Narudin Pituin: Inovasi Metodologis Puisi Esai Denny JA
Oleh Narudin Pituin
ORBITINDONESIA.COM - Hubungan antara sejarah (historiografi) dan sastra selalu berada dalam ketegangan yang produktif.
Sejarah arus utama sering kali terjebak dalam kodifikasi angka dan laporan formal yang kering—sebuah fenomena yang oleh psikolog Paul Slovic disebut sebagai psychic numbing, yaitu kecenderungan hilangnya empati manusia ketika korban tragedi hanya disajikan sebagai statistik.
Menanggapi keterbatasan metodologis ini, genre Puisi Esai yang diinisiasi oleh Denny JA sejak tahun 2012 menawarkan sebuah terobosan baru.
Melalui penerbitan delapan buku edisi bahasa Inggrisnya (Penerbit CBI, 2026), genre ini berupaya menjembatani fakta empiris sejarah dengan ruang batin emosional manusia yang sering kali terabaikan.
Kekuatan epistemologis dari puisi esai terletak pada kemampuannya melakukan rekonsiliasi antara apa yang disebut Tim O’Brien (1990) sebagai factual truth (kebenaran faktual) dan story truth (kebenaran cerita).
Dalam lanskap ini, sastra tidak hadir untuk menggantikan atau mendistorsi historiografi, melainkan bertindak sebagai suplemen diskursif yang krusial. Sesuai dengan pandangan Hayden White (1987) mengenai narativitas sejarah, representasi masa lalu selalu membutuhkan struktur naratif agar dapat dipahami.
Struktur penulisan puisi esai yang mempertahankan catatan kaki (footnote) menjaga agar narasi tetap berpijak pada fakta yang dapat diverifikasi secara akademis, sementara sayap imajinasi puitis bekerja mengisi kekosongan emosional (emotional voids) yang diabaikan oleh arsip resmi negara.
Pendekatan ini sejalan dengan tradisi historical fiction modern yang dirintis oleh Leo Tolstoy dalam War and Peace (1869). Tolstoy menolak konsep Great Man History yang mengagungkan penguasa, dan memilih fokus pada keputusan-keputusan kecil manusia biasa di tengah badai sejarah.
Denny JA (Penerbit CBI, 2026) menerapkan semangat serupa: fokus dialihkan dari para pemenang kontestasi politik ke para korban yang tersisih, seperti korban kerusuhan Mei 1998 (Fang Yin dan Koh Enlai), keluarga korban penghilangan paksa (Lina), hingga eksil politik 1965.
Dengan cara ini, puisi esai menjalankan fungsi etisnya—meminjam istilah Martha C. Nussbaum (1995)—sebagai instrumen poetic justice (keadilan puitis) yang mengembalikan hak suara kepada mereka yang dibungkam oleh sejarah formal.
Kendati menawarkan inovasi yang menggugah empati, hibriditas genre ini membawa risiko epistemologis yang signifikan. Pertemuan antara fakta tekstual dan imajinasi dramatik berpotensi melahirkan bias pandangan, pengaburan konteks makro, atau penyederhanaan kausalitas sejarah yang rumit demi pemenuhan estetika puitis.
Susan Sontag (2003) dalam analisisnya mengenai representasi penderitaan mengingatkan adanya bahaya voyeurisme emosional.
Jika tidak dikelola dengan ketat, penderitaan manusia dalam sejarah berisiko tereduksi menjadi sekadar romantisme atau komodifikasi sentimentalitas yang kehilangan kedalaman politiknya.
Puisi esai dituntut untuk tidak hanya meratapi korban, tetapi juga mampu membongkar struktur kekuasaan yang menyebabkan penderitaan tersebut.
Oleh karena itu, pembaca dituntut untuk tetap mempertahankan distansi kritis agar tidak terjebak dalam katarsis emosional sesaat, melainkan terlibat dalam refleksi analitis yang lebih mendalam.
Delapan buku puisi esai Denny JA (Penerbit CBI, 2026) berhasil membuktikan bahwa sastra mampu mengembalikan "jiwa" ke dalam tubuh sejarah yang membeku.
Melalui perluasan tema dari trauma personal menuju krisis ekologis global—seperti dalam buku Under the Shadow of Disaster—puisi esai menegaskan relevansinya di panggung internasional sebagai alat advokasi kemanusiaan universal.
Pada akhirnya, genre ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai hanya karena sebuah rezim runtuh atau perang usai; sejarah baru benar-benar selesai ketika manusia berhenti mengingat dan memanusiakan para korbannya. #
(2026)
DAFTAR PUSTAKA
CBI, Penerbit. 2026. Sejarah dalam Delapan Buku Puisi Esai @Denny Ja3 , Edisi Bahasa Inggris. Jakarta.
Nussbaum, Martha C. 1995. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. Beacon Press.
O’Brien, Tim. 1990. The Things They Carried. Houghton Mifflin.
Sontag, Susan. 2003. Regarding the Pain of Others. Farrar, Straus and Giroux.
Tolstoy, Leo. 1869. War and Peace. The Russian Messenger.
White, Hayden. 1987. The Content of the Form: Narrative Discourse and Historical Representation. Johns Hopkins University Press. ***