar dengan perolehan 16.2 persen.

Banten, yang merupakan provinsi terbesar ke-lima, saat ini unggul Prabowo dengan perolehan 48.2 persen diikuti oleh Anies dengan perolehan 17.5 persen, dan Ganjar dengan perolehan 17.5 persen.

Prabowo menang di 3 provinsi terbesar (Jawa Barat, Sumut, Banten) Ganjar menang di 2 provinsi terbesar (Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Teritori Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi lumbung suara Ganjar. Di dua provinsi ini Ganjar mendapat dukungan terbesar.

Namun dominasi Ganjar di Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa tergerus. Ini akan terjadi jika di dua provinsi terbesar itu menjadi pertarungan relawan Jokowi pro Prabowo vs relawan Jokowi pro Ganjar.

-000-

Bagian 3: Pertarungan di pendukung Partai 

Di pemilih PDIP, Ganjar mendapat dukungan tertinggi sebesar 69.7 persen. Diikuti Prabowo dengan dukungan 19.4 persen, dan Anies dengan dukungan 5 persen.

Di pemilih Gerindra, Prabowo mendapat dukungan tertinggi sebesar 81.3 persen. Diikuti Anies dengan dukungan 10 persen, dan Ganjar dengan dukungan 7.3 persen.

Di pemilih Golkar, Prabowo mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 55.4 persen. Diikuti Anies dengan dukungan 17.5 persen, dan Ganjar dengan dukungan 14.3 persen.

Di pemilih PKB, Prabowo mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 46.2 persen. Diikuti Anies dengan dukungan 32.7 persen dan Ganjar dengan dukungan 20.4 persen.

Di pemilih PKS, Anies mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 60.7 persen. Diikuti Prabowo dengan dukungan 18.8 persen, dan Ganjar dengan dukungan 15.6 persen.

Di pemilih Nasdem, Anies mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 58.5 persen. Diikuti Ganjar dengan dukungan 17.5 persen, dan Prabowo dengan dukungan 10.7 persen.

Di pemilih PAN, Anies mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 48.1 peren. Diikuti oleh Ganjar 28.3 persen, dan Prabowo 23.3 persen.

Di pemilih PPP, Prabowo mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 48.4 persen. Diikuti Ganjar 28.7 persen, dan Anies 20.8 persen.

Di pemilih Demokrat, Anies mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 40.8 persen. Diikuti oleh Prabowo 20.1 persen, dan Ganjar 15.5 persen.

Prabowo menang di partai Gerindra, Golkar, PKB, dan PPP.

Militansi pemilih Partai Gerindra kepada Prabowo lebih tinggi dibanding militansi pemilih PDIP ke Ganjar, dan militansi pemilih Nasdem ke Anies.

Pemilih Gerindra ke Prabowo sebesar 81.3 persen.  Pemilih PDIP ke Ganjar sebesar 69.7 persen. Sedangkan pemilih Nasdem ke Anies sebesar 58.5 persen.

-000-

Bagian 4: Pertarungan di Media Sosial 

Di pemilih yang mempunyai akun facebook, Prabowo mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 32.2 persen. Diikuti oleh Ganjar dengan dukungan 30.5 persen, dan Anies dengan dukungan sebesar 27.8 persen. Prabowo menang di pemilik Facebook.

Di pemilih yang mempunyai email, Prabowo mendapat dukungan tertinggi sebesar 31.0 persen. Diikuti oleh Anies dengan dukungan 30.7 persen, dan Ganjar dengan dukungan sebesar 29.0 persen. Prabowo menang di segmen pengguna email.

Di pemilih yang mempunyai akun Instagram, Ganjar mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 34.7 persen. Diikuti oleh Prabowo dengan dukungan sebesar 30.5 persen, dan Anies dengan dukungan sebesar 28.7 persen. Ganjar menang di segmen pengguna Instagram.

Di pemilih yang mempunyai akun Tiktok, Ganjar mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 33.1 persen, diikuti Prabowo dengan dukungan sebesar 29.8 persen, dan Anies dengan dukungan sebesar 25.9 persen. Ganjar menang di Tiktok.

