Airlangga Hartarto: Kondisi Ekonomi Akan Membaik pada Kuartal III dan IV-2026
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah melemahnya sejumlah indikator ekonomi -- mulai dari nilai tukar, PMI manufaktur, defisit neraca dagang, hingga menurunnya optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian -- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai hal itu masih wajar.
Kondisi akan membaik pada kuartal III dan IV-2026. Ia yakin perbaikan aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini akan menopang kembali kinerja ekspor, industri manufaktur, serta menjaga optimisme pelaku usaha dan konsumen.
Indikator ekonomi bulan Juni memang menunjukkan penurunan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. Ini penurunan yang ketiga berturut-turut, sekaligus terendah sejak September 2025.
Selain itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur turun ke level 46,9 atau kembali ke zona kontraksi. Neraca perdagangan mencatat defisit USD 1,61 miliar, menjadi defisit pertama kali dalam 72 bulan.
Sementara, dalam laporan World Economic Outlook Update edisi Juli 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5% pada 2026, tidak berubah dari outlook edisi April. Proyeksi ekonomi Indonesia kali ini masih dipertahankan di tengah potensi perlambatan ekonomi dunia akibat perang di Timur Tengah. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia 3% pada 2026, dan 3,4% pada 2027.
Menkeu Purbaya
Dalam raker dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, Selasa lalu, Menkeu Purbaya memperkirakan defisit APBN 2026 akan melebar menjadi Rp 734,3 triliun, atau 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka itu lebih tinggi dari target Rp 689,1 triliun, atau 2,68 PDB. Dan, keseimbangan primer 2026 diperkirakan defisit Rp 152,1 triliun, jauh lebih lebar dibanding target APBN sebesar Rp 89,7 triliun.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, untuk ukuran kesehatan fiskal yang lebih penting adalah keseimbangan primer.
Keseimbangan primer yang defisit lebih besar, memberi sinyal bahwa penerimaan negara belum cukup membiayai belanja pokok sebelum utang diperhitungkan.
Dalam jangka pendek situasi ini masih bisa dikelola, tetapi jika terus berlangsung, ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit karena porsi anggaran untuk membayar kewajiban utang terus membesar.
Yusuf memperkirakan penerimaan pajak pada 2026 belum mampu mencapai target, sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan melampaui target.
Kondisi itu memang membantu menahan pelebaran defisit, tetapi sekaligus menunjukkan APBN masih bergantung pada penerimaan siklikal, seperti harga komoditas dan dividen BUMN.
Namun ia melihat sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan. Defisit semester I-2026 lebih rendah dibanding tahun lalu, sementara penerimaan perpajakan mulai pulih. ***