Ali Samudra: Menyusuri Penyebab Keterbelakangan Umat Islam - Sebuah Refleksi Menyambut 1 Muharam 1448 H

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Opini

Oleh Ali Samudra

Tahun Baru Islam kembali hadir. Bulan Muharam bukan sekadar penanda pergantian angka dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah. Sebagaimana seorang individu perlu mengevaluasi perjalanan hidupnya, demikian pula sebuah umat perlu bercermin terhadap perjalanan sejarahnya.

Menyambut 1 Muharam 1448 H, ada satu pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur dan terbuka: di manakah posisi umat Islam hari ini dalam percaturan peradaban dunia?

Pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman. Namun sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah lahir dari rasa puas diri. Kebangkitan selalu diawali oleh keberanian melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Namun harus diakui bahwa sebagian besar negara Muslim belum menjadi pemain utama dalam ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, maupun ekonomi global. Nama-nama universitas terbaik dunia masih didominasi oleh negara-negara Barat dan Asia Timur. Sebagian besar teknologi yang digunakan umat Islam sehari-hari masih merupakan hasil karya bangsa lain. Dalam banyak sektor strategis, dunia Islam lebih sering menjadi konsumen daripada produsen.

-000-

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa kondisi ini terjadi? Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan pihak luar. Kita dapat menunjuk kolonialisme, imperialisme, ketidakadilan global, atau dominasi negara-negara besar. Semua itu memang memiliki pengaruh. Namun jika kita berhenti pada jawaban tersebut, kita tidak akan pernah menemukan akar persoalan yang sesungguhnya.

Al-Qur'an memberikan petunjuk yang sangat mendasar dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Ayat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Perubahan sejarah selalu dimulai dari perubahan internal. Sebelum melihat keluar, sebuah umat harus berani melihat ke dalam dirinya sendiri.

Salah satu ironi terbesar dalam sejarah umat Islam adalah bahwa agama yang melahirkan peradaban ilmu pengetahuan justru diikuti oleh masyarakat yang dalam banyak hal mengalami kemunduran intelektual.

-000-

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah membangun kekuasaan, melainkan perintah membaca: "Iqra' bismi rabbika alladzi khalaq."                                                                                        

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."

Kata "Iqra" merupakan fondasi peradaban Islam. Ia mengandung pesan bahwa kebangkitan manusia harus dimulai dari ilmu pengetahuan. Membaca dalam makna yang luas: membaca wahyu, membaca alam, membaca sejarah, membaca masyarakat, dan membaca diri sendiri.

Tidak mengherankan jika generasi awal Islam kemudian melahirkan tradisi keilmuan yang luar biasa. Perpustakaan berdiri di berbagai kota. Karya-karya ilmiah diterjemahkan dan dikembangkan. Diskusi intelektual menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dari tradisi itulah lahir tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, yang mengembangkan filsafat politik dan konsep masyarakat utama. Muncul pula Ibn Sina yang karya-karya kedokterannya menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Kemudian Ibn Rushd yang berusaha menyandingkan wahyu dan akal, serta Ibnu Khaldun yang melahirkan teori tentang bangkit dan runtuhnya peradaban jauh sebelum ilmu sosiologi modern lahir.

Mereka adalah bukti bahwa Islam pernah menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan dan pemikiran kritis.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kejayaan tidak berlangsung selamanya. Secara perlahan, semangat membaca mulai melemah. Tradisi penelitian menyusut. Budaya berpikir kritis tidak lagi berkembang sebagaimana sebelumnya. Dalam banyak kasus, umat lebih sibuk mempertahankan warisan masa lalu daripada menciptakan masa depan. Akibatnya, dunia Islam mulai kehilangan daya saing.

-000-

Pemikir Aljazair, Malek Bennabi, memberikan salah satu diagnosis paling tajam mengenai persoalan ini. Dalam karyanya Les Conditions de la Renaissance (1948), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Conditions of Renaissance (2000), Bennabi memperkenalkan konsep colonisability atau "kesiapan untuk dijajah".

Menurut Bennabi, penjajahan sering kali bukan penyebab pertama kemunduran suatu masyarakat. Ia lebih merupakan akibat dari kemunduran yang telah terjadi sebelumnya.

Masyarakat yang kehilangan kreativitas, disiplin, produktivitas, etos kerja, dan kepercayaan diri akan menjadi lebih mudah didominasi oleh pihak lain.

