Kuasar Tertua Euclid: Mesin Waktu, Redshift, dan Jejak Galaksi Purba
ORBITINDONESIA.COM – Kuasar tertua Euclid kembali menegaskan bahwa redshift bukan sekadar angka, melainkan penanda jarak dan waktu yang membawa kita ke masa ketika alam semesta baru berusia 670 juta tahun. European Space Agency (ESA) menyebut temuan ini memperluas peta cahaya purba, sekaligus membuka cara baru membaca sejarah pembentukan galaksi awal.
Kuasar sering disalahartikan sebagai bintang biasa karena tampak seperti titik terang di langit malam. Padahal, ia adalah inti galaksi aktif yang sangat jauh, dan cahayanya datang dari masa sangat dini setelah Dentuman Besar.
Karena jaraknya ekstrem, kuasar menjadi semacam “mesin waktu” yang memperlihatkan kondisi semesta pada bab-bab pertama. Tantangannya sederhana namun keras: makin jauh dan makin tua, makin redup sinyalnya, dan makin mudah hilang di antara jutaan sumber cahaya lain.
Di sinilah teleskop luar angkasa Euclid milik ESA masuk sebagai alat pemetaan kosmos yang dirancang untuk menyisir langit luas. Pada 2024 Euclid diluncurkan, dan pada 6 Juli 2026 tim ilmiah melaporkan lompatan temuan kuasar kuno melalui survei yang lebih efisien.
ESA merilis citra dua kuasar sangat tua, EUCL J172902.75+641018.1 dan EUCL J125308.55+705432.3. Keduanya bagian dari 31 kuasar yang berasal dari era ketika alam semesta baru 670 juta tahun, atau berada di sekitar 5% awal usia semesta saat ini.
Nilai penting pada penamaan objek itu adalah pergeseran merah atau redshift, indikator bahwa cahaya telah “ditarik” oleh pemuaian alam semesta. Fenomena ini kerap dianalogikan dengan Efek Doppler pada sirene ambulans, tetapi konteksnya berbeda karena yang berubah bukan nada suara, melainkan panjang gelombang cahaya.
Redshift menjadi bahasa angka untuk menyatakan seberapa jauh ke masa lalu kita mengintip. Bahkan bila kita dan objek itu tidak “bergerak” secara konvensional, ruang di antaranya mengembang, sehingga cahaya yang menempuh perjalanan miliaran tahun ikut meregang.
Keunggulan Euclid adalah kombinasi cakupan area langit yang luas dan kemampuan menangkap sumber yang lebih redup. Daming Yang, penulis utama studi 6 Juli 2026, menegaskan bahwa sebelumnya astronom “hanya bisa menemukan segelintir kuasar kuno yang paling terang,” sedangkan Euclid membuat perburuan jauh lebih efisien.
Dampaknya terlihat pada statistik yang telak. Antonio La Marca dari tim Euclid menyebut temuan ini “melipatgandakan jumlah kuasar kuno” yang diketahui hingga lebih dari dua kali lipat.
Perbandingannya mencolok: astronom memerlukan lebih dari satu dekade untuk menemukan 10 kuasar pertama dengan redshift 7 atau lebih tinggi. Euclid melampaui angka itu hanya dalam satu tahun operasional, dan ini mengubah ritme riset dari “ekspedisi langka” menjadi “panen data” yang rutin.
Namun, percepatan temuan bukan akhir cerita, melainkan awal dari pekerjaan yang lebih rumit. Setiap kandidat kuasar tetap butuh verifikasi, pemodelan, dan pembacaan spektrum agar angka redshift serta sifat fisiknya tidak menyesatkan.
Temuan kuasar tertua Euclid menunjukkan pergeseran besar dalam cara sains modern bekerja: dari era kekurangan objek menjadi era kelimpahan katalog. Kelimpahan ini menjanjikan, tetapi juga menuntut disiplin baru agar publik tidak terjebak pada sensasi “rekor tertua” semata.
Kuasar sering dipromosikan sebagai mesin waktu, tetapi mesin ini tidak memutar ulang peristiwa secara utuh. Ia hanya mengirim fragmen cahaya, dan fragmen itu harus diterjemahkan dengan asumsi kosmologi yang terus diuji, termasuk laju pemuaian dan evolusi galaksi.
Di sisi lain, justru di situlah nilai jurnalistik dan ilmiahnya: angka redshift memaksa kita memikirkan jarak sebagai sejarah, bukan sekadar ruang. Ketika Euclid menemukan lebih banyak kuasar redup, kita bukan hanya menambah daftar, tetapi memperbaiki peta tentang bagaimana lubang hitam supermasif dan galaksi tumbuh sangat cepat pada masa awal semesta.
Perburuan kuasar juga menantang intuisi sehari-hari, karena tidak ada padanan kasat mata yang benar-benar memadai untuk redshift kosmologis. Keterbatasan analogi ini penting diakui, agar komunikasi sains tidak berubah menjadi metafora yang terdengar benar tetapi rapuh secara konsep.
Euclid memperlihatkan bahwa masa depan astronomi bukan sekadar teleskop yang lebih besar, melainkan survei yang lebih cerdas dan menyapu langit lebih luas. Dengan 31 kuasar dari era 670 juta tahun setelah Dentuman Besar, kita mendapat lebih banyak “saksi cahaya” untuk menelusuri lahirnya galaksi purba.
Namun, semakin banyak saksi, semakin besar pula tanggung jawab menafsirkan kesaksiannya dengan teliti. Pertanyaannya kini bukan hanya berapa kuasar tertua yang bisa ditemukan, melainkan cerita apa tentang asal-usul struktur kosmos yang akhirnya bisa kita susun dari cahaya yang telah menempuh perjalanan paling panjang itu. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)