Harga PRJ 2026 Naik, Pengunjung Makin Selektif Berbelanja
ORBITINDONESIA.COM – Kenaikan harga di Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026 membuat banyak pengunjung menahan belanja dan menyusun strategi sejak sebelum masuk JIExpo Kemayoran. Harga tiket masuk pun ikut naik, sementara promo dan bonus tetap jadi magnet utama.
PRJ 2026 kembali menjadi ruang temu antara konsumsi, hiburan, dan perburuan diskon yang khas Jakarta. Namun tahun ini, kata kunci yang paling sering muncul di mulut pengunjung bukan lagi “promo”, melainkan “naik”.
Niken (40) mengaku menemukan kenaikan harga sejumlah produk dibanding tahun lalu, bahkan mencapai sekitar 30 persen. Ia tetap datang, tetapi memilih lebih terarah agar pengeluaran tidak kebablasan.
Di sisi lain, Prisya (29) merasakan kenaikan sejak pintu masuk, dari Rp 50.000 menjadi sekitar Rp 60.000. Perubahan kecil di tiket menjadi sinyal awal bahwa pengalaman di dalam hall juga menuntut dompet lebih tebal.
Strategi belanja pengunjung berubah dari impulsif menjadi terencana, dan ini terlihat dari cara Niken menyiapkan rute tenant. Ia dan rekannya memilih mencari informasi lebih dulu, lalu hanya mendatangi titik yang dianggap “worth it”.
Kenaikan harga hingga 30 persen pada beberapa produk menempatkan PRJ dalam logika inflasi gaya hidup: bukan sekadar kebutuhan yang naik, tetapi juga barang konsumsi dan produk pameran. Ketika harga bergerak cepat, pengunjung cenderung menukar spontanitas dengan daftar belanja.
Menariknya, kenaikan harga tidak selalu dibaca sebagai kerugian total oleh pembeli. Niken menilai kemasan dan bonus tahun ini lebih menarik, sehingga nilai yang dibeli bergeser dari barang ke pengalaman dan hadiah.
Bonus seperti tumbler, wadah, atau gift set menjadi semacam “kompensasi psikologis” atas harga yang lebih tinggi. Barang tambahan itu membuat pengunjung merasa menang, meski secara nominal mengeluarkan lebih banyak.
Dari sisi lain, Prisya memilih mengurangi belanja barang yang mudah ditemukan di luar PRJ. Ia mengalihkan anggaran ke makanan baru yang hanya muncul selama pameran, karena kelangkaan memberi alasan yang lebih kuat untuk membeli.
Pola ini menunjukkan PRJ semakin ditopang oleh produk edisi khusus dan sensasi “hanya ada di sini”. Ketika daya beli tertekan, faktor eksklusivitas sering menjadi pembenaran terakhir sebelum transaksi terjadi.
Prisya juga menyinggung realitas yang lebih luas: kenaikan harga tidak selalu sejalan dengan kenaikan pendapatan. Ia berharap ada rentang harga low, middle, high, karena UMR Jakarta naiknya tidak banyak sementara biaya ikut merambat.
Kenaikan harga di PRJ 2026 bukan sekadar soal mahal atau murah, tetapi soal siapa yang masih merasa diundang dalam pesta konsumsi ini. Saat tiket naik dan harga tenant merangkak, PRJ berisiko menjadi ruang yang makin nyaman bagi kelas menengah atas, dan makin melelahkan bagi yang lain.
Bonus dan kemasan cantik memang menambah nilai, tetapi juga bisa menjadi ilusi yang menutupi kenyataan: pengunjung membeli lebih banyak “atribut” daripada kebutuhan. Dalam situasi ekonomi yang ketat, hadiah kecil bisa mendorong pengeluaran besar, dan itu bukan kebetulan melainkan desain pemasaran.
Di titik ini, PRJ menjadi cermin kota yang sedang menegosiasikan daya belinya. Pengunjung tetap datang, tetapi mereka datang dengan kalkulator mental, bukan lagi dengan euforia tanpa batas.
PRJ 2026 tetap ramai karena ia menawarkan sesuatu yang tidak selalu bisa digantikan toko biasa: promosi, edisi khusus, dan pengalaman berkeliling hall. Namun cerita Niken dan Prisya menegaskan bahwa “ramai” tidak identik dengan “leluasa”.
Jika PRJ ingin tetap menjadi pesta rakyat, rentang harga yang lebih inklusif perlu hadir bukan sebagai tempelan, melainkan sebagai komitmen. Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya sederhana: ketika semua ikut naik, apakah ruang publik konsumsi ini masih memberi tempat yang adil bagi semua dompet? (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)