Efisiensi Biaya Bantuan Kemanusiaan: IRC Dorong MOST Atasi Malnutrisi

ORBITINDONESIA.COM – Efisiensi biaya bantuan kemanusiaan kembali jadi kata kunci ketika pendanaan menyusut, sementara krisis malnutrisi anak tak menunggu. International Rescue Committee (IRC) menggandakan taruhan pada “cost evidence” lewat inisiatif MOST untuk membuat setiap dolar menolong lebih banyak anak.

Akut malnutrisi masih menghantui lebih dari 40 juta anak di dunia, tetapi akses pengobatan tertinggal jauh dari kebutuhan. Artikel ini menegaskan ironi yang keras: perawatan efektif tersedia, namun kurang dari satu dari tiga anak menerima terapi yang dibutuhkan.

Di saat yang sama, kontrak pendanaan kemanusiaan makin ketat dan pengeluaran bantuan diawasi lebih tajam. Konsekuensinya sederhana namun brutal, program dipaksa memilih siapa yang ditolong lebih dulu.

Di konteks inilah IRC melalui Airbel Impact Lab mengumumkan dukungan baru dari Weiss Asset Management Foundation senilai hampir US$1 juta. Dana itu diarahkan untuk Malnutrition Optimization to Scale Treatment (MOST), dipimpin IRC melalui Dioptra Consortium.

MOST menargetkan peningkatan efisiensi biaya program malnutrisi Dioptra sebesar 20 persen, angka yang terdengar teknokratis tetapi berdampak nyata. IRC menyebut pergeseran ini berpotensi membuat “puluhan ribu” anak tambahan bisa diobati dengan sumber daya yang sama.

Inti strategi MOST bukan sekadar menambah anggaran, melainkan mengubah cara keputusan program dibuat. Dioptra diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan analisis cost-efficiency yang bisa dibandingkan lintas konteks dan model implementasi.

Rencana kerjanya terstruktur dan pragmatis, dimulai dari mengidentifikasi pertanyaan keputusan yang paling “mengunci” pemborosan. Lalu, data konsorsium dipakai untuk memodelkan kebutuhan sumber daya serta dampak efisiensi dari pilihan desain program.

Langkah berikutnya adalah mengubah temuan menjadi rekomendasi publik yang praktis bagi pelaksana dan donor. Ini penting karena banyak evaluasi biaya berhenti di laporan internal, tidak pernah menjadi standar bersama di sektor.

Paige Kirby dari IRC menekankan bahwa analisis berbasis Dioptra di sektor lain telah mendorong perubahan model layanan, desain ulang intervensi, hingga realokasi sumber daya. Contoh yang disebut termasuk penyesuaian moda pelatihan pada program pendidikan dan optimasi rantai pasok pada bantuan pangan.

Dioptra Consortium sendiri menaungi organisasi besar yang mengimplementasikan sekitar US$5 miliar program bantuan per tahun. Subset MOST untuk malnutrisi mencakup IRC, CARE, Save the Children, Mercy Corps, Catholic Relief Services, dan Acción contra el Hambre.

Pernyataan Leigh Fraiser dari Weiss Asset Management Foundation menegaskan logika donor saat ini: “funding-constrained environment” menuntut program yang evidence-based, cost-effective, dan scalable. Ia menyebut pendekatan Dioptra yang “rigorous” dan “real-time” dapat memperluas cakupan layanan penyelamatan nyawa pada skala besar.

Efisiensi biaya bantuan kemanusiaan sering terdengar seperti jargon akuntansi, tetapi di lapangan ia berarti jumlah anak yang sempat mendapat terapi sebelum stok habis. Ketika dana menyusut, efisiensi bukan hanya pilihan manajerial, melainkan keputusan moral yang menentukan siapa yang tertolong.

Namun ada risiko yang harus diakui, obsesi “value for money” bisa mendorong program mengejar angka paling murah dan melupakan konteks paling sulit. Wilayah konflik, daerah terpencil, dan komunitas yang terpinggirkan hampir selalu lebih mahal, tetapi justru di sanalah kebutuhan paling mematikan.

Karena itu, “cost evidence” harus dibaca sebagai alat untuk memilih desain terbaik, bukan alasan untuk menghindari lokasi mahal. Efisiensi yang sehat semestinya menghitung kualitas layanan, ketepatan sasaran, dan keberlanjutan rantai pasok, bukan sekadar biaya per paket terapi.

Kirby juga mengkritik framing LSM sebagai “perantara” aliran dana, karena itu mengecilkan peran keputusan harian di komunitas. Jika LSM diperlakukan hanya sebagai penyalur, maka pembelajaran operasional yang membuat program lebih efektif ikut hilang dari meja kebijakan.

Di titik ini, MOST menarik karena menjanjikan pembuktian yang dapat dibandingkan lintas organisasi, bukan klaim efisiensi sepihak. Tetapi transparansi harus konsisten, rekomendasi publik perlu disertai batasan data dan asumsi model agar tidak berubah menjadi “angka sakti” yang kebal kritik.

Inisiatif MOST menunjukkan arah baru, efisiensi biaya bantuan kemanusiaan dijadikan strategi penyelamatan nyawa, bukan sekadar penghematan. Target 20 persen efisiensi adalah pengingat bahwa ruang perbaikan sering tersembunyi di desain program, logistik, dan keputusan operasional.

Di tengah 40 juta anak yang terdampak akut malnutrisi dan cakupan terapi yang masih timpang, pertanyaannya bukan hanya berapa dana yang terkumpul. Pertanyaannya, apakah sektor kemanusiaan berani menjadikan bukti biaya sebagai kebiasaan bersama, tanpa mengorbankan mereka yang paling sulit dijangkau.

Pada akhirnya, setiap dolar memang harus “pergi lebih jauh,” tetapi arah perginya harus tetap menuju yang paling membutuhkan. Efisiensi yang paling bernilai adalah yang memperluas belas kasih, bukan yang menyempitkan tanggung jawab. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)