DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Stabilitas dan Perdamaian Menjadi Syarat Mutlak Wujudkan Sentralitas ASEAN

image
Presiden Joko Widodo meninjau persiapan KTT ke-42 ASEAN di Labuan Bajo, NTT.

ORBITINDONESIA.COM - Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN Kemenlu RI, Berlianto Situngkir mengatakan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ingin menegaskan kembali arti penting dan relevansi ASEAN bagi masyarakat di kawasannya. 

Maka dari itu, stabilitas dan perdamaian menjadi syarat utama dalam rangka mewujudkan sentralitas ASEAN.

"Pada keketuaan kita ini (Indonesia), stabilitas dan perdamaian di kawasan itu menjadi syarat mutlak bagi terciptanya sentralitas di ASEAN," kata Berlianto dalam diskusi daring Forum Merdeka Barat bertajuk “Menjaga Stabilitas Ekonomi dan Netralitas ASEAN,” Rabu, 3 Mei 2023.

Baca Juga: Evaluasi Program: Truk AMDK Dibatasi, Pedagang Air Galon di Jabodetabek Sempat Kekurangan Stok

Dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di ASEAN, kolaborasi antar negara dan sektor sangat penting. Semua pihak harus bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam sektor ekonomi Berlianto menyebut, membutuhkan empat elemen utama, yaitu; arsitektur kesehatan yang kuat, ketahanan pangan, ketahanan energi menuju transisi ekonomi bersih dan terbarukan, serta stabilitas keuangan di kawasan untuk mengantisipasi guncangan eksternal.

“Untuk mendukung tema ‘Epicentrum of Growth’, ASEAN perlu memperkuat keberadaannya dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan, bukan hanya di ASEAN saja, melainkan juga di kawasan Indo-Pasifik,” pungkasnya.

Dari sisi ekonomi, lebih lanjut Berlianto menyampaikan, ASEAN merupakan kekuatan kelima dunia setelah Amerika Serikat, China, Jepang dan Jerman.  Hal ini juga didukung dengan jumlah penduduk yang sangat besar.

Baca Juga: Percakapan Bung Karno dan Presiden Yugoslavia Tito Tentang Nasib Bangsa Sesudah Mereka Meninggal

"Total GDP kita sekitar 3,3 triliun USD. Ditambah kita memiliki SDM atau penduduk yang sangat besar lebih dari 650 juta jiwa atau nomor tiga setelah China, India lalu ASEAN," kata Berlianto.

Keketuaan Indonesia dalam KKT ASEAN 2023 dengan tema 'Asean Matters Epicentrum Of Growth' ini juga membawa dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Untuk mencapai hal ini, ada dua poin penting yang sedang dinegosiasikan untuk dielaborasi, yaitu; ASEAN Leadership Relation on Developing Electrical Ecosystem. Kedua ASEAN Leadership Relation on Regional Payment Conectivity and Local Currency Transaction Mechanism.

Sejauh ini, lanjut Berlianto, telah dilakukan sejumlah pertemuan rutin menyongsong KTT ASEAN yang melibatkan tokoh-tokoh sentral dari negara kawasan ASEAN.

Baca Juga: Pelatih Bali United Stefano Cugurra Tunggu Regulasi Pemain Asing

"Dalam catatan kami di bulan April sudah terdapat sekitar 193 pertemuan dari 540 pertemuan menuju ke KTT nanti," bebernya.

Dalam KKT sendiri akan digelar dua pertemuan skala besar dan penting. Di antaranya, pada bulan Mei dan bulan September.

Namun, sebelum pada puncak acara mendatang, telah dilakukan pertemuan pendahuluan  seperti pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri yang dilakukan bulan Februari 2023, pertemuan Menteri Pariwisata, pertemuan Senior Official Metting (SOM), Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Central ASEAN.

Periode Keketuaan Indonesia di ASEAN akan berlangsung selama satu tahun. Dimulai sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2023. Ini pertanda kepercayaan kawasan regional kepada Indonesia untuk menavigasi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan kawasan regional ASEAN di tengah kondisi recovery dunia pasca pandemi.***

Berita Terkait