Harsh Goenka, Jepang, dan Dress Code Kantor: Shorts ke Tempat Kerja?
ORBITINDONESIA.COM – Harsh Goenka memantik debat dress code kantor setelah mengunggah humor tentang Jepang yang mendorong pria memakai shorts ke kantor saat suhu melonjak. Kalimatnya yang viral, “Japan has gone from ‘tie optional’ to ‘thigh optional’,” membuat publik membicarakan batas antara kenyamanan, profesionalisme, dan kepantasan.
Gelombang panas membuat isu pakaian kerja kembali relevan, terutama di kota-kota besar yang lembap dan padat. Di tengah perubahan iklim, kantor yang tetap memaksakan standar formal sering terasa tidak selaras dengan realitas suhu harian.
Goenka mengangkat kabar dari Tokyo, lalu menambahkan humor tentang “sunehara” dan rambut kaki yang mengusik sebagian orang. Ia juga melempar pertanyaan yang sensitif sekaligus lokal: apakah India sebaiknya mengizinkan shorts, atau bahkan lungi dan dhoti.
Respons warganet menunjukkan satu hal yang konsisten: dress code bukan sekadar kain, tetapi simbol kuasa dan norma. Ketika aturan berpakaian berubah, yang diperdebatkan bukan hanya estetika, melainkan siapa yang berhak menentukan “pantas”.
Debat ini muncul pada saat panas ekstrem makin sering terjadi, dan ruang kerja tak selalu adaptif. Data World Meteorological Organization (WMO) menyebut 2023 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, dan tren pemanasan berlanjut di banyak wilayah.
Dalam konteks kantor, pakaian formal sering dipakai sebagai “penanda disiplin” karena mudah diawasi. Namun indikator kinerja modern lebih menuntut output, kolaborasi, dan keselamatan kerja, bukan semata kerapian visual.
Komentar warganet memperlihatkan dua kubu yang sama-sama rasional. Ada yang takut kelonggaran berubah jadi “karnaval identitas”, sementara yang lain menekankan pakaian breathable yang tetap rapi dan sesuai iklim.
Argumen praktis juga kuat, terutama soal perbedaan sektor kerja. Pekerjaan manufaktur dan lapangan terikat standar keselamatan, sedangkan banyak kantor IT sudah lebih fleksibel karena risikonya lebih rendah.
Humor tentang “leg hair” dan “sunehara” sebenarnya membuka isu yang lebih serius: kenyamanan satu pihak bisa menjadi ketidaknyamanan pihak lain. Ini mirip perdebatan klasik tentang parfum, suara rapat, atau suhu AC, yakni konflik kecil yang mewakili negosiasi ruang bersama.
Dari sisi kebijakan, dress code yang kaku sering gagal karena mengabaikan konteks cuaca dan mobilitas pekerja. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu longgar tanpa panduan dapat memunculkan bias baru, misalnya standar “rapi” yang diterapkan tidak konsisten pada gender atau jabatan.
Goenka berhasil karena ia memakai humor untuk memaksa publik menatap sesuatu yang biasanya dianggap remeh. Ketika “tie optional” bergeser ke “thigh optional”, yang diuji bukan paha, melainkan elastisitas budaya kerja.
Namun ada jebakan dalam debat ini: fokus pada shorts bisa menutupi isu utama, yaitu desain kebijakan kerja yang manusiawi. Yang dibutuhkan bukan sekadar mengizinkan pakaian tertentu, melainkan membuat prinsip yang adil, jelas, dan bisa diterapkan lintas situasi.
Prinsip itu sederhana tetapi tegas: nyaman, aman, sopan, dan sesuai peran. Jika sebuah outfit memenuhi empat syarat itu, kantor seharusnya menilai kinerja, bukan menghakimi bentuk kain.
India yang disebut Goenka memberi contoh menarik karena punya pakaian tradisional yang justru lebih adaptif terhadap panas. Lungi atau dhoti bisa dibaca sebagai solusi iklim, tetapi juga bisa memunculkan politik identitas jika kantor tidak siap mengelola persepsi “formal” yang sudah lama diwariskan.
Di Indonesia, pelajaran yang sama berlaku, meski konteksnya berbeda. Ketika suhu naik dan biaya energi meningkat, fleksibilitas pakaian dapat menjadi bagian dari strategi kesejahteraan pekerja, bukan sekadar tren gaya.
Yang paling penting, diskusi ini menuntut empati dua arah. Pekerja ingin nyaman, dan rekan kerja berhak atas lingkungan yang tidak mengganggu, sehingga standar “pertimbangan untuk orang lain” perlu tertulis, bukan hanya diasumsikan.
Viralnya unggahan Harsh Goenka menunjukkan bahwa dress code kantor adalah medan negosiasi sosial yang selalu hidup. Di balik tawa tentang Batman costume dan “career choices” si dasi, ada pertanyaan serius tentang bagaimana kantor merespons panas ekstrem dan perubahan zaman.
Pilihan terbaik bukan menertawakan shorts atau mengultuskan formalitas, melainkan merumuskan pedoman yang adaptif dan konsisten. Jika kantor ingin produktif, mungkin saatnya bertanya: apakah yang kita lindungi adalah martabat kerja, atau sekadar kebiasaan lama yang belum pernah diuji ulang. (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)