Menimbang Peluang Menkes Budi Gunadi Sadikin di Kursi Dirjen WHO

Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Nasional

ORBITINDONESIA.COM - Pada 29 Oktober 2026, WHO mengumumkan tujuh kandidat Direktur Jenderal. Nama Menkes Budi Gunadi Sadikin ada di dalamnya.

Ia dicalonkan Indonesia dan akan bersaing dengan enam kandidat dari Qatar, Arab Saudi, Belgia, Spanyol, China, dan Armenia. Pemenang akan menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang memimpin sejak 2017.

Perlu dicatat, ini baru tahap pencalonan. Peluangnya belum bisa dihitung, tetapi arah persaingannya bisa dibaca.

Bagaimana Pemilihannya

Prosesnya bertahap. Tujuh kandidat akan tampil di forum publik di Jenewa pada 18–19 November 2026. Pada sesi ke-160 di awal 2027, Dewan Eksekutif WHO menyaring daftar menjadi lima kandidat, mewawancarai mereka, lalu mengajukan hingga tiga nama ke Majelis Kesehatan Dunia.

Dewan itu beranggotakan 34 orang yang dipilih untuk masa tiga tahun. Forum kedua digelar 15 Maret 2027. Pada Mei 2027, Majelis Kesehatan Dunia memilih lewat pemungutan suara rahasia, dan sang pemenang mulai menjabat 16 Agustus 2027.

Di Majelis berlaku prinsip satu negara satu suara. Menurut Health Policy Watch, negara yang menunggak iuran tidak berhak memilih, dan pada Majelis terakhir lebih dari selusin negara, termasuk Amerika Serikat, masuk kategori itu kecuali melunasinya.

Apa Kriterianya

Resolusi Majelis (WHA65.15) mensyaratkan kandidat memiliki keahlian di bidang kesehatan, pengalaman luas di kesehatan internasional, dan kemampuan berbahasa kerja.

Aturan itu menekankan pentingnya kualifikasi profesional dan integritas, dengan memperhatikan keterwakilan geografis yang adil serta keseimbangan gender.

Kandidat juga harus lolos pemeriksaan kesehatan. Di luar aturan formal, faktor politik besar peranannya: dukungan antarnegara, lobi, dan kepercayaan negara-negara donor.

Adakah Giliran Wilayah?

Tidak ada sistem giliran resmi. Yang ada hanyalah prinsip keterwakilan geografis yang adil, yang dalam praktik menjadi pertimbangan politik.

Pimpinan WHO beberapa dekade terakhir berasal dari berbagai wilayah: Eropa (Gro Harlem Brundtland), Asia (Lee Jong-wook dan Margaret Chan), dan Afrika (Tedros). Kombinasinya tidak mengikuti urutan baku.

Kali ini tidak ada satu wilayah pun yang jelas "berhak". Dua kandidat dari Mediterania Timur (Saudi dan Qatar), satu dari Asia Timur (China), satu dari Asia Tenggara (Indonesia), dan dua dari Eropa (Belgia, Spanyol) membuat suara terbelah. Kandidat Armenia diajukan oleh Botswana, bukan negara asalnya.

Modal Budi Gunadi

Ia menjabat Menkes sejak Desember 2020, melewati masa pandemi, dan didukung penuh pemerintah. Menlu Arrmanatha Nasir menegaskan dukungan itu. Indonesia juga negara besar yang kerap menjadi suara negara berkembang.

Latar belakangnya unik. CNBC Indonesia mencatat bahwa tidak seperti kandidat lain yang berlatar dokter atau pejabat WHO, Budi memulai karier di teknologi informasi dan perbankan.

Ini bisa menjadi nilai tambah: WHO butuh manajer yang mampu menata organisasi dan pembiayaannya, apalagi di tengah krisis dana.

Hambatan yang Realistis

Pertama, kandidatnya sudah kuat. Hans Kluge adalah direktur regional WHO untuk Eropa, Hanan Balkhy memimpin kawasan Mediterania Timur, dan Maria Neira lama bekerja di dalam WHO. Mereka mengenal betul jaringan dan birokrasi organisasi.

Kedua, status non-dokter. Syaratnya bukan harus dokter, tetapi pengalaman kesehatan global jadi ujian. Rekam jejak Budi lebih banyak di tingkat nasional daripada di forum multilateral.

Ketiga, persaingan satu kawasan. Indonesia dan China sama-sama dari Asia, dan kandidat Saudi serta Qatar menyasar suara Timur Tengah dan dunia Islam.

Keempat, politik dalam negeri. Kebijakan kesehatan Budi pernah dikritik sejumlah kelompok profesi, dan lawan bisa mengangkatnya dalam wawancara.

Penilaian

Ini analisis, bukan prediksi. Budi masuk kategori penantang yang kredibel, bukan favorit. Peluangnya bergantung pada tiga hal: lolos daftar lima (Januari 2027), meyakinkan Dewan dalam wawancara, lalu membangun koalisi suara di Majelis.

Kemenlu perlu bekerja keras di Jenewa, memanfaatkan jaringan ASEAN, Gerakan Non-Blok, dan negara Afrika. Dewan bisa dibaca lewat komposisi anggotanya, tetapi suara akhir berada di tangan negara-negara kecil dan menengah yang jumlahnya besar.

Peluang itu nyata, bukan karena jatah wilayah, melainkan karena persaingan yang terbuka dan terbelah. Dalam pemilihan seperti ini, rekam jejak dan diplomasi sama pentingnya dengan visi. ***