Buku Klasik Erich Fromm tentang Memahami Mimpi, Dongeng, dan Mitos
ORBITINDONESIA.COM - Buku “The Forgotten Language: An Introduction to the Understanding of Dreams, Fairy Tales and Myths” adalah salah satu karya Erich Fromm yang menarik karena berada di persimpangan psikoanalisis, filsafat, mitologi, agama, sastra, dan pencarian makna manusia.
The Forgotten Language diterbitkan pertama kali pada 1951. Gagasan utamanya sederhana tetapi dalam: manusia sebenarnya memiliki sebuah bahasa simbolik yang dahulu dipahami secara intuitif, tetapi kemudian “dilupakan” oleh manusia modern. Bahasa itu muncul terutama dalam mimpi, mitos, dongeng, dan berbagai simbol kebudayaan.
Menurut Fromm, manusia modern terlalu terbiasa menggunakan bahasa rasional dan logis untuk memahami dunia. Kita mengatakan sesuatu secara langsung: “Saya takut”, “Saya mencintai seseorang”, “Saya ingin bebas”. Tetapi dalam mimpi, mitos, dan dongeng, pengalaman batin manusia tidak berbicara dengan cara seperti itu. Ia berbicara melalui simbol.
Seorang manusia mungkin bermimpi sedang jatuh. Secara harfiah, ia memang sedang jatuh dalam mimpinya. Tetapi bagi Fromm, yang lebih penting adalah apa makna psikologis dari pengalaman jatuh tersebut.
Demikian pula dengan air, api, perjalanan, rumah, hutan, kematian, kelahiran, raja, naga, ibu, ayah, atau perjalanan menuju tempat yang tidak dikenal. Semua itu dapat menjadi simbol dari pengalaman manusia yang lebih dalam.
Fromm kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat menarik: Bagaimana kalau mimpi sebenarnya bukan sesuatu yang absurd, melainkan pesan yang ditulis dalam bahasa yang sudah tidak kita kuasai lagi? Dari sinilah muncul judul “The Forgotten Language” — bahasa yang terlupakan.
Mimpi sebagai bahasa
Fromm berbeda dari pandangan yang menganggap mimpi sekadar kekacauan aktivitas otak. Ia juga tidak menerima begitu saja gagasan bahwa simbol mimpi selalu memiliki arti yang sama bagi setiap manusia.
Sebaliknya, ia mencoba memahami mimpi sebagai ekspresi pengalaman manusia yang menggunakan simbol. Misalnya, seseorang bermimpi kehilangan rumah. Rumah tidak harus sekadar berarti bangunan. Rumah dapat melambangkan diri, rasa aman, keluarga, atau kehidupan seseorang.
Dengan demikian, memahami mimpi bukan sekadar mencari kamus: rumah = keluarga; air = emosi; ular = sesuatu tertentu. Bagi Fromm, penafsiran semacam itu terlalu mekanis.
Yang harus ditanyakan adalah: Apa hubungan simbol tersebut dengan kehidupan konkret orang yang mengalaminya? Di sinilah interpretasi mimpi menjadi semacam seni membaca bahasa batin.
Mengapa mitos begitu penting?
Fromm kemudian memperluas gagasan tersebut dari mimpi kepada mitos. Mitos bagi Fromm bukan sekadar cerita masyarakat primitif yang belum mengenal ilmu pengetahuan. Mitos adalah cara manusia berbicara tentang problem eksistensial yang universal.
Mengapa manusia takut mati? Mengapa manusia mencari cinta? Mengapa manusia ingin bebas tetapi sekaligus takut terhadap kebebasan? Mengapa manusia berkonflik antara dorongan individual dan kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih tua daripada psikologi modern. Manusia menjawabnya melalui mitos.
Karena itu, kisah tentang Adam dan Hawa, Oedipus, Prometheus, atau berbagai pahlawan dan dewa dapat dibaca sebagai simbolisasi problem psikologis dan eksistensial manusia.
Dongeng juga bukan sekadar cerita anak-anak
Bagian menarik lainnya adalah pembahasan Fromm mengenai fairy tales atau dongeng. Kita sering menganggap dongeng seperti Cinderella, Hansel and Gretel, atau cerita tentang pahlawan yang menghadapi monster sebagai hiburan anak-anak.
Fromm melihatnya secara berbeda. Dongeng menyampaikan persoalan yang sangat serius: ketakutan; kesepian; cinta; kecemburuan; konflik antara anak dan orang tua; kematian; kejahatan; keberanian; pertumbuhan; dan pencarian identitas.
Karena disampaikan melalui simbol dan cerita, persoalan-persoalan tersebut dapat dipahami tanpa harus dijelaskan secara teoritis. Dalam pengertian ini, dongeng merupakan psikologi manusia dalam bentuk narasi.
Fromm dan Freud: ada perbedaan penting
Buku ini juga menarik karena memperlihatkan posisi Fromm yang tidak sepenuhnya identik dengan Freud. Freud terutama melihat mimpi dalam hubungan dengan ketidaksadaran, dorongan seksual, represi, dan konflik psikologis.
