Performative Self-Care: Saat Self-Care Jadi Konten, Bukan Pemulihan
ORBITINDONESIA.COM – Performative self-care dan self-care di media sosial kini mengubah olahraga, meditasi, hingga journaling menjadi tontonan yang harus “terlihat benar”. Seorang perempuan selesai workout, belum sempat menurunkan detak jantung, sudah sibuk memilih foto dan meracik caption, lalu rasa segar keburu hilang.
Era ini adalah masa keemasan konten wellness, ketika rutinitas pagi dipoles jadi estetika dan kebiasaan sehat mudah dimonetisasi. Namun di balik set baju serasi dan smoothie bowl yang sempurna, self-care perlahan bergeser dari kebutuhan batin menjadi proyek citra.
Masalahnya bukan pada posting itu sendiri, melainkan pada perhatian yang terpecah. Ketika pemulihan dilakukan sambil “memproduksi bukti”, tubuh hadir tetapi pikiran absen, dan manfaatnya menyusut.
Fenomena ini selaras dengan temuan psikologi tentang perhatian dan stres. American Psychological Association menyoroti bahwa multitasking dan distraksi digital terkait dengan peningkatan stres dan penurunan kualitas fokus, yang pada akhirnya mengganggu pemulihan mental (APA, laporan stres dan teknologi).
Performative self-care terjadi saat tindakan merawat diri dilakukan tanpa kehadiran penuh. Jalan kaki berubah menjadi sesi menyusun caption, meditasi berubah menjadi tangkapan layar, dan yoga menjadi checklist yang diselesaikan, bukan pengalaman yang dirasakan.
Padahal manfaat latihan fisik dan jeda mental bergantung pada presence. Saat perhatian terbagi, kita hanya mendapat “optik” self-care, bukan substansinya, karena sistem saraf tidak benar-benar masuk mode pemulihan.
Ada pola psikologis yang lebih dalam, terutama pada kelompok high achiever. Self-care yang dipamerkan bisa menjadi cara memberi sinyal “aku baik-baik saja” tanpa harus menjalani kerja batin yang lebih sulit untuk benar-benar membaik.
Di titik ini, wellness menjadi arena kompetisi baru. Kita membandingkan jam bangun, jumlah langkah, streak meditasi, dan diet, lalu diam-diam merasa kalah ketika tidak mampu konsisten seperti yang terlihat di layar.
Data global juga menunjukkan intensitas penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk pada sebagian kelompok, terutama remaja dan dewasa muda. U.S. Surgeon General pada 2023 mengeluarkan advisory tentang media sosial dan kesehatan mental remaja, menekankan risiko pada kesejahteraan psikologis bila penggunaan tidak terkelola.
Artinya, ketika self-care dipaketkan dalam platform yang mendorong perbandingan dan evaluasi sosial, ia rawan berubah menjadi sumber tekanan baru. Kita mengejar “tampak sehat”, tetapi justru menambah beban kognitif dan emosional.
Self-care yang paling efektif sering kali tidak fotogenik. Ia berupa keputusan kecil yang tidak mendapat likes, seperti tidur tepat waktu, menolak ajakan yang melelahkan, atau berhenti bekerja saat jam kerja selesai.
Standar baru yang perlu dipakai bukan “seberapa bagus terlihat”, melainkan “seberapa pulih terasa”. Jika setelah ritual kita malah gelisah, terdorong mengecek reaksi orang, atau merasa harus membuktikan sesuatu, itu tanda pemulihan telah bergeser menjadi performa.
Kita juga perlu jujur pada dorongan untuk membagikan semuanya. Ada kalanya berbagi membangun komunitas, tetapi ada kalanya itu hanya cara halus mencari validasi, dan validasi adalah candu yang membuat self-care tak pernah cukup.
Solusinya bukan anti-media sosial, melainkan membalik prioritas. Hadir dulu, pulih dulu, lalu jika ingin berbagi, jadikan itu bonus, bukan tujuan.
Self-care seharusnya membuat kita menjadi lebih baik, bukan terlihat lebih baik. Ia hidup dalam pilihan sunyi: berjalan tanpa ponsel, menahan batas tanpa penjelasan, dan duduk diam cukup lama untuk benar-benar tahu keadaan diri.
Pertanyaannya sederhana tetapi tajam: saat Anda “merawat diri”, apakah Anda sedang reset, atau sedang memproduksi reset? Jika jawabannya yang kedua, mungkin yang Anda butuhkan bukan rutinitas baru, melainkan keberanian untuk melakukan lebih sedikit dan merasakan lebih banyak.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)