Watsons Women’s University Tour: Edukasi Kesehatan Reproduksi Mahasiswi

Inquirer.net

Inquirer.net

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Watsons Women’s University Tour memulai langkahnya di Philippines Women’s University, menargetkan kebutuhan paling dasar namun sering canggung dibicarakan: kesehatan reproduksi dan self-care mahasiswi. Di balik booth interaktif dan forum pakar, tur ini menguji satu pertanyaan publik: apakah edukasi wellness kampus bisa lepas dari bayang-bayang promosi ritel.

Masa kuliah adalah periode transisi yang memadatkan tekanan akademik, jam tidur berantakan, dan pola makan tidak teratur. Pada saat yang sama, banyak mahasiswi baru mulai menghadapi isu menstruasi, nyeri haid, kesehatan kulit, hingga kesehatan mental tanpa pendampingan memadai.

Filipina juga masih bergulat dengan kesenjangan literasi kesehatan seksual dan reproduksi, terutama pada kelompok muda. Data UNFPA menunjukkan kehamilan remaja tetap menjadi isu besar di negara itu, dengan ratusan ribu kelahiran dari ibu usia 10–19 tahun dalam beberapa tahun terakhir.

Di ruang publik yang sering menilai tubuh perempuan sebagai urusan privat, percakapan tentang nyeri haid, kontrasepsi, atau kebersihan organ intim mudah berubah menjadi bisik-bisik. Karena itu, kampus menjadi arena strategis untuk membangun bahasa yang aman, ilmiah, dan tidak menghakimi.

Peluncuran Watsons Women’s University Tour pada 10 Juli di Philippines Women’s University menampilkan format yang familiar tetapi efektif: diskusi pakar, sesi tanya jawab, dan aktivasi booth. Watsons menghadirkan farmasis, ahli kesehatan dan kecantikan, serta mitra merek seperti Fern-C, Buscopan Venus, Bayer, Stresstabs, dan Sisters.

Nilai utama acara ini ada pada normalisasi pertanyaan yang sering ditahan, dari keluhan menstruasi sampai pilihan perawatan diri yang aman. Ketika mahasiswa laki-laki ikut duduk dan mendengar, pesan simboliknya kuat: kesehatan perempuan bukan urusan “perempuan saja”, melainkan pengetahuan sosial.

Namun, format “edukasi + pengalaman produk” juga memunculkan dilema klasik literasi kesehatan modern. Ketika solusi dipresentasikan melalui rak dan promo, risiko reduksi masalah struktural menjadi masalah belanja ikut mengintip.

Watsons menyebut kampanye tahun ini, WE: The Power of Women, sebagai upaya membangun komunitas yang informed, supported, dan empowered. Narasi komunitas ini penting, karena banyak anak muda lebih percaya pada ruang aman sebaya ketimbang ceramah satu arah.

Di sisi lain, industri ritel kesehatan memang berada di garis depan akses, terutama ketika layanan primer tidak selalu mudah dijangkau. Ketersediaan produk, konsultasi farmasis, dan kanal digital seperti Watsons App bisa menjadi jembatan praktis bagi mahasiswa yang butuh solusi cepat.

Watsons juga menonjolkan kemudahan Click & Collect Express dan Home Delivery Express, yang menjanjikan pengambilan cepat hingga 30 menit di beberapa lokasi. Fitur ini relevan untuk kebutuhan mendadak, tetapi tetap perlu diimbangi edukasi: kapan swamedikasi cukup, kapan harus ke dokter.

Tur kampus seperti ini menunjukkan perubahan lanskap kesehatan: edukasi tidak lagi monopoli institusi medis, tetapi hadir lewat ekosistem merek. Ini bisa memperluas jangkauan, tetapi juga menuntut transparansi agar “sains” tidak menjadi stempel untuk mendorong konsumsi.

Kutipan Danilo S. Chiong, Managing Director Watsons Philippines, menekankan efek domino pengetahuan: “Even the smallest act of sharing what you’ve learned… can make a meaningful difference.” Kalimat itu tepat, tetapi akan lebih kuat bila disertai komitmen yang terukur, misalnya modul edukasi terbuka atau rujukan layanan kesehatan kampus.

Isu paling penting bukan sekadar produk apa yang dibeli, melainkan kemampuan mahasiswa membaca gejala dan mengambil keputusan sehat. Nyeri haid, misalnya, bisa normal, tetapi juga bisa menandai kondisi seperti endometriosis yang sering terlambat terdeteksi.

Jika Watsons ingin benar-benar menjadi “trusted partner”, maka standar etik edukasi harus jelas. Materi harus memprioritaskan tanda bahaya, batas aman penggunaan obat, dan rujukan profesional, bukan hanya daftar item yang “wajib ada”.

Keikutsertaan mahasiswa laki-laki patut diapresiasi, karena mengikis stigma dan beban emosional yang sering dipikul perempuan sendirian. Tetapi inklusi ini harus diikuti budaya kampus yang konsisten, misalnya kebijakan anti-pelecehan dan akses konseling yang ramah gender.

Watsons Women’s University Tour membuka ruang yang selama ini sempit: ruang untuk bertanya tanpa malu dan belajar tanpa dihakimi. Ia juga mengingatkan bahwa literasi kesehatan perempuan adalah proyek sosial, bukan sekadar urusan individu di depan cermin.

Ketika tur ini bergerak ke kampus-kampus lain, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara edukasi dan kepentingan bisnis. Jika percakapan yang lahir benar-benar membuat mahasiswi lebih berani memeriksa tubuhnya, mencari bantuan, dan saling menjaga, maka manfaatnya melampaui satu hari acara.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: apakah kita ingin generasi muda hanya menjadi konsumen wellness, atau menjadi warga yang paham tubuh, paham risiko, dan berani menuntut sistem kesehatan yang lebih adil. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)