X-ray Portabel Palu Perkuat Deteksi Dini TB dan Tracing Kontak

ANTARA News Sulteng

ANTARA News Sulteng

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Deteksi dini TB di Palu mendapat amunisi baru setelah Dinkes menerima dua unit X-ray portabel dari Kementerian Kesehatan. Langkah ini ditujukan untuk memperluas skrining tuberkulosis dan mempercepat tracing kontak erat, saat penemuan kasus baru mencapai 51,4 persen.

Palu masih mengejar target eliminasi TB nasional 2030, tetapi data menunjukkan jarak yang belum kecil antara estimasi dan kasus yang benar-benar ditemukan. Hingga pertengahan Agustus 2026, ditemukan 1.062 kasus dari estimasi 2.066 kasus, menurut Dinkes Kota Palu.

Di atas kertas, pengobatan sudah berjalan cukup baik karena lebih dari 85 persen kasus positif yang ditemukan telah mendapatkan terapi. Namun, rantai penularan tidak hanya diputus di ruang klinik, melainkan juga di ruang sosial tempat orang berinteraksi tanpa merasa sedang berisiko.

Di sinilah tracing menjadi pekerjaan yang paling melelahkan sekaligus paling menentukan. Kepala Dinkes Palu Rochmat Jasin Moenawar menegaskan, “Kita menerima bantuan dua unit X-ray dari Kementerian Kesehatan untuk memperluas pemeriksaan dan deteksi dini tuberkulosis.”

X-ray portabel memberi keuntungan operasional karena bisa mendekat ke kantong-kantong risiko, bukan menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan. Dalam praktik TB, keterlambatan diagnosis sering terjadi karena gejala dianggap flu berkepanjangan, atau karena akses dan biaya tidak langsung seperti transportasi.

Alat ini juga relevan untuk skrining kontak erat yang belum bergejala, sebuah titik lemah yang kerap diabaikan. Rochmat menjelaskan, kontak erat tidak hanya diperiksa ketika sudah batuk lama, tetapi dapat diberi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bila memenuhi kriteria.

Masalahnya, cakupan TPT di Palu baru sekitar 23 persen. Angka ini mengisyaratkan bahwa banyak orang yang seharusnya “dipagari” dari berkembangnya infeksi menjadi penyakit TB, justru masih berjalan tanpa perlindungan.

Secara epidemiologis, TPT adalah investasi yang tidak terlihat hasilnya dalam semalam, tetapi dampaknya besar dalam menekan kasus baru. Jika TPT rendah, maka penemuan kasus yang meningkat bisa berujung pada beban pengobatan yang terus berulang, seperti memadamkan api tanpa mengurangi bahan bakarnya.

Kendala utama tracing juga bukan semata alat, melainkan peta relasi sosial pasien yang tidak selalu tercatat. Rochmat menyebut kontak sosial lebih sulit ditemukan dibanding kontak keluarga, karena teman, tetangga, dan rekan kerja sering tidak diketahui petugas.

Dua unit X-ray portabel dapat mempercepat pemeriksaan, tetapi tidak otomatis memperluas daftar orang yang harus diperiksa. Tanpa strategi penjangkauan komunitas, alat berisiko menjadi “teknologi yang menunggu pasien”, bukan teknologi yang mendatangi risiko.

Di sisi lain, capaian pengobatan lebih dari 85 persen menunjukkan sistem layanan sudah punya fondasi kepatuhan terapi yang lumayan. Dinkes juga melibatkan masyarakat dan institusi pendidikan untuk edukasi, termasuk pentingnya minum obat teratur hingga tuntas.

Namun, edukasi saja sering kalah oleh stigma, rasa malu, dan ketakutan kehilangan pekerjaan atau dijauhi lingkungan. Karena itu, imbauan Dinkes agar masyarakat tidak memberi stigma perlu diterjemahkan menjadi praktik sosial, bukan sekadar slogan kesehatan.

Bantuan X-ray portabel adalah kabar baik, tetapi ini baru “alat”, bukan “jawaban”. Pertanyaan kritisnya adalah apakah Palu akan memakai momentum ini untuk membangun sistem tracing yang lebih agresif, terukur, dan humanis.

Target eliminasi 2030 menuntut kecepatan, sementara angka penemuan kasus 51,4 persen menandakan separuh lebih kasus masih berpotensi berada di luar radar. Jika kasus yang belum ditemukan tetap beraktivitas tanpa diagnosis, maka penularan berjalan diam-diam, dan statistik tahunan menjadi sekadar angka yang terlambat.

Fokus kebijakan seharusnya bergeser dari “menunggu gejala” menuju “mengejar risiko”. Itu berarti memperkuat jejaring kader, kolaborasi RT/RW, sekolah, dan tempat kerja, serta memastikan TPT tidak tersendat oleh prosedur yang rumit atau ketersediaan layanan yang terbatas.

Di level komunikasi publik, TB harus diposisikan sebagai penyakit yang bisa disembuhkan dan tidak layak dijadikan label sosial. Stigma membuat orang menunda periksa, sedangkan penundaan adalah ruang kosong tempat TB memperluas wilayahnya.

Palu kini punya dua X-ray portabel untuk memperluas deteksi dini TB dan mempercepat tracing kontak erat. Tetapi keberhasilan sesungguhnya diukur bukan dari jumlah alat, melainkan dari berapa banyak kasus tersembunyi yang berhasil ditemukan dan berapa banyak kontak yang terlindungi lewat TPT.

Jika cakupan TPT masih 23 persen, maka pekerjaan rumahnya jelas: memperbesar pencegahan, bukan hanya pengobatan. Pada akhirnya, eliminasi TB adalah ujian solidaritas, karena penyakit ini tumbuh subur ketika masyarakat memilih menjauh, bukan merangkul yang sedang berobat.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)