Dari Mana Uang Ethiopia Buat Borong Jet Tempur Su-35, Il-78MK dan S-400 dari Rusia?
ORBITINDONESIA.COM - Publik militer lagi heran. Ethiopia dengan GDP sekitar 130 Miliar USD tiba-tiba muncul dengan paket belanja super jumbo: 12 unit Su-35S, 4 unit Il-78MK tanker, dan 4 baterai S-400. Kalau dihitung kasar, paket ini nilainya miliaran dollar. Tidak masuk akal kalau dibiayai APBN mereka sendiri.
Dugaan paling kuat yang beredar di kalangan pengamat: ada sponsor di belakang layar.
Kuncinya ada di poros UAE - Israel. Ethiopia dalam beberapa tahun terakhir memang makin dekat dengan aliansi UAE - Israel. Buat UAE (Uni Emirat Arab) dan Israel, ini logis.
Mereka sedang terjepit di dua front: di satu sisi ada Sunni Alliance yang isinya Turki, Saudi, Pakistan, Mesir plus lingkarannya Qatar, Bahrain, Suriah yang secara ekonomi dan militer di atas mereka. Di sisi lain ada Axis of Resistance, jaringan proxy Iran.
Dalam kacamata UAE, memperkuat Ethiopia itu sama dengan memperlebar buffer negara kawan di kawasan Laut Merah dan Tanduk Afrika. Jadi investasi alutsista buat Ethiopia dianggap investasi keamanan jangka panjang mereka.
Lalu kenapa barangnya bisa datang cepat dan camo-nya mirip Flanker Indonesia?
Nah ini bagian paling menarik.
Indonesia sendiri memang sudah lama dikaitkan dengan rencana akuisisi 12 Su-35S dan 4 Il-78MK-90A. Deal itu di dalam negeri banyak penolakan dari kalangan formal karena masalah CAATSA dan kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Di saat yang sama UAE butuh barang yang ready dan cepat buat dikirim ke Ethiopia, bukan pesan baru yang harus menunggu 3-4 tahun.
Jadilah ada skenario tukar kepentingan: slot Su-35 dan Il-78MK yang semula disiapkan untuk Indonesia dialihfungsikan ke Ethiopia. Sebagai imbalannya, Indonesia dapat kompensasi energi berupa 30 juta barel minyak gratis dari UAE.
Ini win-win di tengah situasi Timur Tengah yang lagi bikin harga minyak naik dan stok kita tipis. Makanya tak heran kalau netizen jeli lihat camo Su-35 Ethiopia kok familiar, mirip dengan skema Flanker yang pernah disiapkan untuk Indonesia.
Sekali lagi, ini adalah pembacaan geopolitik berbasis open-source dan pola aliansi yang ada. Bukan klaim resmi pemerintah mana pun. Tapi kalau polanya ditarik, semua puzzle-nya nyambung.
(Sumber: FB Militer Dunia) ***