Sinopsis Criminal 2016 Trans TV: Memori CIA dan Ancaman Nuklir
ORBITINDONESIA.COM – Sinopsis Criminal (2016) di Bioskop Trans TV kembali mengangkat tema memori, CIA, dan ancaman peretasan nuklir global. Film yang tayang Kamis, 28 Mei 2026 pukul 22.00 WIB itu menjual ketegangan lewat ide ekstrem: memindahkan ingatan agen yang tewas ke otak narapidana.
Dalam Criminal, agen CIA Bill Pope (Ryan Reynolds) diburu karena melindungi Jan Strook alias The Dutchman (Michael Pitt). The Dutchman memegang program yang disebut mampu meretas seluruh sistem pertahanan nuklir dunia, sehingga menjadi incaran Xavier Heimdahl (Jordi Molla).
Pope sempat menyembunyikan The Dutchman, tetapi ia ditangkap dan disiksa sampai mati. Kematian ini memutus jejak informasi, dan CIA kehilangan petunjuk tentang lokasi persembunyian target serta rahasia yang dibawanya.
Atasan Pope, Quaker Wells (Gary Oldman), lalu mengambil jalan pintas yang nyaris tak manusiawi. Ia meminta Dr. Micah Frank (Tommy Lee Jones) memindahkan ingatan Pope ke Jerico Stewart (Kevin Costner), terpidana yang dikenal brutal dan sulit dikendalikan.
Premis pemindahan memori adalah mesin utama ketegangan film, sekaligus pintu masuk untuk menyoal etika operasi intelijen. CIA dalam cerita bukan sekadar lembaga pelindung, melainkan institusi yang siap mengakali hukum demi satu informasi.
Jerico dibuat “mati” secara administratif dan dilepas untuk memburu potongan ingatan yang tercecer. Namun ingatan tidak hadir sebagai peta yang rapi, melainkan kilasan emosional yang mengganggu, termasuk petunjuk samar soal uang yang tersimpan di balik rak buku.
Di titik ini, Criminal meminjam bahasa thriller modern: ancaman bukan hanya peluru, tetapi data dan akses. Gagasan “program yang meretas pertahanan nuklir” memang terdengar hiperbolik, tetapi selaras dengan kecemasan publik global tentang perang siber dan sabotase infrastruktur kritis.
Di dunia nyata, diskursus keamanan siber berulang kali menegaskan bahwa sistem vital rentan oleh kombinasi celah teknis dan kelalaian manusia. Laporan tahunan dan peringatan lembaga keamanan siber di berbagai negara kerap menempatkan infrastruktur penting sebagai target bernilai tinggi, meski detailnya biasanya dirahasiakan demi keamanan.
Ketika Heimdahl menciptakan gangguan di bandara untuk mengalihkan perhatian Wells, film menyorot satu pola klasik: chaos sebagai kamuflase. Penonton diajak melihat bagaimana keramaian publik dapat dimanipulasi menjadi tirai bagi operasi penangkapan dan pelarian.
Sisi lain yang menonjol adalah rumah Pope, yang berubah menjadi arena perebutan identitas. Jerico bertemu Jillian dan Emma, dan hubungan ini membuat operasi intelijen bergeser dari sekadar misi menjadi konflik batin tentang empati, keluarga, dan rasa bersalah.
Ariel Vromen menyutradarai Criminal dengan ritme yang mengutamakan kejar-kejaran dan tekanan waktu. Rekam jejaknya di The Iceman (2012) dan The Angel (2018) terasa melalui pilihan atmosfer muram dan karakter yang bergerak di wilayah abu-abu moral.
Criminal bekerja paling kuat ketika menampilkan “biaya” dari keamanan: siapa yang dikorbankan, dan siapa yang memutuskan pengorbanan itu. Jerico dijadikan wadah informasi, bukan manusia, lalu diharapkan patuh pada agenda negara.
Namun film juga menyisipkan ironi: ingatan yang dicuri justru melahirkan nurani yang tak diundang. Jerico yang semula diposisikan sebagai alat, perlahan menjadi subjek yang mempertanyakan perintah dan menimbang konsekuensi.
Di sinilah sinopsis Criminal (2016) menarik dibaca sebagai kritik halus terhadap logika “tujuan menghalalkan cara.” Ketika negara merasa terancam, batas etika bisa digeser, dan publik sering hanya melihat hasil akhirnya tanpa menanyakan prosesnya.
Meski demikian, film tetap berada dalam koridor hiburan, sehingga beberapa lompatan logika sengaja dibiarkan demi tensi. Ketidakrapian itu justru memperlihatkan sesuatu: ketakutan kolektif terhadap teknologi sering lebih cepat daripada pemahaman kita tentang cara kerjanya.
Bioskop Trans TV menayangkan Criminal (2016) pukul 22.00 WIB, disusul Cabin Fever 3 pukul 24.00 WIB. Di balik aksi dan intrik CIA, film ini mengajak penonton menatap pertanyaan yang tidak nyaman: apakah keamanan layak dibayar dengan penghapusan martabat manusia.
Jika ingatan bisa dipindahkan, maka tanggung jawab juga seharusnya ikut berpindah, bukan hilang di balik stempel rahasia. Pada akhirnya, Criminal meninggalkan perenungan sederhana tetapi tajam: saat negara mengejar keselamatan, siapa yang menjaga agar cara kita tetap manusiawi.
(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)