Wejangan Integritas di Era AI untuk Mahasiswa Baru Undip

Banjarnegaraku

Banjarnegaraku

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Wejangan integritas di era AI menggema saat Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding berbicara kepada ribuan mahasiswa baru Undip di Semarang. Ia menegaskan AI makin cerdas, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan kejujuran dan tanggung jawab manusia.

Pidato itu disampaikan dalam Penerimaan Mahasiswa Baru Undip 2026/2027 di Muladi Dome. Karding datang bukan hanya sebagai pejabat negara, tetapi sebagai alumnus FPIK dan Ketua IKA Undip yang pulang kampung.

Pesannya muncul di tengah euforia teknologi yang membuat banyak keputusan terasa bisa “di-outsourcing” ke mesin. Kampus pun menghadapi pertanyaan baru: bagaimana mendidik karakter ketika jawaban akademik makin mudah dihasilkan AI.

Undip sendiri mendorong profil lulusan COMPLETE: Communicator, Professional, Leader, Entrepreneur, Thinker, Educator. Dalam kerangka itu, integritas menjadi fondasi yang menentukan apakah kompetensi akan menjadi manfaat atau justru mudarat.

AI generatif mempercepat pekerjaan, dari merangkum bacaan sampai menulis draf tugas. Namun percepatan itu juga memperbesar risiko jalan pintas, karena verifikasi, sitasi, dan proses berpikir bisa ditinggalkan.

UNESCO dalam panduan AI untuk pendidikan menekankan kebutuhan literasi AI, etika, dan perlindungan integritas akademik. Banyak kampus global merespons dengan kebijakan penggunaan AI yang menuntut transparansi dan akuntabilitas.

Di Indonesia, diskusi tentang etika AI ikut menguat seiring terbitnya Surat Edaran Kemendikbudristek tentang pencegahan plagiarisme dan penguatan integritas karya ilmiah. Tantangannya kini bukan hanya menyalin teks, tetapi “menyalin proses” lewat mesin tanpa jejak pertanggungjawaban.

Dalam konteks itu, kalimat Karding menjadi penanda yang tajam: mesin dapat meniru gaya, tetapi tidak dapat menumbuhkan moralitas dari nol. Integritas lahir dari kebiasaan memilih yang benar saat tidak ada yang melihat.

Karding juga menekankan organisasi mahasiswa sebagai “sekolah kedua”. Di ruang organisasi, mahasiswa belajar konflik, negosiasi, disiplin, dan konsekuensi keputusan yang tidak bisa disimulasikan sempurna oleh AI.

Pesan ini sejalan dengan kebutuhan dunia kerja yang menilai lebih dari sekadar hard skill. Laporan World Economic Forum tentang Future of Jobs berulang kali menempatkan berpikir kritis, kepemimpinan, dan ketahanan sebagai kompetensi kunci di era otomasi.

Wejangan integritas di era AI terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang paling sulit dijalankan. Banyak mahasiswa akan tergoda memakai AI bukan sebagai alat bantu, melainkan sebagai pengganti tanggung jawab berpikir.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada definisi “berprestasi” yang terlalu sering dipersempit menjadi IPK dan output cepat. Jika kampus hanya mengejar angka, AI akan menjadi mesin produksi nilai, bukan mesin pembentuk nalar.

Di titik ini, pesan Karding patut dibaca sebagai kritik halus terhadap budaya serba instan. Integritas bukan materi kuliah satu semester, melainkan disiplin harian yang diuji oleh deadline, tekanan sosial, dan ambisi pribadi.

Ajakan berorganisasi juga bukan romantisme masa lalu. Organisasi melatih keberanian berkata “tidak” pada praktik curang, karena keputusan diambil bersama dan dipertanggungjawabkan di depan publik kecil bernama komunitas.

Namun organisasi tanpa etika juga bisa melahirkan oportunisme baru. Karena itu, COMPLETE seharusnya tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi standar perilaku yang diukur lewat tindakan nyata.

Pidato Karding di Undip mengingatkan bahwa AI boleh membantu banyak hal, tetapi tidak bisa menggantikan keberanian untuk jujur. Ketika teknologi membuat segalanya tampak mudah, justru karakter yang menentukan arah hidup.

Mahasiswa baru Undip memasuki era ketika jawaban ada di mana-mana, tetapi kebenaran tetap harus diperjuangkan. Pertanyaannya sederhana dan menantang: saat mesin bisa menulis apa saja, apakah kita masih mau bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)