Rokhmin Dahuri: Homo Sapiens dan Bencana Ekologis
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS Guru Besar IPB University, Bogor/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI.
OpiniOleh Rokhmin Dahuri
ORBITINDONESIA.COM - Nama spesies kita -- homo sapiens -- secara harfiah berarti " bijaksana". Nama itu diberikan oleh para ilmuwan taksonomi sebagai penanda keunggulan kognitif yang membedakan manusia dari kerabat primata lainnya.
Namun ironi besar justru muncul ketika sejarah panjang spesies ini ditelusuri: kebijaksanaan yang menjadi identitas biologisnya tidak pernah benar-benar menuntun manusia untuk hidup selaras dengan alam.
Sebaliknya, sejarah homo sapiens adalah sejarah akumulasi kekuasaan. Ironisnya, penumpukan kekuasaan itu memicu rentetan bencana ekologis yang kini mengancam keberlangsungan planet bumi.
Sejarawan Israel, Yuval Noah Harari, dalam bukunya yang berjudul Nexus mengangkat kembali paradoks ini dengan cara yang tajam. Menurut Harari, sejak revolusi kognitif sekitar seratus ribu tahun lalu, manusia tidak berhenti mengumpulkan kekuasaan — baik melalui bahasa, mitos bersama, institusi, maupun teknologi.
Kekuasaan itu memungkinkan manusia menaklukkan hampir seluruh entitas di permukaan bumi. Memusnahkan megafauna di berbagai benua, mengubah bentang alam secara radikal, dan akhirnya menciptakan sistem ekonomi serta industri yang mendorong eksploitasi sumber daya secara masif.
Yang patut digarisbawahi, seluruh proses itu tidak pernah didorong oleh kebijaksanaan kolektif untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Melainkan oleh persaingan tanpa henti untuk memperoleh kendali — baik atas sesama manusia, atas alam, maupun atas informasi itu sendiri.
Jaringan Informasi dan Ilusi Kemajuan
Argumen inti Harari berpijak pada gagasan bahwa manusia adalah spesies yang unggul bukan karena kecerdasan individual semata, melainkan karena kemampuannya membangun jaringan informasi berskala besar. Melalui mitos, agama, uang, hukum, hingga ideologi, manusia mampu mengkoordinasikan jutaan individu yang tidak saling mengenal untuk bekerja menuju tujuan bersama.
Kemampuan inilah yang memungkinkan berdirinya kerajaan, negara, korporasi multinasional, hingga sistem finansial global.
Namun Harari mengingatkan bahwa jaringan informasi yang besar tidak otomatis identik dengan kebenaran atau kebijaksanaan. Banyak jaringan informasi historis justru dibangun di atas mitos yang keliru, namun tetap efektif mengikat manusia dalam skala besar — termasuk mitos tentang superioritas manusia atas alam, yang secara diam-diam melegitimasi eksploitasi hutan, lautan, dan atmosfer tanpa batas.
Pertumbuhan ekonomi yang dipuja sebagai indikator kemajuan peradaban, pada kenyataannya berjalan seiring dengan penggundulan hutan tropis, pemanasan global, kepunahan spesies secara massal, hingga krisis iklim yang kini dirasakan hampir di seluruh penjuru dunia.
Dengan kata lain, kekuasaan yang diakumulasi homo sapiens selama seratus ribu tahun terakhir tidak pernah benar-benar diimbangi oleh kebijaksanaan yang sepadan untuk mengelola kekuasaan tersebut secara bertanggung jawab. Persaingan antarkelompok manusia — baik dalam bentuk perang, kolonialisme, maupun kompetisi industri — senantiasa mendorong percepatan eksploitasi alam sebagai sumber daya strategis tanpa mempertimbangkan daya dukung ekosistem dalam jangka panjang.
Dari Bencana Ekologis ke Ancaman Kecerdasan Buatan
Yang membuat tesis Harari semakin relevan hari ini adalah kaitannya dengan revolusi teknologi informasi mutakhir, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Jika sebelumnya jaringan informasi manusia dibangun dan dikendalikan sepenuhnya oleh manusia —melalui bahasa, tulisan, dan institusi — kini untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia menciptakan agen informasi yang mampu membuat keputusan dan menghasilkan gagasan baru secara independen, tanpa campur tangan langsung manusia dalam setiap prosesnya.
Harari menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat pasif seperti mesin cetak atau radio. AI memiliki kapasitas untuk memproses data, mempelajari pola, dan mengambil keputusan sendiri dengan kecepatan serta skala yang jauh melampaui kapasitas kognitif manusia.
Jika jaringan informasi manusia di masa lalu telah terbukti mampu memicu bencana ekologis akibat persaingan kekuasaan antarmanusia, maka pertanyaan yang jauh lebih mengkhawatirkan kini muncul: apa yang akan terjadi jika agen bukan-manusia turut serta — bahkan mendominasi perebutan kekuasaan tersebut?
Kekhawatiran semacam ini bukan hanya milik kalangan akademisi. Bill Gates, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam industri teknologi global, berulang kali menyuarakan kegelisahan serupa mengenai potensi bahaya AI di masa depan. Gates mengakui bahwa kecerdasan buatan membawa manfaat luar biasa bagi bidang kesehatan, pendidikan, dan produktivitas ekonomi.
