Zohran Mamdani Desak Trump Tarik ICE dari New York
ORBITINDONESIA.COM – Zohran Mamdani meminta Donald Trump menarik ICE dari New York setelah penembakan di Bronx melukai Oscar Belgal. Permintaan itu langsung memicu kecaman Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, yang menyebutnya berbahaya.
Insiden terjadi Kamis sore di Marble Hill, Bronx, saat agen ICE terlibat pertikaian dalam operasi penegakan imigrasi federal. NYPD melaporkan seorang pria tertembak sekitar pukul 16.00 waktu setempat.
Mamdani menekankan ada anak 5 tahun di dalam mobil ketika tembakan dilepaskan. Ia menyebut situasi itu “sangat serius” dan “tidak dapat diterima akal sehat.”
Melalui X, Mamdani menyatakan telah menghubungi Trump dan akan menuntut penghentian seluruh tindakan penegakan ICE di kota. Ia menilai agen ICE “meneror masyarakat” dan meminta penarikan total.
Versi pemerintah federal menempatkan peristiwa ini sebagai respons terhadap ancaman langsung. Mullin menyebut Belgal memiliki “rekam jejak kriminal yang panjang” dan mencoba menghindari penangkapan.
Pejabat senior ICE, Marcos Charles, mengatakan Belgal menolak perintah keluar dari kendaraan. Ia disebut menabrak dua kendaraan dinas ICE dan melaju ke arah petugas, sehingga petugas menembak dengan alasan keselamatan.
ICE menyatakan petugas tidak mengetahui ada anak di dalam mobil saat tembakan terjadi. Anak itu tidak terluka, sementara Belgal mengalami luka ringan di leher dan dibawa ke rumah sakit.
Di titik ini, kata kunci “ICE New York” tidak lagi soal prosedur penangkapan semata. Ia berubah menjadi perdebatan tentang standar penggunaan kekuatan, transparansi operasi, dan risiko yang ditanggung warga sipil.
Ketegangan juga dipacu oleh pertarungan kewenangan antara pemerintah kota dan pemerintah federal. New York dapat mengatur prioritas kepolisian lokal, tetapi tidak bisa begitu saja melarang operasi lembaga federal.
Namun kota punya ruang politik untuk melawan melalui opini publik, litigasi, dan pembatasan kerja sama administratif. Karena itu, tuntutan Mamdani lebih tepat dibaca sebagai tekanan politik terbuka kepada Trump.
Mullin mengajukan pertanyaan retoris yang tajam, “Jika Anda membubarkan ICE, siapa yang akan menyingkirkan para penjahat dari jalanan.” Pertanyaan itu efektif secara politik, tetapi menyederhanakan isu menjadi pilihan biner antara keamanan dan hak.
Di sisi lain, Mamdani mengandalkan argumen moral dan rasa aman warga, terutama karena ada anak kecil di lokasi. Narasi ini kuat, karena publik cenderung menilai legitimasi penegakan hukum dari dampaknya pada warga tak bersenjata.
Masalahnya, kedua kubu memakai insiden tunggal untuk memukul lawan, bukan untuk membenahi sistem. Jika benar ada ancaman kendaraan, publik butuh kronologi rinci dan bukti yang bisa diaudit, bukan sekadar klaim.
Jika benar operasi ICE sering menciptakan ketakutan, publik juga butuh data pola penindakan, lokasi, dan mekanisme pengaduan yang bekerja. Tanpa itu, perdebatan akan berhenti pada slogan, bukan solusi.
New York sedang melihat bagaimana “penegakan” dapat berubah menjadi “pertunjukan kekuasaan” di ruang publik. Ketika senjata keluar di jalanan kota, legitimasi negara diuji bukan oleh niat, tetapi oleh akuntabilitas.
Penembakan Bronx membuat konflik “Zohran Mamdani vs ICE” naik kelas menjadi pertarungan arah kebijakan nasional di panggung kota. Trump diminta menarik ICE, sementara pemerintah federal menegaskan operasi itu perlu demi keamanan.
Di antara dua klaim itu, ada satu fakta yang tak bisa dinegosiasikan, yaitu warga sipil berada di sekitar tembakan, termasuk seorang anak. Pertanyaan akhirnya bukan hanya siapa yang benar, tetapi siapa yang bersedia membuka bukti dan memperbaiki prosedur.
Jika kota ingin aman, dan negara ingin tertib, maka transparansi harus jadi harga minimal yang dibayar kekuasaan. Tanpa itu, setiap peluru akan selalu meninggalkan keraguan, dan setiap kebijakan akan selalu terlihat seperti ancaman.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)