Tren Freestyle Anak di Media Sosial: Cedera Leher Mematikan

Radar Surabaya

Radar Surabaya

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Tren freestyle anak di media sosial kembali menelan korban, setelah dua siswa TK dan SD di Lombok Timur meninggal akibat cedera leher. Kasus ini memperlihatkan betapa konten digital berbahaya dan peniruan adegan game seperti Free Fire bisa berubah menjadi tragedi di rumah.

Korban pertama berinisial F, siswa TK, diduga meniru konten salto-saltoan atau freestyle yang beredar di media sosial. Ia mengalami cedera fatal pada tulang leher, sebuah konsekuensi yang sering tak dipahami anak-anak saat meniru gerakan akrobatik.

Korban kedua adalah Hamad Izan Wadi, 8 tahun, siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, Lombok Timur. Ia meninggal setelah lehernya patah, dan dugaan kuat mengarah pada peniruan aksi freestyle yang terinspirasi dari game Garena Free Fire.

Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, membenarkan peristiwa itu dan menjelaskan bahwa kejadian freestylenya berlangsung sepekan sebelumnya. Korban sempat dirawat di RS dr. Sudjono Selong, dirujuk ke RSUD Mataram, lalu meninggal dunia.

Dua kematian ini bukan sekadar kecelakaan rumah tangga, melainkan gejala dari ekosistem digital yang mendorong imitasi tanpa pagar keselamatan. Konten pendek berformat “challenge” dan highlight game menormalisasi risiko, sementara anak menangkapnya sebagai permainan yang bisa diulang.

Dalam psikologi perkembangan, anak usia TK hingga awal SD berada pada fase meniru yang kuat dan belum matang menilai bahaya. Mereka cenderung mengukur “keren” dari reaksi penonton, bukan dari konsekuensi fisik yang tak terlihat.

Platform digital memang menyediakan pembatas usia dan fitur kontrol orang tua, tetapi kenyataannya akses sering longgar di rumah. Ketika gawai menjadi “pengasuh pengganti”, algoritma dapat mengantar anak pada konten ekstrem tanpa orang dewasa menyadarinya.

Kasus ini juga menunjukkan risiko ketika pengawasan keluarga melemah karena faktor ekonomi dan migrasi kerja. Polisi menyebut orang tua korban merupakan TKI yang bekerja di luar negeri, sehingga kontrol harian lebih bergantung pada keluarga pengganti atau lingkungan sekitar.

Di titik ini, sekolah dan komunitas lokal seharusnya menjadi lapisan pengaman kedua. Edukasi literasi digital tidak cukup berupa larangan, melainkan latihan mengenali konten berbahaya, memahami anatomi risiko, dan membangun kebiasaan melapor.

Secara kesehatan, cedera leher pada anak dapat berakibat fatal karena melibatkan tulang belakang servikal dan jalur saraf vital. Gerakan salto atau bantingan yang salah dapat memicu patah tulang atau kerusakan saraf, dan pertolongan terlambat memperburuk peluang selamat.

Tragedi ini seharusnya menghentikan kebiasaan publik yang hanya menyalahkan anak karena “nakal” atau “nekat”. Anak tidak menciptakan standar bahaya, melainkan meniru dunia orang dewasa yang memonetisasi sensasi dan mengukur nilai dari viralitas.

Masalahnya bukan pada satu game atau satu platform, melainkan pada cara kita membiarkan konten ekstrem tampil tanpa konteks keselamatan. Ketika video berbahaya diberi musik lucu dan komentar yang memuji, pesan yang sampai ke anak adalah: lakukan, rekam, ulangi.

Orang tua dan wali perlu mengganti pola pengawasan reaktif menjadi preventif. Aturan layar, pendampingan saat bermain, serta pembatasan konten berdasarkan usia harus diperlakukan seperti sabuk pengaman, bukan pilihan tambahan.

Sekolah juga perlu memperlakukan literasi digital sebagai isu keselamatan, setara dengan edukasi lalu lintas dan kebencanaan. Guru dapat membuat sesi sederhana tentang “aksi yang tidak boleh ditiru”, lengkap dengan alasan medis yang mudah dipahami anak.

Platform dan pembuat konten pun memikul tanggung jawab etik yang lebih besar. Peringatan “jangan ditiru” tidak cukup bila visualnya tetap mengglorifikasi aksi berisiko, sementara sistem rekomendasi terus menyodorkan konten serupa.

Dua nyawa anak di Lombok Timur menjadi pengingat pahit bahwa tren freestyle anak di media sosial dapat berujung pada cedera leher mematikan. Kita sedang berhadapan dengan kombinasi imitasi anak, pengawasan yang rapuh, dan algoritma yang mengejar atensi.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak: siapa yang benar-benar menjaga anak ketika layar menjadi ruang bermain utama. Jika rumah, sekolah, dan platform tidak segera membangun pagar keselamatan, tragedi serupa hanya menunggu tren berikutnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)