Under the Java Moon: Kisah Perempuan dan Anak-Anak di Tengah Kegelapan Pendudukan Jepang

Cover buku dan penulisnya Heather B. Moore.

Cover buku dan penulisnya Heather B. Moore.

Review Buku

ORBITINDONESIA.COM - Ada sejarah yang ditulis melalui tanggal, nama jenderal, pergerakan pasukan, dan keputusan politik. Namun, ada pula sejarah yang hadir melalui pengalaman seorang anak perempuan: perpisahan dengan keluarga, ketakutan di kamp interniran, rasa lapar, dan harapan untuk bertahan hidup.

Under the Java Moon karya Heather B. Moore, yang diterbitkan Shadow Mountain Publishing (2023), membawa pembaca ke jenis sejarah yang kedua. Novel ini mengangkat kisah Rita, seorang anak perempuan Belanda yang tinggal di Indonesia ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada Perang Dunia II.

Melalui pengalaman Rita dan keluarganya, pembaca diajak menyaksikan bagaimana perang mengubah kehidupan orang-orang biasa, terutama perempuan dan anak-anak yang berada dalam situasi penuh ketidakpastian.

Berdasarkan keterangan yang Anda berikan, novel ini terinspirasi kisah nyata. Karena itu, penting membedakan antara fakta sejarah yang menjadi latar cerita dan detail dramatik yang disajikan melalui bentuk novel. Ulasan berikut berfokus pada premis dan tema yang tersedia, bukan klaim bahwa seluruh adegan telah diverifikasi dari teks lengkap buku.

Ketika Rumah yang Damai Berubah Menjadi Kamp Interniran

Cerita bermula di Pulau Jawa pada 1941. Rita Vischer masih berusia enam tahun. Ia menjalani kehidupan yang relatif nyaman bersama keluarganya di lingkungan masyarakat Belanda. Namun, ketegangan perang perlahan memasuki kehidupan sehari-hari. Sirene serangan udara dan ancaman invasi mengakhiri rasa aman yang selama ini dinikmatinya.

Setelah Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda, keluarga Vischer menghadapi perpisahan yang menyakitkan. George Vischer, ayah Rita, bertugas dalam angkatan laut Belanda. Sementara itu, Mary, ibu Rita, sedang mengandung dan harus menjaga anak-anaknya serta ibunya yang sudah lanjut usia.

Mary, Rita, Georgie, dan nenek mereka kemudian dibawa ke kamp interniran perempuan Tjideng di Batavia. George terpisah dari keluarganya dan menghadapi bahaya di laut setelah kapal penyapu ranjau yang ditumpanginya dibom. Ia berjuang untuk bertahan hidup, sementara keluarganya menghadapi kondisi kamp yang semakin mengerikan.

Di Tjideng, kehidupan keluarga Vischer berubah menjadi perjuangan setiap hari. Makanan terbatas, penyakit menyebar, tempat tinggal penuh sesak, dan kekuasaan militer Jepang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan para tahanan.

Rita yang masih kecil dipaksa berhadapan dengan dunia orang dewasa yang penuh ketakutan. Ia harus membantu ibunya merawat Georgie, sementara Mary berusaha mempertahankan kehidupan keluarganya dalam kondisi yang nyaris tidak manusiawi.

Di sisi lain, George terus berusaha mencari jalan untuk kembali kepada istri dan anak-anaknya. Laut Jawa, jarak, perang, dan ancaman penangkapan menjadi penghalang antara seorang ayah dan keluarganya.

Pertanyaan utama yang mengiringi kisah ini bukan hanya apakah keluarga tersebut akan selamat, melainkan apakah mereka masih dapat mempertahankan ikatan kasih sayang dan harapan ketika perang merampas hampir segala sesuatu.

Sudut Pandang

Salah satu kekuatan utama Under the Java Moon terletak pada pilihan sudut pandangnya. Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik sering kali dibahas melalui strategi militer Jepang, kekalahan kekuatan kolonial Barat, atau pertempuran besar di laut dan darat. Novel ini justru menghadirkan konsekuensi perang melalui pengalaman sebuah keluarga.

Pembaca tidak hanya melihat perang sebagai persaingan kekuatan antarnegara, tetapi juga sebagai peristiwa yang memecah keluarga, merampas kebebasan, dan mengubah masa kanak-kanak menjadi pengalaman bertahan hidup.

Rita bukan seorang jenderal, diplomat, atau pengambil keputusan politik. Ia seorang anak yang tidak memiliki kendali atas perang, tetapi harus menanggung akibatnya. Di sinilah pengalaman personal menjadi penting: sejarah yang besar memperoleh wajah, suara, dan ingatan manusia.

Judul dan Simbol Bulan di Atas Jawa

Judul Under the Java Moon memiliki daya puitis yang kuat. Bulan di atas Jawa menjadi simbol yang menghubungkan dua tempat yang terpisah: keluarga Mary di kamp dan George yang berjuang di laut.

Dalam gambaran yang dikutip Historical Novel Society, George menyampaikan kepada Mary bahwa mereka dapat memandang bulan yang sama setiap malam sambil memikirkan satu sama lain dan anak-anak mereka.

Bulan tidak menghentikan perang, tidak membuka pagar kamp, dan tidak menjamin keselamatan. Namun, ia menawarkan sebuah bentuk kedekatan simbolis ketika jarak dan kekuasaan memisahkan manusia.

Di tengah cerita yang sarat kelaparan, ketakutan, dan kehilangan, simbol ini memperkuat tema cinta keluarga. Harapan tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan besar. Kadang-kadang, harapan hanya berupa keyakinan bahwa orang yang dicintai masih hidup dan bahwa pertemuan kembali masih mungkin terjadi.

Apa yang Dapat Dipetik Pembaca Indonesia?

Novel ini memiliki relevansi tersendiri bagi pembaca Indonesia karena latarnya berada di Jawa, pada masa ketika wilayah kepulauan Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Pembaca Indonesia dapat memanfaatkan novel ini untuk melihat satu sisi sejarah pendudukan Jepang melalui pengalaman keluarga Eropa yang hidup di Hindia Belanda. Perspektif tersebut berbeda dari pengalaman banyak masyarakat Indonesia yang menghadapi perubahan kekuasaan, mobilisasi, eksploitasi ekonomi, dan kerja paksa selama pendudukan.

Perbedaan pengalaman ini penting untuk dipahami tanpa menghapus penderitaan kelompok mana pun. Sejarah pendudukan Jepang bukan cerita yang hanya memiliki satu kelompok korban atau satu sudut pandang.

Dengan membaca kisah keluarga Vischer bersama sumber-sumber sejarah mengenai pengalaman masyarakat Indonesia, pembaca dapat membangun pemahaman yang lebih menyeluruh tentang kompleksitas perang dan kolonialisme di kawasan ini.

(Satrio Arismunandar, Dewan Pengawas SATUPENA) ***