Angga Nugraha: Sumpah Pemuda dan Harapan yang Tersisa

Angga Nugraha, Guru SMP Negeri 2 Sungailiat, Pegiat Sastra Bangka.

Angga Nugraha, Guru SMP Negeri 2 Sungailiat, Pegiat Sastra Bangka.

Opini

Oleh Angga Nugraha, Guru SMP Negeri 2 Sungailiat, Pegiat Sastra Bangka.


ORBITINDONESIA.COM - Sumpah Pemuda dikumandangkan 98 tahun silam, tetapi masihkah butir-butirnya relevan hingga hari ini? Lalu, harapan apa yang masih tersisa di tengah hidup yang kian sulit?

Para pemuda pengikrar yang datang dari beragam latar belakang, suku, dan agama pada 1928 menaruh harapan besar agar kelak Indonesia menjadi bangsa yang mampu memberikan kehidupan lebih layak bagi rakyatnya. Namun, pemuda hari ini menghadapi banyak tantangan, mulai dari rendahnya minat membaca, sulitnya mendapat pekerjaan, hingga hilangnya motivasi untuk menjadi agen perubahan.

Di era digital, ketika bacaan tersedia di berbagai media, pemuda dihadapkan pada banjir informasi yang kerap menjadi bumerang. Di satu sisi, ada informasi yang akurat, tajam, dan berkualitas. Di sisi lain, banyak pula yang tidak bermanfaat dan menyesatkan. Karena itu, membaca tidak boleh sekadar membaca teks tanpa tujuan, tetapi harus diimbangi penalaran kritis dan kemampuan menelaah bacaan secara mendalam agar lahir pemuda yang mumpuni.

Di dalam negeri, banyak anak muda masih kesulitan mendapat pekerjaan. Salah satu penyebabnya, lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan baru. Ada yang sudah puluhan kali melamar, tetapi tak kunjung diterima.

Hal ini terasa ironis karena pemerintah pernah menjanjikan jutaan lapangan kerja pada masa kampanye, sementara kenyataannya tidak demikian. Keadaan itu diperparah oleh kondisi ekonomi masyarakat. Setiap hari, berita memperlihatkan persoalan yang datang silih berganti: antrean bahan bakar minyak (BBM) kian panjang di banyak daerah, air bersih sulit didapat, dan harga barang serta bahan pokok terus melonjak. Situasi ini memunculkan pesimisme karena terus berulang tanpa solusi apa pun dari pemangku kebijakan.

Di tengah ketidakpastian itu, rakyat sebenarnya menaruh harapan besar di pundak pemuda. Pemuda adalah agen perubahan yang dapat menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak rakyat yang diabaikan pemerintah. Namun, gerakan pemuda sering patah di tengah jalan karena motivasi yang hilang. Penyebabnya beragam, terutama sikap saling menyalahkan, lebih mementingkan diri sendiri, serta pengaruh media sosial, ketika tekanan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab membuat mereka takut menyuarakan kebenaran.

Sejarah menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki mental dan ketangguhan luar biasa. Dari Tan Malaka, Boedi Oetomo, hingga Sumpah Pemuda 1928, selalu ada anak muda yang berani melampaui dirinya sendiri dan meninggalkan kemewahan demi kepentingan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, harapan yang tersisa dari rakyat adalah agar pemerintah, dari pusat hingga daerah, segera memberikan solusi cepat dan tepat atas persoalan di depan mata, bukan sekadar menjadi penonton sementara rakyat bersusah payah memenuhi kebutuhan dasarnya.

Peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial. Relevansinya bagi Indonesia hari ini terletak pada upaya menjaga semangat nasionalisme dan merawat nilai keberanian dalam menjalani hidup yang terasa kian tidak adil. ***