Di pemilih yang mempunyai akun Twitter, Anies mendapatkan dukungan tertinggi sebesar 39.1 persen. Diikuti Ganjar dengan dukungan sebesar 32 persen, dan Prabowo dengan dukungan sebesar 27.2 persen. Anies menang di pemilik akun Twitter.

Prabowo menang di Facebook dan Email. Ganjar menang di Instagram dan Tiktok. Anies menang di Twitter.

Twitter lebih banyak diminati kalangan terpelajar. Anies lebih unggul di segmen ini.

-000-

Bagian 5: Cawapres dalam Isu Ekonomi 

Tiga dari delapan cawapres potensial punya jejak ekonomi, yaitu: Airlangga Hartarto, Erick Thohir, dan Sandiaga S Uno. Mereka ketiganya adalah cawapres dengan pengalaman pemerintahan yang berhubungan dengan ekonomi juga pengusaha.

Lima cawapres lain tak ada jejak kemampuan ekonomi, yaitu :Mahfud MD, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Muhaimin Iskandar, Khofifah Indar Parawansa, dan Said Aqil Siradj. Lima cawapres ini tak berhubungan langsung dengan ekonomi.

Keunggulan Airlangga Hartarto dibanding Erick Thohir dan Sandiaga Uno, disamping pengalaman pemerintahan dan pengusaha, Airlangga Hartarto juga merupakan ketua umum partai terbesar kedua.

Ketika pertarungan isu ekonomi yang paling ditunggu oleh pemilih, cawapres yang memiliki pengalaman dengan isu ekonomi lebih diuntungkan.

-000-

Kesimpulan: 

Ada sembilan kesimpulan dari rilis LSI Denny JA kali ini.

Pertama, setelah pandemi, pentingnya isu “strong leader untuk tumbuhkan ekonomi” semakin tinggi.

Kedua, Ganjar Pranowo yang bersaing dengan Prabowo untuk populasi umum. Tapi di segmen masyarakat yang mendambakan “isu strong leader tumbuhkan ekonomi,” posisi Ganjar merosot ke nomor 3. Sebaliknya untuk isu “kedekatan dengan media,” posisi Ganjar naik ke nomor satu.

Ketiga, istilah petugas partai melemahkan Ganjar, membuat kesan ia bukan pemimpin pengendali tetapi hanya boneka dari ketua umum partainya.

Keempat, persentase orang miskin di Jawa Tengah, yang di atas persentase kemiskinan di Indonesia, juga melemahkan kesan dan citra Ganjar untuk mampu menumbuhkan ekonomi Indonesia jika ia menjadi presiden.

Kelima, di lima provinsi dengan populasi terbesar, Prabowo menang di tiga provinsi (Jawa Barat, Sumatra Utara, Banten). Ganjar menang di dua provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Keenam, Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa menjadi provinsi pertarungan sengit antara relawan Jokowi pro Prabowo versus relawan Jokowi pro Ganjar.

Ketujuh, militansi pemilih Gerindra ke Prabowo di atas 80 persen, lebih tinggi daripada militansi pemilih PDIP ke Ganjar di bawah 70 persen, dan pemilih Nasdem ke Anies di bawah 60 persen. 

Kedelapan, Prabowo unggul di pengguna Facebook dan email. Ganjar unggul di penggunan Instagram dan Tiktok. Anies unggul di pengguna Twitter. 

Kesembilan, Cawapres yang memiliki pengalaman dunia ekonomi, pemerintahan, dan juga pengusaha adalah Airlangga Hartarto, Erick Thohir, dan Sandiaga Uno.

Airlangga memiliki sumberdaya tambahan karena ia juga ketua umum partai besar.

Pilpres masih delapan bulan lagi. Dukungan kepada capres masih mungkin naik dan turun.

Namun tiga tahun pandemik membuat isu kebangkitan ekonomi dengan pemimpin yang kuat semakin dibutuhkan. Isu ini menguntungkan Prabowo.***

-000-

Untuk data lebih detail, dapat dilihat melalui link:

https://drive.google.com/file/d/1FdKpPCEZJXe8EucZY5t4xwJjT9G861gK/view?usp=drivesdk

Berita Terkait