Psikologis Pasca Stroke Ganggu Ereksi dan Libido Pria

Tribunnews.com

Tribunnews.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Psikologis pasca stroke kerap menjadi biang gangguan seksual, dari ereksi melemah sampai libido menghilang. Dalam podcast Tribun Health, dr. Binsar Martin Sinaga menegaskan dampak mental ini bisa sama menentukan dengan kelumpuhan fisik.

Stroke sering dipahami sebagai krisis saraf yang mematikan gerak, tetapi efeknya merambat ke area paling privat. Kehidupan seksual berubah karena tubuh tidak lagi responsif, dan pikiran tidak lagi tenang.

Artikel TribunHealth menyorot bahwa kecemasan, depresi, dan perubahan karakter setelah stroke ikut memengaruhi fungsi seksual. Karena itu, gangguan seksual pasca stroke tidak bisa dibaca sekadar sebagai masalah organ atau stamina.

Podcast “Pria Pasca Stroke, Apakah Ereksi Dapat Normal Kembali?” menghadirkan dr. Binsar Martin Sinaga, FIAS, seorang medical sexologist. Ia menyebut pasien stroke sering kehilangan ereksi dan libido karena beban psikologis yang menyertai penyakitnya.

Pernyataan dr. Binsar terdengar sederhana, tetapi menyasar inti yang sering diabaikan dalam rehabilitasi. “Pasti orang yang strok itu memiliki akibat dampak psikologi yang menyebabkan dia terganggu untuk berhubungan seks,” ujarnya.

Secara klinis, depresi pasca stroke memang lazim terjadi dan dapat menurunkan dorongan seksual serta kualitas ereksi. Tinjauan di jurnal Stroke (AHA) melaporkan depresi pasca stroke kerap muncul pada sekitar sepertiga penyintas, meski angka bervariasi antar studi.

Kecemasan juga bekerja seperti rem biologis yang halus namun kuat. Saat otak berada dalam mode waspada, tubuh memprioritaskan bertahan hidup, bukan keintiman.

Di titik ini, “ereksi” bukan hanya urusan aliran darah, tetapi juga rasa aman dan harga diri. Banyak penyintas takut kambuh, takut dianggap tidak menarik, atau takut gagal, lalu menghindari hubungan seksual sama sekali.

Masalahnya, sistem layanan sering menempatkan seksualitas di urutan terakhir. Rehabilitasi fokus pada berjalan, bicara, dan makan, sementara pertanyaan tentang ereksi dianggap memalukan atau tidak penting.

Padahal, disfungsi seksual dapat memperburuk depresi dan mengganggu relasi pasangan. Siklus ini membuat pemulihan terasa buntu, meski kondisi fisik perlahan membaik.

Dr. Binsar juga menyinggung perubahan karakter, terutama pada stroke perdarahan yang memerlukan operasi. Perubahan emosi dan kontrol impuls dapat mengacaukan komunikasi intim, bahkan memicu konflik rumah tangga.

Di sisi lain, obat-obatan pasca stroke dapat ikut memengaruhi fungsi seksual, meski tidak dibahas rinci dalam artikel. Antidepresan tertentu, antihipertensi, atau obat penenang dapat menurunkan libido, sehingga evaluasi medis menyeluruh tetap diperlukan.

Karena itu, pertanyaan “apakah ereksi bisa normal kembali” seharusnya tidak dijawab dengan satu resep. Jawabannya bergantung pada kombinasi pemulihan saraf, stabilitas psikologis, kualitas hubungan, dan penyesuaian terapi.

Sorotan TribunHealth penting karena menggeser pembicaraan dari “malu” menjadi “perlu ditangani.” Namun, isu ini juga membuka kritik: mengapa seksualitas penyintas stroke masih diperlakukan sebagai bonus, bukan bagian dari kualitas hidup.

Jika layanan kesehatan hanya mengejar angka tekanan darah dan kemampuan berjalan, pasien mungkin “selamat” tetapi kehilangan identitas dirinya. Seksualitas adalah bagian dari martabat, dan martabat tidak boleh menjadi topik sampingan.

Sudut pandang yang lebih tajam adalah ini: gangguan seksual pasca stroke sering merupakan kegagalan sistem komunikasi. Tenaga kesehatan jarang memulai percakapan, dan pasien takut dicap tidak tahu diri.

Di ruang keluarga, pasangan juga kerap dibiarkan menebak-nebak. Padahal, edukasi sederhana tentang keamanan berhubungan seksual, manajemen cemas, dan terapi psikologis bisa mencegah jarak emosional makin melebar.

Normalisasi pembahasan bukan berarti menyepelekan risiko medis. Justru dengan bicara terbuka, dokter bisa menilai kondisi jantung, obat yang dikonsumsi, serta kesiapan mental, lalu memberi panduan yang aman.

Psikologis pasca stroke dapat merusak ereksi dan libido, bahkan ketika tubuh tampak mulai pulih. Pesan dr. Binsar mengingatkan bahwa penyintas butuh pemulihan yang utuh, bukan hanya kuat berjalan tetapi juga kuat merasa.

Pertanyaan paling penting bukan semata “bisakah ereksi normal kembali,” melainkan “apakah kita memberi ruang bagi penyintas untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.” Jika seksualitas adalah bagian dari hidup, mengapa kita masih menutup pintu diskusinya. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)