Penyakit Mata Tanpa Gejala: Pemeriksaan Dini Cegah Buta Permanen
ORBITINDONESIA.COM – Penyakit mata tanpa gejala sering datang diam-diam, lalu meninggalkan kerusakan penglihatan permanen saat terlambat disadari. Prof. Budu mengingatkan bahwa pemeriksaan mata dini bukan pilihan tambahan, melainkan garis pertahanan pertama untuk mencegah kebutaan yang sebenarnya bisa dihindari.
Banyak orang baru memeriksakan mata ketika penglihatan sudah kabur, nyeri, atau muncul bintik mengganggu. Pola ini berbahaya karena sejumlah penyakit mata berkembang tanpa keluhan berarti pada fase awal.
Glaukoma, retinopati diabetik, dan degenerasi makula terkait usia kerap disebut sebagai “pencuri penglihatan” karena progresnya pelan dan nyaris tak terasa. Ketika kerusakan saraf optik atau retina terjadi, pemulihannya sering tidak lagi mungkin.
Di Indonesia, beban gangguan penglihatan masih tinggi dan berkait dengan faktor usia, diabetes, hipertensi, serta kebiasaan menunda kontrol kesehatan. Dalam konteks ini, peringatan Prof. Budu menjadi sinyal bahwa masalahnya bukan sekadar medis, tetapi juga soal perilaku dan literasi kesehatan.
Data global menunjukkan skala masalah yang kerap diremehkan. WHO memperkirakan setidaknya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, dan sekitar 1 miliar kasus sebenarnya dapat dicegah atau belum tertangani.
Angka itu mengisyaratkan satu hal: keterlambatan deteksi adalah “penyakit kedua” yang memperparah penyakit mata itu sendiri. Banyak kasus berawal dari pemeriksaan yang tidak pernah dilakukan, bukan dari ketiadaan teknologi atau dokter.
Glaukoma menjadi contoh paling keras kepala, karena pada tahap awal sering tanpa nyeri dan tanpa penurunan penglihatan pusat. Lapang pandang menyempit perlahan, dan otak menyesuaikan, sehingga penderita merasa baik-baik saja sampai kerusakan luas terjadi.
Retinopati diabetik juga bergerak senyap, terutama pada penderita diabetes yang gula darahnya fluktuatif. American Diabetes Association merekomendasikan pemeriksaan mata komprehensif berkala pada penyandang diabetes, karena kerusakan pembuluh darah retina bisa terjadi bahkan sebelum keluhan muncul.
Di sisi lain, masyarakat hidup dalam lingkungan risiko yang meningkat. Populasi menua, angka diabetes naik, dan paparan layar tinggi memperpanjang waktu mata bekerja keras, meski layar bukan penyebab langsung semua kebutaan.
Masalahnya, banyak orang menganggap pemeriksaan mata hanya soal mengganti kacamata. Padahal pemeriksaan komprehensif mencakup tekanan intraokular, evaluasi saraf optik, retina, serta skrining komplikasi sistemik yang memantul ke mata.
Konsekuensi ekonomi dan sosialnya juga nyata. Ketika penglihatan turun, produktivitas merosot, risiko jatuh meningkat, dan ketergantungan pada keluarga bertambah, sehingga beban rumah tangga ikut naik.
Pemeriksaan dini bekerja seperti rem darurat yang dipasang sebelum mobil melaju di turunan curam. Ia tidak selalu “menyembuhkan”, tetapi sering mampu memperlambat progres penyakit dan menyelamatkan fungsi penglihatan yang tersisa.
Peringatan Prof. Budu seharusnya dibaca sebagai kritik halus terhadap budaya menunggu sakit. Kita terbiasa mengejar solusi cepat, tetapi enggan membayar biaya kecil di depan untuk mencegah biaya besar di belakang.
Di ruang publik, kesehatan mata sering kalah pamor dibanding jantung atau ginjal, padahal mata adalah pintu utama produktivitas modern. Ironisnya, saat penglihatan hilang, yang tersisa bukan hanya gelap, tetapi juga rasa bersalah karena terlambat memeriksa.
Sudut pandang yang lebih tajam adalah ini: kebutaan yang dapat dicegah adalah kegagalan sistem, bukan sekadar kelalaian individu. Akses skrining, edukasi risiko, dan rujukan cepat harus menjadi prioritas layanan primer, bukan menunggu pasien datang dalam kondisi parah.
Namun individu tetap memegang kendali awal. Bila ada diabetes, hipertensi, riwayat keluarga glaukoma, atau usia bertambah, maka jadwal pemeriksaan mata semestinya diperlakukan seperti servis berkala, bukan seperti kunjungan darurat.
Publik juga perlu mengubah definisi “tidak ada gejala”. Dalam penyakit mata, tidak ada gejala sering berarti kerusakan sedang terjadi, hanya saja tubuh belum mengirimkan alarm yang bisa kita dengar.
Penyakit mata tanpa gejala menuntut sikap yang berlawanan dengan kebiasaan kita, yakni bertindak sebelum merasa perlu. Prof. Budu mengingatkan bahwa pemeriksaan dini dapat menjadi pembatas tipis antara penglihatan yang bertahan dan kebutaan yang menetap.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menohok: jika mata adalah alat utama kita membaca dunia, mengapa kita menunggu sampai dunia itu mulai menghilang untuk memeriksakannya. Barangkali langkah paling bijak hari ini adalah membuat janji pemeriksaan, sebelum penyesalan menjadi satu-satunya yang terlihat jelas.
(Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)