Anak Pejabat yang Memilih Menjadi Kuli Bangunan
Di sebuah proyek bangunan di Tidore Kepulauan, seorang pemuda tampak sibuk bekerja bersama para tukang lainnya. Tangannya sigap mengangkat material bangunan di bawah terik matahari. Tak ada perlakuan istimewa yang membedakannya dari para pekerja lain. Tak banyak yang tahu, pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu merupakan putra seorang pejabat daerah.
Pemuda tersebut bernama Muhammad Rafdi Marajabessy, putra ketiga Muhammad Sinen yang saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan. Namun status sebagai anak pejabat tidak lantas membuat Rafdi memanfaatkan berbagai privilese yang melekat pada keluarganya. Alih-alih mengandalkan jabatan sang ayah, Rafdi justru tidak malu memulai langkahnya dari bawah dan membentuk kemandiriannya melalui pengalaman bekerja sejak usia muda.
Saat duduk di bangku kelas satu SMA, Rafdi sudah terbiasa bekerja sebagai kuli bangunan. Ia menjalani pekerjaan yang bagi sebagian orang dianggap berat, bahkan kerap dipandang sebelah mata. Di saat banyak remaja seusianya menghabiskan waktu luang untuk bermain atau berkumpul bersama teman-teman, Rafdi justru belajar mengenal arti kerja keras dari lokasi proyek. Pilihan tersebut bukan lahir karena tuntutan ekonomi keluarga. Melainkan karena nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil oleh sang ayah.
Rafdi dibesarkan dengan nilai bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir secara instan. Karena itu, ia memegang teguh prinsip yang selalu diingatnya hingga kini. "Hidup itu keras, kerja harus mulai dari bawah," kata Rafdi. Bagi dirinya, jabatan orang tua bukan alasan untuk menghindari proses, melainkan pengingat untuk bekerja lebih keras dan membuktikan kemampuan dengan usahanya sendiri. Karena itulah ia tidak pernah menjadikan posisi sang ayah sebagai jalan pintas untuk memperoleh kemudahan.
Tidak sedikit cibiran yang mempertanyakan mengapa anak seorang pejabat memilih bekerja sebagai kuli bangunan. Namun komentar-komentar itu tidak membuatnya berubah pikiran. Baginya, pekerjaan yang dilakukan dengan jujur tidak pernah menjadi sesuatu yang memalukan. Pengalaman yang ia cari juga tidak berhenti di proyek bangunan. Rafdi pernah bekerja di kapal ikan untuk menambah pengalaman hidup. Berbagai pekerjaan tersebut memberinya kesempatan melihat langsung bagaimana masyarakat bekerja dan berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pengalaman itu pula yang membuatnya memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mudah. Ada banyak orang yang harus bekerja sejak pagi hingga malam hanya untuk menghidupi keluarga mereka. Ada pula mereka yang tetap bertahan meski menghadapi berbagai keterbatasan. Di situlah Rafdi belajar menghargai setiap proses.
Pekerjaan sebagai kuli bangunan mungkin bukan pekerjaan yang dianggap bergengsi oleh sebagian orang. Namun dari pekerjaan itulah Rafdi belajar tentang tanggung jawab, menghargai jerih payah, dan memahami kehidupan masyarakat dari dekat. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak ia peroleh dari jabatan sang ayah, melainkan dari pengalaman yang dijalaninya sendiri.
Kisah Rafdi mengajarkan bahwa privilese dari orang tua bukanlah hal yang menentukan masa depan seseorang. Nilai kehidupan yang paling utama adalah kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri.
Di saat banyak orang berlomba mencari jalan yang instan, hanya sedikit yang memilih memulai dari bawah dan menghargai setiap proses yang membentuk dirinya.