9 Hari Terjebak Banjir Nepal, Mukjizat Selamat di Terowongan PLTA
ORBITINDONESIA.COM – Banjir Nepal dan banjir bandang di Sungai Trishuli menyisakan kisah yang nyaris mustahil. Dua pekerja PLTA Upper Trishuli 34 selamat setelah 9 hari terjebak di terowongan yang tertimbun lumpur dan batu.
Bencana terjadi pada 26 Agustus, ketika longsoran es, bebatuan, dan lumpur menyapu lembah Nepal yang berbatasan dengan Tibet, China. Pejabat dan penyelamat menduga runtuhnya gletser di hulu Sungai Trishuli memicu banjir bandang dahsyat.
Reuters melaporkan sedikitnya 1.252 orang tewas di Nepal, lebih dari 4.200 orang masih hilang, dan ribuan mengungsi. Di Tibet, otoritas China mencatat sedikitnya 21 orang tewas dan 541 orang hilang.
Di tengah angka yang brutal itu, dua nama muncul sebagai pengecualian yang mengejutkan. Sanjay Sah dan Kabir Maharjan, pekerja di proyek PLTA, ditemukan hidup di ruang gelap yang seharusnya menjadi kubur.
Sah adalah mandor mekanik dan Maharjan pengawas mekanik, menurut kantor Menteri Energi Nepal Biraj Bhakta Shrestha. Mereka dievakuasi pada 4 September, setelah 9 hari terkunci di terowongan yang terhubung ke PLTA.
Video otoritas Nepal memperlihatkan Maharjan ditarik dari lubang tanah dan dibaringkan di atas tandu. Sah digendong ke tenda penyelamatan dengan wajah berlumuran lumpur, lalu diperiksa tim dokter militer.
Seorang pejabat militer menyebut parameter vital Sah tampak normal dan cederanya tidak kritis. Kondisi Maharjan lebih berat karena dilaporkan tidak dapat menggerakkan tangan dan kaki, lalu keduanya diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu.
Bagian paling penting dari kisah ini bukan hanya evakuasi, melainkan cara evakuasi itu mungkin terjadi. Operasi penyelamatan melibatkan tim ahli yang berkoordinasi lewat grup WhatsApp untuk memandu petugas SAR di lokasi.
Di era bencana iklim, teknologi komunikasi sederhana berubah menjadi alat penentu hidup dan mati. WhatsApp, helikopter, dan alat berat membentuk rantai keputusan cepat yang menekan waktu, ketika setiap jam berarti oksigen dan harapan.
Arnold Dix, ketua International Tunnelling and Underground Space Association, menggambarkan operasi ini sebagai “lapisan demi lapisan keajaiban” kepada BBC. Ia menekankan bahwa pintu masuk terowongan yang dulu berada di lereng bukit kini terkubur, sehingga tim harus lebih dulu “mencari” pintu masuknya.
Dix dan tim menggunakan teknik rekayasa, peta topografi lama, citra satelit pascabencana, rekaman helikopter, dan penanda permukaan seperti tiang listrik. Mereka memperkirakan posisi pintu masuk, lalu menggali sampai menemukan titik yang benar.
Setelah pintu masuk ditemukan, tantangan berubah menjadi pencarian manusia di ruang yang tidak lagi berbentuk ruang. Terowongan tersumbat total oleh lumpur dan batu, termasuk bongkahan yang disebut lebih besar dari mobil.
Tim SAR bahkan memakai bahan peledak, sesuatu yang “biasanya tidak pernah” dilakukan, kata Dix. Risikonya ganda, karena ledakan bisa melukai korban yang terjebak dan membahayakan penyelamat di ruang sempit.
Catatan penting lain muncul dari skala ancaman yang disebut pejabat setempat. Mereka meyakini runtuhnya gletser membuat setidaknya 900 orang sempat terjebak di terowongan terkait enam proyek PLTA di sepanjang sungai.
Angka itu menunjukkan satu hal yang sering luput dalam liputan bencana. Infrastruktur energi di kawasan pegunungan tidak hanya rentan terhadap cuaca ekstrem, tetapi juga menciptakan kantong risiko baru ketika pekerja berada di bawah tanah.
Kisah dua penyintas ini mudah dibaca sebagai mukjizat, dan publik memang memerlukan harapan di tengah duka. Namun mukjizat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pertanyaan tentang kesiapsiagaan, desain keselamatan, dan tata kelola risiko.
Jika pintu masuk terowongan bisa tertimbun hingga “hilang” dari permukaan, maka standar mitigasi longsor dan banjir bandang harus diperlakukan sebagai syarat utama, bukan pelengkap proyek. Pembangunan PLTA di lembah curam Himalaya menuntut peta bahaya yang diperbarui, bukan asumsi berdasarkan pola lama.
Koordinasi ahli lewat grup WhatsApp memang efektif, tetapi itu juga mengisyaratkan ketergantungan pada improvisasi saat krisis. Negara dan operator proyek perlu memastikan protokol komunikasi darurat, sensor pemantauan, dan jalur evakuasi tidak bergantung pada keberuntungan sinyal dan inisiatif individu.
Tragedi ini juga menyingkap paradoks energi bersih. PLTA sering dipromosikan sebagai jawaban atas krisis iklim, tetapi krisis iklim pula yang memperbesar risiko gletser runtuh, longsor, dan banjir bandang.
Karena itu, narasi “pembangunan hijau” harus disertai kalkulasi korban, bukan hanya kalkulasi kilowatt. Tanpa disiplin keselamatan dan transparansi data, energi terbarukan bisa berubah menjadi proyek yang memperdagangkan nyawa demi target listrik.
Di Nepal, dua orang keluar dari terowongan setelah 9 hari, dan dunia menyaksikan batas tipis antara hidup dan mati. Di saat yang sama, ribuan keluarga masih mencari yang hilang, sementara angka korban tewas terus menjadi pengingat bahwa bencana tidak pernah adil.
Kisah Sah dan Maharjan seharusnya tidak berhenti sebagai cerita heroik. Ia harus menjadi alarm bahwa banjir Nepal dan banjir bandang Himalaya akan berulang, dan setiap proyek di wilayah rapuh wajib menjawab satu pertanyaan: apakah keselamatan manusia benar-benar menjadi desain utama, atau hanya catatan kaki setelah tragedi?
(Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)