Cerpen Milda: Jendela Terlarang yang Berdebu

Ilustrasi perpustakaan sekolah yang berdebu.

Ilustrasi perpustakaan sekolah yang berdebu.

Puisi

Oleh Milda

ORBITINDONESIA.COM - Di perpustakaan sekolahku ada sebuah jendela yang tidak pernah dibuka. Jendela itu tertutup debu yang sangat tebal. Pada awal masuk sekolah, Pak Mustomi sudah membagikan kartu peminjaman buku untuk jadwal kunjungan perpustakaan. Oleh karena itu, kami harus berkunjung ke perpustakaan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Namaku Milda. Sekarang aku duduk di kelas VIII A. Hobiku membaca, tapi aku tidak hobi menulis.

Aku mempunyai teman, yaitu Afika, Asmi, dan Jeti. Setiap di sekolah, kami selalu bermain bersama saat istirahat. Pada hari Kamis, aku ingat mengajak mereka berkunjung ke perpustakaan untuk membaca buku. Mereka pun mau. Kami berjalan menuju perpustakaan sambil tertawa riang.

Tiba di perpustakaan, kami kaget karena melihat perpustakaan sangat kotor dan banyak sekali sampah di depannya. Aku dan teman-temanku pun bergegas membersihkan lingkungan perpustakaan agar bersih dan nyaman. Kami membagi tugas agar cepat selesai: Jeti dan Afika menyapu halaman perpustakaan, sedangkan aku dan Asmi membersihkan jendela yang berdebu.

Asmi, "Ih, kenapa sih kok kotor banget jendela perpustakaan kita?"

Aku, "Hmm, mungkin karena sudah lama tidak dibersihkan, makanya kotor!"

Aku dan Asmi hampir selesai membersihkan kaca yang berdebu itu, tapi ada satu jendela yang tidak boleh dibersihkan dan dibuka. Aku dan Asmi sangat penasaran kenapa jendela itu tidak boleh dibuka.

Asmi, "Eh, kenapa ya jendela itu gak boleh dibuka?"

Aku, "Hmm, gak tahu juga sih aku."

Aku dan temanku pun bertanya-tanya, karena penasaran ada apa di balik jendela yang tidak boleh dibuka itu. Akhirnya kami selesai membersihkan perpustakaan. Aku dan teman-temanku pun memasuki perpustakaan untuk membaca buku. Rasanya sangat senang melihat perpustakaan yang bersih dan buku-buku tertata rapi di rak.

Kami melihat-lihat buku dan mengambil buku untuk dibaca. Aku dan temanku duduk di kursi untuk membaca. Di dalam perpustakaan, aku dan Asmi menceritakan kepada Afika dan Jeti tentang jendela yang tidak boleh dibuka itu. Mereka menoleh ke jendela itu sambil menunjuk ke arahnya.

Afika, "Jendela itu ya yang tidak boleh dibuka!"

Aku mengangguk pelan memberi isyarat kepada Afika, dan dia pun mengangguk mengerti. Lalu kami melanjutkan membaca buku. Setelah selesai, kami mengembalikan buku ke rak dengan rapi, kemudian beristirahat di perpustakaan dengan suasana sunyi. Perpustakaan terasa sangat panas karena angin pun tidak masuk.

Jeti pun berdiri dari kursi untuk membuka jendela — jendela yang tidak boleh dibuka dan berdebu itu. Dia kaget saat melihat pemandangan di luar jendela. Kami berdiri menghampiri Jeti yang berdiri di dekat jendela itu.

Asmi, "Apa yang kamu lihat, Jeti? Kok kamu hanya diam?"

Jeti, "Aku melihat sebuah pemandangan yang sangat luar biasa."

Asmi, "Hah, apa itu?"

Jeti, "Ayo kalian semua kemari, cepat lihat! Pasti kalian kaget melihatnya."

Kami pun menghampiri Jeti untuk melihatnya, dan kami kaget saat melihat pemandangan itu. Pemandangan di balik jendela yang tertutup debu itu sangatlah indah, dan ada pohon besar yang indah di sana.

Afika, "Wah, indah sekali pemandangan di luar jendela itu."

Aku, "Iya ya, kok indah sekali."

Asmi, "Wah, pohon itu juga sangat besar ya, melebihi badanku yang kecil ini."

Aku, "Eh, tapi sebentar. Kenapa ya jendela ini dilarang dibuka, padahal pemandangannya sangat indah?"

Jeti, "Eh iya ya, kok gak boleh dibuka?"

Teman-temanku kebingungan, kenapa jendela itu tidak boleh dibuka. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju perpustakaan. Rupanya Pak Mustomi, sang pengelola perpustakaan, sedang mengecek murid-murid yang berada di sana.

"Kenapa kalian membuka jendela itu?" tanya Pak Mustomi dengan nada tegas seraya menghampiri kami.

Kami hanya diam dan menundukkan kepala, takut dimarahi karena sudah membuka jendela itu. Namun Pak Mustomi hanya tersenyum kepada kami dan menyuruh kami duduk.

"Ayo anak-anak, duduk di sini, jangan takut. Bapak tidak marah kok sama kalian."

Kami pun duduk bersama. Setelah itu, Pak Mustomi ingin menceritakan kenapa jendela itu tidak boleh dibuka.

"Ayo anak-anak, sini bapak ceritakan kenapa jendela itu tidak boleh dibuka."

Aku, "Wah, ayo teman-teman, kita dengarkan Bapak bercerita, sepertinya seru!"

Teman-teman, "Ayo, ayo, ayo!"

Lalu Bapak menceritakan sebabnya.

Bapak, "Kalian kan tidak tahu kenapa jendela itu tidak boleh dibuka. Di balik jendela itu ada pemandangan yang sangat indah, dan ada pohon yang sangat besar. Dulu, ada seorang gadis yang sering ke perpustakaan untuk meminjam buku. Setelah meminjam, dia akan membaca buku di bawah pohon itu sambil menikmati pemandangan yang indah. Tapi sekarang, anak itu sudah lulus dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Setiap kali membaca, dia akan mengembalikan buku dan duduk di depan jendela itu."

Aku, "Oh, begitu ya, Pak, ceritanya."

Bapak, "Iya, Nak, begitulah cerita yang sebenarnya."

Teman-temanku pun terharu mendengar ceritanya, begitu pula denganku. Sejak hari itu, aku dan teman-temanku sudah sering ke perpustakaan untuk membaca buku, karena membaca buku adalah jendela kesuksesan untuk masa depan. Dan bukan hanya itu — dengan membaca, aku pun jadi bisa menulis, walaupun masih belajar.

Ranggung, 26 September 2026

*Milda adalah siswa Kelas VllI A, SMP Negeri 5 Payung (Bangka Selatan). ***