Bennabi bahkan menegaskan bahwa masalah terbesar dunia Islam bukanlah kekurangan manusia atau kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan gagasan yang mampu menggerakkan manusia, mengelola waktu, dan memanfaatkan sumber daya menjadi sebuah peradaban.

Beberapa dekade setelah Bennabi, ilmuwan politik Turki-Amerika Ahmet T. Kuru mengajukan analisis yang tidak kalah menarik. Dalam bukunya Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison (2019), Kuru berpendapat bahwa salah satu penyebab kemunduran dunia Islam adalah melemahnya kelas intelektual independen dan kelas ekonomi produktif.

Ketika ilmuwan tidak lagi bebas berpikir, ketika kreativitas tidak lagi dihargai, dan ketika pengusaha produktif kehilangan ruang untuk berkembang, maka inovasi perlahan-lahan berhenti.

Pada titik ini, Bennabi dan Kuru bertemu pada kesimpulan yang sama: keterbelakangan bukan pertama-tama disebabkan oleh kekuatan luar, melainkan oleh melemahnya energi internal yang dahulu menjadikan dunia Islam sebagai pusat peradaban.

-000-

Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi dunia Islam, terdapat beberapa pengalaman yang layak direnungkan. Salah satunya adalah upaya Iran membangun kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi dalam situasi tekanan internasional yang panjang.

Terlepas dari berbagai kontroversi politik yang mengelilinginya, Iran menunjukkan bahwa bangsa Muslim dapat berinvestasi secara serius pada pendidikan tinggi, penelitian, teknologi strategis, industri berbasis pengetahuan, teknologi nuklir, nanoteknologi, dan program antariksa. Keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk berhenti belajar dan berinovasi.

Ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik: kemajuan tidak lahir dari mentalitas ketergantungan. Bangsa yang ingin dihormati harus berani membangun ilmuwannya sendiri, laboratoriumnya sendiri, dan teknologinya sendiri. Tidak ada umat yang bangkit hanya dengan bernostalgia pada kejayaan masa lalu. Kebangkitan selalu dimulai ketika sebuah bangsa memutuskan untuk menjadi produsen ilmu, bukan sekadar konsumen teknologi.

-000-

Kebangkitan tidak hanya memerlukan universitas dan laboratorium, ia juga memerlukan institusi sosial yang hidup. Dalam sejarah Islam, salah satu institusi terpenting adalah Masjid.

Pada masa Rasulullah SAW, masjid bukan hanya tempat ibadah. Masjid adalah pusat pendidikan, pusat musyawarah, pusat pelayanan sosial, bahkan pusat pengembangan masyarakat. Dari masjid lahir generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga kuat secara intelektual dan sosial.

Hari ini, umat Islam memiliki jutaan masjid. Akan tetapi, sebuah pertanyaan penting perlu diajukan: sudahkah masjid kembali menjadi pusat pengembangan spiritual dan intelektual.

Jika masjid hanya berfungsi sebagai tempat ritual, maka sebagian besar potensinya belum dimanfaatkan. Masjid seharusnya menjadi ruang yang mendorong budaya membaca, diskusi, pelatihan keterampilan, pengembangan literasi digital, dan pembinaan generasi muda.

Masjid yang hidup adalah masjid yang melahirkan gagasan.

Masjid yang hidup adalah masjid yang melahirkan pembaca.

Masjid yang hidup adalah masjid yang melahirkan pemimpin.

-000-

Pada akhirnya, keterbelakangan umat Islam bukanlah persoalan yang dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Ia merupakan hasil dari berbagai persoalan yang saling terkait: melemahnya budaya ilmu, menurunnya tradisi berpikir kritis, rendahnya produktivitas, lemahnya institusi sosial, serta hilangnya kepercayaan diri sebagai pelaku peradaban.

Apa yang menyebabkan kemunduran juga dapat diperbaiki. Muharam mengajarkan bahwa sejarah dapat berubah. Hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol perubahan. Ia mengajarkan bahwa keadaan yang sulit dapat diubah melalui visi, kerja keras, pengorbanan, dan ketekunan.

Menyambut 1 Muharam 1448 H, ada satu pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur dan terbuka: di manakah posisi umat Islam hari ini dalam percaturan peradaban dunia?

Pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman. Namun sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah lahir dari rasa puas diri. Kebangkitan selalu diawali oleh keberanian melihat kenyataan sebagaimana adanya.***

Pondok Kelapa, 15 Juni 2026

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **