Isti Nugroho Menolak Diam, Menolak Temaram: Kesaksian Puitis dari Pinggiran Sejarah

Cover buku Anjing-Anjing Sjahrir.

Cover buku Anjing-Anjing Sjahrir.

Review Buku

Judul Buku: Anjing-Anjing Sjahrir: 66 Puisi Isti Nugroho

Penulis: Isti Nugroho

Penerbit: Yayasan Budaya Guntur 49, Jakarta

Cetakan: I, Juli 2026

Tebal: xviii + 92 halaman

ORBITINDONESIA.COM - Menyusuri lembar demi lembar Anjing-Anjing Sjahrir karya Isti Nugroho bukan sekadar membaca barisan bait, melainkan mendengarkan kembali detak keprihatinan seorang aktivis yang konsisten berdiri di garis depan perlawanan.

Diterbitkan sebagai penanda usia ke-66 sang penyair, 66 puisi dalam kumpulan ini hadir sebagai traktat politik sekaligus manifestasi estetika yang lahir dari tubuh yang pernah merasakan langsung kejamnya jeruji besi rezim Orde Baru.

Sebagai mantan tahanan politik yang pernah dipenjara akibat aktivitasnya dalam Kelompok Studi Palagan Yogyakarta—terutama karena membedah dan mendiskusikan karya-karya terlarang Pramoedya Ananta Toer pada akhir era 1980-an—Isti Nugroho bukanlah penyair yang menulis dari "menara gading". Ia adalah pelaku sejarah yang menolak amnesia.

Pengalaman traumatis persidangan, siksa bui, dan stigma politik Orde Baru tidak membuat penanya tumpul. Sebaliknya, penderitaan masa lalu itu justru menjadi landasan moril yang mengkristal dalam konsepsi puisinya.

Poetika "Sastra Terlibat" dan Estetika Kagunan

Dalam pengantar bertajuk Puisi Transparan: Personal-Sosial dan Terlibat, Isti secara tegas menolak doktrin konvensional yang kerap menghakimi bahwa "puisi beraroma sosial-politik pasti bernilai estetis buruk."

Mengutip jejak pemikiran YB Mangunwijaya mengenai estetika kagunan—estetika yang membela harkat kemanusiaan dan keberdayaan sosial—Isti memilih jalur "puisi transparan".

Ia menyejajarkan jejak kepenyairannya dengan tradisi sastra kontekstual yang diusung nama-nama seperti W.S. Rendra, F. Rahardi, Emha Ainun Nadjib, hingga Wiji Thukul.

Bagi Isti, puisi yang jernih, lugas, dan transparan bukanlah bentuk penyederhanaan yang dangkal, melainkan pilihan sadar agar pesan kesadaran kritis dapat ditangkap pembaca tanpa perlu terhalang belantara metafora yang gelap.

Menulis puisi sosial-politik baginya adalah sebuah "ibadah kebudayaan" yang berkelindan erat dengan penegakan demokrasi.

Kritik Kekuasaan dan Takdir di Pinggiran Sejarah

Refleksi paling personal sekaligus politis atas pengalaman kepenjaraannya terpancar kuat dalam puisi Tempatku di Pinggiran Sejarah. Di sini, Isti merawat ingatan tentang ancaman dan risiko yang harus dibayar mahal oleh seorang penentang tirani:

...Aku teguh memilih jalan penuh derap sepatu lars

Kata-kata kuterbangkan jadi burung-burung kecil

yang mematuki hati tirani

Bisa mengganggu tidur penguasa, bagiku sudah cukup

Sang tiran murka

Para jawara bersenjata dikerahkan,

Ratusan ribu burung-burungku ditembak

Bangkai-bangkai terserak

di atas lembar putusan pengadilan

yang melemparkan aku ke penjara

Bait-bait tersebut menunjukkan bahwa masa penjara tidak memadamkan apinya, melainkan mengukuhkan posisinya untuk tetap menjadi "burung pengganggu" bagi siapa pun yang bertindak tirani.

Namun, hal yang membuat kumpulan puisi ini tetap relevan dan menyengat bukan hanya karena keberhasilannya merekam luka Orde Baru, melainkan kemampuannya dalam membidik kebobrokan politik kontemporer.

Isti tidak terjebak pada romantisme nostalgia aktivisme 1998. Ia memotret dengan tajam bagaimana nilai-nilai reformasi dikhianati oleh hadirnya oligarki baru, politik dinasti, serta komodifikasi demokrasi.

Dalam puisi Tersesat di Negeri Ganjil dan Perkabungan Ideologi, Isti melayangkan otkritik tajam terhadap kemunduran akal sehat di ruang publik. Ia mengecam bagaimana ruang debat gagasan kini digantikan oleh "kerajaan bisnis", demagog, serta barisan buzzer:

...Negeri Ketoprak, negeri improvisasi

Semua bergerak tergantung negosiasi

Dan restu oligarki

Tak ada lagi antrian panjang para pejuang

di depan loket negara

karena tukang kayu dan kurcaci bisa jadi pemimpin bangsa

tidak dibutuhkan tabungan sosial dan rekam jejak pendekar...

(Tersesat di Negeri Ganjil)

Sementara dalam puisi Gas Air Mata, Isti membongkar ironi kekerasan negara yang terus berulang dari masa ke masa melalui metafora yang getir. "Airmata negara," tulisnya, bukanlah bentuk belas kasih, melainkan water cannon dan ledakan gas air mata yang menyembur saat rakyat menuntut keadilan.

Anjing-Anjing Sjahrir adalah sebuah kesaksian yang matang dari seorang intelektual organik. Buku ini tidak hanya memperkaya khazanah puisi sosial-politik di Indonesia, tetapi juga berfungsi sebagai kompas moral.

Melalui 66 puisi ini, Isti Nugroho membuktikan bahwa meski tubuhnya pernah dikurung dan namanya sempat disisihkan ke pinggiran sejarah, suaranya tetap merdeka, melintasi zaman, dan konsisten mematuki nurani para penguasa.

*Satrio Arismunandar, jurnalis dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA.