Larissa Chou Gugat Cerai Ikram Rosadi, Alasan Merasa Sendiri

celebrity.okezone.com

celebrity.okezone.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Larissa Chou gugat cerai Ikram Rosadi di Pengadilan Agama Ngamprah, Bandung Barat, setelah tujuh bulan pisah rumah. Kuasa hukum menyebut alasan utama perceraian Larissa Chou adalah rasa sering sendiri saat menjalani rumah tangga dan mengurus anak.

Gugatan cerai itu didaftarkan pada 25 Mei 2026, lalu penjelasan kuasa hukum muncul ke publik pada awal Juli 2026. Nama Larissa Chou dan Ikram Rosadi kembali jadi sorotan karena isu rumah tangga selebgram selalu cepat memantik rasa ingin tahu.

Menurut Made Rediyudana, ketidakcocokan memuncak sejak Oktober 2025 dan berujung cekcok. Dari titik itu, Ikram disebut memilih keluar rumah, dan jarak emosional mulai mengeras jadi kebiasaan.

Pisah rumah sering dianggap jeda untuk menenangkan diri, tetapi juga bisa menjadi pintu normalisasi ketidakhadiran. Dalam kasus ini, jeda tujuh bulan justru mengantar pada keputusan final untuk mengakhiri pernikahan.

Pernyataan “kerap merasa sendiri” terdengar sederhana, tetapi ia menunjuk pada beban mental yang sering tak terlihat. Di banyak keluarga, pengasuhan dan pengelolaan rumah tangga dapat berjalan, namun berjalan di atas punggung satu orang.

Konsep beban ganda dan kerja domestik tak berbayar sudah lama dibahas dalam studi keluarga dan ekonomi rumah tangga. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) berulang kali menyoroti bahwa perempuan secara global mengerjakan porsi terbesar kerja perawatan tak berbayar, yang berdampak pada kesehatan dan partisipasi ekonomi.

Dalam narasi kuasa hukum, masalahnya bukan sekadar pertengkaran, melainkan pola “dilepaskan” dalam peran. Ketika pasangan hadir secara fisik namun absen secara tanggung jawab, relasi berubah menjadi administrasi, bukan kemitraan.

Menariknya, ada catatan bahwa co-parenting tetap berjalan baik meski relasi suami-istri retak. Ikram disebut masih berkomunikasi soal anak dan kerap menjemput putrinya, sehingga konflik tidak sepenuhnya memutus fungsi pengasuhan.

Ini mengingatkan publik pada satu realitas modern: perceraian tidak selalu identik dengan perang terbuka. Banyak pasangan memilih “pisah sebagai pasangan, tetap satu tim sebagai orang tua,” meski praktiknya menuntut kedewasaan dan konsistensi.

Namun co-parenting yang “baik-baik saja” tidak otomatis meniadakan luka yang terjadi sebelum perceraian. Ia justru bisa menjadi bukti bahwa problem utamanya berada pada kualitas kemitraan pernikahan, bukan pada kasih sayang terhadap anak.

Kasus Larissa Chou dan Ikram Rosadi memantulkan pertanyaan lama: apa definisi “menjalani rumah tangga bersama” di era serba sibuk dan serba tampil. Banyak pasangan terlihat utuh di luar, tetapi di dalamnya ada kesepian yang tak punya panggung.

Rasa sendiri dalam pernikahan sering diperlakukan sebagai keluhan emosional, padahal ia juga indikator kegagalan pembagian peran. Ketika pengasuhan dibebankan pada satu pihak, yang lain bisa merasa “membantu” padahal seharusnya “bertanggung jawab.”

Publik juga perlu hati-hati agar tidak mengubah kabar perceraian menjadi tontonan moral. Yang lebih berguna adalah membaca pola, yaitu bagaimana komunikasi, pembagian kerja, dan dukungan psikologis menjadi fondasi yang mudah rapuh jika diabaikan.

Jika benar pisah rumah dimulai dari Oktober 2025, maka ada rentang panjang untuk evaluasi dan perbaikan. Keputusan menggugat setelah tujuh bulan menunjukkan bahwa upaya menunggu perubahan kadang hanya memperpanjang kelelahan.

Di sisi lain, pengakuan bahwa komunikasi soal anak tetap berjalan memberi pesan penting bagi pasangan lain. Konflik dewasa tidak harus menenggelamkan kebutuhan anak, tetapi anak juga tidak boleh dijadikan alasan untuk mempertahankan relasi yang menggerus kesehatan mental.

Perceraian Larissa Chou dan Ikram Rosadi, menurut kuasa hukum, berangkat dari hal yang paling sunyi: merasa sendiri di dalam rumah sendiri. Di titik itu, gugatan cerai bukan sekadar akhir, melainkan penegasan bahwa kemitraan harus setara dan hadir.

Co-parenting yang tetap dijaga memberi harapan bahwa kedewasaan bisa lahir bahkan setelah pernikahan selesai. Pertanyaan yang tersisa untuk kita adalah sederhana namun tajam: apakah kita sedang membangun rumah tangga, atau hanya berbagi atap tanpa benar-benar berbagi beban. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)