Ubedilah Badrun: Lonceng Kematian Moral
- Penulis : Dimas Anugerah Wicaksono
- Jumat, 19 Mei 2023 03:09 WIB

Baca Juga: Iyyas Subiakto: Johnny G Plate Itu Teman Akrab Riza Chalid, Pialang BBM yang Mendukung Petral
Data KPK menunjukan 60 persen koruptor adalah politisi. Parahnya hanya di republik ini mantan koruptor boleh jadi anggota DPR lagi karena Undang - Undangnya membolehkan. Maka tidak heran mantan koruptor lantang berkhutbah tentang moralitas.
Tindak Pidana Pencucian uang (TPPU) ternyata juga parah terjadi di republik ini. Tidak tanggung-tanggung skandal TPPU itu angkanya mencapai Rp.349 Triliun.
Aparat penegak hukum juga terlibat dalam berbagai kejahatan, suatu keadaan yang sangat menyedihkan karena imoralitas merasuki di hampir semua lini entitas.
Dalam tradisi etika klasik Yunani Kuno, era Aristoteles (350 SM) meyakini bahwa nalar dapat menggerakkan tindakan moral. Pengetahuan tentang yang baik dan buruk mendorong manusia untuk membiasakan diri melaksanakan apa yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk.
Baca Juga: Puluhan Perusahaan di Tangerang Buka Lowongan Pekerjaan Mei Ini, Cek Persyaratannya di Sini
Maknanya, nalar manusia seharusnya mampu menggerakan tindakan moral. Jika realitas elit republik ini moralitasnya telah begitu rusak, berarti memang mungkin ada benarnya jika disebut elit bangsa ini kini telah berubah menjadi kumpulan para binatang.
Sebab pembeda antara manusia dengan binatang adalah pada nalar rasionalnya.
Moral republik ini betul-betul semakin rusak. Dengungan keras Lonceng kematian moral telah berbunyi! Lalu apakah kita semua terus membiarkan ini terjadi ?
Oleh: Ubedilah Badrun, Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ). ***