Pelatih PSM Kritik Kondisi Lapangan Persib, Soroti Standar Liga 1

infobdg.com

infobdg.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kritik pelatih PSM Makassar soal kondisi lapangan Persib Bandung mendadak jadi alarm untuk kualitas infrastruktur Liga 1. Dario Kalenzic menyebut permukaan lapangan membuat kedua tim bahkan tidak memungkinkan menggelar latihan resmi sehari sebelum laga.

Pertandingan Persib vs PSM berakhir 3-1, tetapi sorotan pascalaga justru mengarah ke rumput dan permukaan tanah. Kalenzic menyampaikan keluhan itu dalam konferensi pers, tepat setelah timnya kalah di Bandung.

Keluhan lapangan bukan isu baru di sepak bola Indonesia, tetapi jarang diucapkan setegas itu di ruang resmi. Ketika pelatih mengakui latihan pun tidak mungkin dilakukan, persoalannya bergeser dari “kendala teknis” menjadi “kegagalan standar”.

Dalam kerangka kompetisi profesional, lapangan adalah alat produksi utama yang menentukan kualitas permainan dan keselamatan pemain. Maka, kritik pelatih PSM terhadap kondisi lapangan Persib seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap sistem pengawasan liga.

Lapangan yang buruk mengubah pertandingan menjadi adu adaptasi, bukan adu taktik. Bola memantul tak terduga, kontrol pertama jadi taruhan, dan ritme permainan mudah putus karena pemain memilih aman.

Efeknya tidak berhenti pada estetika, tetapi merembet ke risiko cedera. Permukaan yang tidak rata meningkatkan potensi engkel terkilir, hamstring tertarik, dan benturan karena pemain kehilangan keseimbangan.

Pernyataan “tidak bisa latihan sehari sebelum pertandingan” juga memukul aspek fairness. Sesi resmi biasanya dipakai tim tamu untuk mengukur pantulan bola, kecepatan rumput, dan karakter lapangan.

Jika sesi itu gugur karena kondisi lapangan, tim tamu kehilangan satu instrumen adaptasi yang lazim dijamin penyelenggara. Dalam konteks kompetisi ketat, detail kecil seperti itu bisa mengubah hasil dan memengaruhi klasemen.

Secara bisnis, kualitas lapangan adalah wajah liga di mata publik dan sponsor. Liga yang ingin menjual produk hiburan tidak bisa membiarkan kualitas siaran menampilkan permainan yang tersendat karena faktor yang seharusnya bisa dikendalikan.

Di banyak liga profesional, inspeksi lapangan dilakukan dengan indikator teknis yang jelas, termasuk drainase, kerataan, dan kerapatan rumput. Liga 1 juga memiliki perangkat regulasi, tetapi konsistensi penegakannya sering dipertanyakan oleh pelaku lapangan.

Kritik Kalenzic menjadi penting karena datang dari pihak yang dirugikan langsung di lapangan. Ia tidak sedang membahas wasit atau keputusan kontroversial, melainkan fasilitas dasar yang semestinya netral.

Hasil 1-3 memang tidak otomatis bisa disalahkan pada lapangan, karena Persib juga bermain di atas permukaan yang sama. Namun, argumen “sama-sama merasakan” tidak membatalkan kewajiban operator dan pengelola stadion untuk menyediakan standar minimal yang aman dan layak.

Kritik pelatih PSM terhadap kondisi lapangan Persib seharusnya tidak diperlakukan sebagai keluhan kalah, tetapi sebagai laporan kualitas. Sepak bola profesional tidak boleh menggantungkan mutu pertandingan pada keberuntungan cuaca dan tambal-sulam perawatan.

Jika lapangan sampai membuat latihan resmi mustahil, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya pengelola stadion, tetapi juga mekanisme verifikasi liga. Tanpa sanksi yang tegas dan transparan, insentif untuk memperbaiki lapangan akan selalu kalah oleh jadwal padat dan kompromi jangka pendek.

Di sisi lain, klub juga perlu didorong untuk menempatkan perawatan lapangan sebagai investasi, bukan biaya. Kemenangan dan prestasi tidak bisa terus dibangun di atas fondasi yang rapuh, karena risiko cedera pemain adalah kerugian finansial yang nyata.

Publik pun berhak menuntut standar, karena tiket, hak siar, dan sponsor adalah bahan bakar kompetisi. Ketika penonton melihat permainan rusak oleh lapangan, kepercayaan pada kualitas liga ikut turun, dan itu dampaknya panjang.

Skor Persib vs PSM akan tercatat sebagai 3-1, tetapi kritik Dario Kalenzic tentang kondisi lapangan meninggalkan catatan yang lebih penting. Liga 1 tidak kekurangan gairah dan talenta, tetapi masih sering tersandung pada hal paling mendasar.

Pertanyaannya sederhana dan mendesak: sampai kapan sepak bola profesional Indonesia membiarkan kualitas lapangan menjadi variabel liar yang menentukan mutu pertandingan. Jika lapangan adalah panggung, maka memperbaikinya adalah cara paling nyata menghormati pemain, pelatih, dan penonton.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)