Namun ia juga menekankan bahwa perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat, tanpa kerangka regulasi yang memadai, berisiko menimbulkan konsekuensi yang sulit dikendalikan — mulai dari disinformasi berskala masif, disrupsi pasar tenaga kerja, hingga skenario jangka panjang berupa hilangnya kendali manusia atas sistem yang mereka ciptakan sendiri.
Pandangan Gates ini beririsan erat dengan kekhawatiran Harari. Keduanya sepakat bahwa persoalan mendasar bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada pola lama manusia dalam mengelola kekuasaan: mengejar keunggulan kompetitif secepat mungkin tanpa jeda yang cukup untuk membangun mekanisme pengawasan dan tanggung jawab kolektif.
Pola inilah yang di masa lalu melahirkan bencana ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam. Dan pola serupa kini berpotensi terulang dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih cepat melalui teknologi kecerdasan buatan.
Persaingan Tanpa Rem
Salah satu poin krusial yang ditekankan Harari dalam Nexus adalah bagaimana persaingan geopolitik turut mempercepat pengembangan teknologi tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang. Negara-negara besar dan korporasi teknologi raksasa berlomba mengembangkan AI generatif dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, didorong oleh kekhawatiran tertinggal dari pesaing.
Dinamika ini mengingatkan pada pola historis eksploitasi sumber daya alam: ketika satu pihak mempercepat eksploitasi demi keunggulan ekonomi atau militer, pihak lain terpaksa mengikuti demi mempertahankan posisi, sehingga tercipta perlombaan tanpa rem yang mengabaikan dampak ekologis maupun sosial.
Bill Gates dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya kolaborasi global dan regulasi lintas negara untuk mengelola pengembangan AI secara bertanggung jawab, alih-alih membiarkannya berjalan sebagai arena kompetisi bebas tanpa batas. Ia mengingatkan bahwa tanpa kerangka tata kelola yang solid, teknologi secanggih apa pun berpotensi memperbesar ketimpangan, memperparah krisis lingkungan melalui konsumsi energi pusat data yang sangat besar, sekaligus menciptakan risiko keamanan yang sulit diprediksi.
Di titik inilah tesis Harari tentang homo sapiens sebagai "manusia bijaksana" yang justru memicu bencana ekologis menemukan relevansi barunya. Jika di masa lalu bencana ekologis lahir dari persaingan kekuasaan antarmanusia dalam mengeksploitasi hutan, lautan, dan atmosfer, maka di masa depan, bencana serupa berpotensi lahir dari persaingan kekuasaan antara manusia dan kecerdasan buatan yang mereka ciptakan sendiri. Ini sebuah persaingan yang jika tidak dikelola dengan bijaksana, maka dapat melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Dampaknya, peradaban manusia akan menjadi korban persaingan di atas.
Kebijaksanaan yang Tertunda
Pertanyaan mendasar yang diajukan, baik oleh Harari maupun Gates sesungguhnya bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal karakter spesies manusia itu sendiri. Apakah homo sapiens mampu belajar dari kesalahan historisnya dalam mengelola kekuasaan, ataukah mengikuti pola lama — mengejar keunggulan kompetitif tanpa kendali? Jika hal terakhir yang terjadi, maka taruhannya sangat besar. Peradaban manusia akan berubah secara fundamental. AI yang menjadi pengelola kekuasaan.
Harari menawarkan gagasan bahwa satu-satunya cara bagi manusia untuk keluar dari jebakan historis ini adalah dengan membangun mekanisme koreksi diri di dalam jaringan informasi yang mereka ciptakan — baik itu institusi demokratis, sistem hukum, maupun etika kolektif yang mampu mengoreksi kesalahan sebelum berubah menjadi bencana.
Tanpa mekanisme semacam itu, kekuasaan yang terus terakumulasi, baik dalam bentuk teknologi eksploitasi alam maupun kecerdasan buatan, berisiko melampaui kapasitas manusia untuk mengendalikannya.
Sementara itu, seruan Gates untuk membangun tata kelola AI yang matang dapat dibaca sebagai upaya konkret menerjemahkan kebijaksanaan itu ke dalam kebijakan nyata: regulasi yang adaptif, kolaborasi lintas negara, serta investasi pada riset keselamatan AI yang sepadan dengan investasi pada pengembangan kemampuannya.
Pada akhirnya, nama homo sapiens barangkali akan tetap menjadi ironi sejarah jika kebijaksanaan yang dijanjikan namanya terus tertunda. Sehingga bencana benar-benar tiba. Sejarah telah menunjukkan bahwa akumulasi kekuasaan tanpa kebijaksanaan yang memadai melahirkan bencana ekologis.
Tantangan generasi kini adalah memastikan bahwa era kecerdasan buatan tidak mengulangi kesalahan yang sama — dengan skala dan kecepatan yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Sebagaimana diingatkan baik oleh Harari maupun Gates, masa depan manusia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang mampu diciptakan. Melainkan oleh seberapa bijaksana manusia dalam memilih untuk mengendalikannya. ***