Menulis Ulang Sejarah Kiri Indonesia dari Perspektif Global
Cover buku “The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party.”
Review BukuLin Hongxuan, Klaas Stutje, dan Rianne Subijanto (editor). “The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party.” Penerbit: Leiden University Press, 2026.
ORBITINDONESIA.COM - Selama puluhan tahun, sejarah gerakan kiri di Indonesia hampir selalu ditulis melalui satu lensa yang sama: Partai Komunis Indonesia (PKI), pemberontakan, dan tragedi 1965. Narasi tersebut begitu dominan sehingga sejarah kiri Indonesia sering kali berhenti pada pertanyaan sederhana: bagaimana PKI tumbuh dan mengapa ia runtuh?
Buku “The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party” hadir untuk menantang cara pandang yang sudah mengakar itu. Diterbitkan oleh Leiden University Press pada 2026, buku yang disunting oleh Lin Hongxuan, Klaas Stutje, dan Rianne Subijanto ini mengajak pembaca keluar dari narasi yang semata-mata berpusat pada PKI.
Sesuai dengan subjudulnya, “Beyond the Rise and Fall of a Party,” buku ini ingin melampaui kisah tentang naik dan jatuhnya sebuah partai, untuk melihat gerakan kiri Indonesia sebagai fenomena sosial, budaya, dan intelektual yang jauh lebih luas.
Buku ini lahir dari semangat generasi baru para sejarawan yang berupaya membuka kembali ruang kajian mengenai gerakan kiri Indonesia setelah sekian lama topik tersebut cenderung dibatasi oleh trauma politik maupun pendekatan historiografi yang sempit.
Para penyunting berpendapat bahwa memahami sejarah Indonesia abad ke-20 tidak mungkin dilakukan secara utuh apabila sejarah gerakan kiri hanya dipandang sebagai catatan tentang konflik ideologi atau keamanan negara.
Alih-alih memulai dari tragedi 1965, buku ini mengajak pembaca melihat bagaimana gagasan-gagasan kiri berkembang sejak masa kolonial. Di dalamnya diperlihatkan bahwa sosialisme, komunisme, anti-imperialisme, dan berbagai bentuk gerakan buruh maupun organisasi rakyat bukanlah sekadar "produk impor" dari Moskow atau Beijing.
Ide-ide tersebut mengalami proses penerjemahan, penyesuaian, bahkan transformasi sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan politik Indonesia. Dengan kata lain, gerakan kiri Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pusat-pusat komunisme dunia, tetapi juga dibentuk oleh realitas lokal dan dinamika masyarakat Nusantara sendiri.
Inilah salah satu kekuatan utama buku ini. Para penulis tidak memosisikan Indonesia sebagai objek pasif dalam sejarah global, melainkan sebagai aktor yang ikut membentuk percakapan internasional mengenai kolonialisme, nasionalisme, dan gerakan anti-imperialis.
Indonesia ditempatkan dalam jejaring yang menghubungkan Asia, Eropa, hingga dunia komunis internasional. Hubungan dengan Moskow dan Beijing memang penting, tetapi bukan satu-satunya penjelas atas perkembangan gerakan kiri di Indonesia.
Buku ini juga memperluas perhatian kepada aktor-aktor yang selama ini sering berada di pinggiran sejarah. Selain tokoh dan elite partai, pembaca diajak mengenal peran organisasi massa, buruh, perempuan, jaringan budaya, intelektual, hingga komunitas lokal yang ikut membentuk wajah gerakan kiri.
Pendekatan seperti ini membuat sejarah menjadi lebih kaya, karena memperlihatkan bahwa sebuah gerakan politik tidak hanya hidup melalui pidato para pemimpin, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari para anggotanya.
Secara metodologis, buku ini juga menunjukkan perubahan penting dalam studi Indonesia. Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai PKI banyak didominasi pendekatan politik tingkat elite.
Kini muncul kecenderungan baru yang menggabungkan sejarah global, sejarah sosial, studi gender, kajian arsip lintas negara, hingga pendekatan transnasional. Pergeseran inilah yang membuat buku ini terasa segar dibandingkan karya-karya terdahulu.
Namun, buku ini bukanlah karya yang mudah dibaca oleh pembaca umum. Sebagai buku akademik, bahasanya cukup padat dengan konsep-konsep historiografi dan analisis lintas disiplin. Mereka yang mencari narasi kronologis sederhana tentang PKI mungkin akan merasa buku ini lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban yang pasti.
Akan tetapi, justru di situlah nilai ilmiahnya. Buku ini tidak bermaksud menggantikan sejarah resmi dengan sejarah tandingan, melainkan memperluas cara kita memahami masa lalu.
Bagi pembaca Indonesia, buku ini menawarkan pelajaran yang penting. Sejarah selalu lebih rumit daripada narasi hitam-putih. Gerakan kiri Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah tentang kemenangan atau kekalahan sebuah partai.
Ia juga merupakan bagian dari pergulatan panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi kolonialisme, mencari keadilan sosial, membangun identitas nasional, dan berinteraksi dengan arus pemikiran dunia.
Karena itu, “The Indonesian Left in the Twentieth Century” layak dibaca bukan hanya oleh sejarawan, tetapi juga oleh mahasiswa, peneliti, jurnalis, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana sejarah Indonesia dibentuk oleh perjumpaan antara gagasan global dan pengalaman lokal.
Buku ini tidak mengajak pembaca menerima satu kesimpulan tertentu, melainkan mengajak melihat sejarah dengan perspektif yang lebih luas, lebih kritis, dan lebih terbuka terhadap kompleksitas.
Pada akhirnya, kontribusi terbesar buku ini bukanlah merehabilitasi atau menghakimi gerakan kiri Indonesia. Kontribusinya justru terletak pada upaya memperkaya historiografi Indonesia.
Dengan menggeser fokus dari sekadar "naik dan jatuhnya PKI" menuju jaringan ide, manusia, organisasi, dan hubungan transnasional yang membentuknya, buku ini memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia abad ke-20 jauh lebih kaya, berlapis, dan terhubung dengan dinamika dunia daripada yang selama ini banyak dibayangkan.
Itulah yang menjadikan buku ini salah satu karya akademik paling penting tentang sejarah politik Indonesia yang terbit pada 2026. ***
Satrio Arismunandar, mantan DPP SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) 1990-an era Orde Baru. WA: 081286299061. #