Fromm menerima pentingnya ketidaksadaran, tetapi cakrawalanya lebih luas. Ia memasukkan: cinta, kebebasan, kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan orang lain, nilai-nilai kemanusiaan, dan persoalan eksistensial.
Dengan kata lain, Fromm tidak hanya bertanya: “Dorongan tersembunyi apa yang sedang bekerja?” tetapi juga: “Apa yang sedang dikatakan pengalaman ini tentang kehidupan manusia?”
Perbedaan ini penting karena membuat The Forgotten Language terasa lebih dekat kepada humanisme dan filsafat eksistensial daripada psikoanalisis Freud yang lebih ortodoks.
Hubungannya dengan sastra
Nah, di sinilah buku Fromm menjadi sangat menarik jika dibaca dari perspektif sastra. Sastra pada dasarnya juga merupakan bahasa simbolik.
Novel, puisi, mitos, legenda, cerita rakyat, bahkan metafora dalam sebuah kalimat dapat mengatakan sesuatu yang tidak dapat dikatakan secara langsung.
Misalnya seorang penyair tidak mengatakan: “Saya sedang mengalami krisis identitas.” Ia mungkin menulis tentang rumah yang kosong, jalan yang tidak memiliki ujung, malam yang panjang, atau seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri.
Bagi Fromm, simbol semacam itu bukan hiasan bahasa. Ia merupakan cara manusia mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam daripada bahasa literal.
Karena itu, The Forgotten Language dapat dibaca sebagai semacam jembatan antara psikologi dan sastra. Dan ini sangat relevan dengan sastra Indonesia. Kalau gagasan Fromm dibawa ke Indonesia, cakupannya bahkan menjadi lebih menarik.
Kita memiliki kekayaan luar biasa dalam bentuk: wayang; mitologi Nusantara; legenda; cerita rakyat; hikayat; kaba Minangkabau; cerita Panji; tradisi lisan; simbol-simbol sufistik; dan berbagai kisah tentang perjalanan spiritual.
Misalnya Malin Kundang dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang anak durhaka, tetapi sebagai simbol mengenai hubungan anak dan ibu, mobilitas sosial, identitas, rasa malu terhadap asal-usul, serta konsekuensi memutus akar kehidupan.
Demikian pula Bima dalam tradisi wayang, terutama kisah Dewa Ruci, dapat dibaca sebagai perjalanan simbolik manusia menuju pengetahuan tentang dirinya sendiri.
Dalam perspektif Fromm, cerita seperti itu tidak perlu dipertentangkan antara “benar-benar terjadi” dan “tidak benar-benar terjadi”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Kebenaran psikologis dan eksistensial apa yang disimpan oleh cerita tersebut?
Ini pula yang membuat kisah sufistik sangat cocok dibaca melalui Fromm. Perjalanan seorang salik, misalnya, dapat dipahami sekaligus sebagai perjalanan geografis, perjalanan spiritual, dan perjalanan ke dalam diri manusia.
“Bahasa yang terlupakan” itu sebenarnya apa?
Ini inti pemikiran Fromm. Manusia modern menganggap dirinya semakin rasional, semakin ilmiah, dan semakin mampu mengendalikan dunia.
Tetapi ada harga yang dibayar: kita semakin kehilangan kemampuan membaca simbol. Kita memahami kata, tetapi tidak memahami makna di balik kata. Kita memahami informasi, tetapi tidak selalu memahami pengalaman. Kita mampu menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, tetapi tidak selalu mampu menjawab apa artinya bagi kehidupan manusia.
Maka “bahasa yang terlupakan” bukan berarti bahasa kuno tertentu. Ia adalah kemampuan manusia memahami simbol, mimpi, mitos, dan pengalaman batin sebagai bentuk komunikasi yang bermakna.
Mengapa buku ini masih relevan?
Menurut saya, justru di era AI dan banjir informasi, gagasan Fromm menjadi semakin menarik. AI sangat kuat dalam bahasa literal: kata, struktur, informasi, hubungan antarteks. Tetapi persoalan manusia tidak pernah hanya berupa informasi.
Sebuah puisi bukan sekadar kumpulan kata. Sebuah mitos bukan sekadar cerita. Sebuah mimpi bukan sekadar gambar acak. Dan sebuah simbol tidak selalu dapat direduksi menjadi definisi tunggal.
Di sinilah The Forgotten Language memberikan pertanyaan yang sangat relevan untuk zaman AI: Jika mesin semakin mampu menghasilkan bahasa, apakah manusia justru perlu kembali belajar memahami bahasa yang lebih tua daripada bahasa mesin—bahasa simbol, mimpi, mitos, dan pengalaman batin?
Itu menurut saya merupakan salah satu alasan mengapa buku Fromm masih layak dibaca lebih dari tujuh dekade setelah pertama kali diterbitkan.
Singkatnya, The Forgotten Language bukan buku tentang bagaimana menafsirkan mimpi semata. Ia adalah buku tentang bagaimana manusia kehilangan kemampuan membaca dirinya sendiri—dan bagaimana mimpi, mitos, dongeng, agama, serta sastra dapat membantu manusia menemukan kembali bahasa tersebut.
(Satrio Arismunandar)