Kolier L. Haryanto: Ketika Ijazah Diuji di Gerbang Akademi - Sebuah Dialog Imajiner di Peace Café

Pendiri Peace Café berdialog dengan Plato.

Pendiri Peace Café berdialog dengan Plato.

Opini

Oleh Kolier L. Haryanto, Pendiri Peace Café

ORBITINDONESIA.COM - Catatan Pembuka:

Nama lahirnya adalah Aristokles. Murid-muridnya, termasuk Aristoteles, kemudian memanggilnya Platon – Plato – yang sering dikaitkan dengan kata Yunani platus, luas atau lebar. Konon, ia mendapat julukan itu karena tubuhnya yang bidang sebagai pegulat, sekaligus karena keluasan pikirannya.

Maka, ketika di Peace Café kami memanggilnya Prof Plato, itu bukan sekadar sapaan. Ia adalah penghormatan kepada seorang guru yang mengajarkan bahwa manusia boleh memiliki pengetahuan, tetapi tidak boleh berhenti mencari kebenaran.

Di gerbang Akademi yang didirikannya, sebuah ungkapan yang secara tradisional dikaitkan dengannya sering dikenang:

“Medeis ageometretos eisito.”

“Jangan biarkan siapa pun yang tidak mengenal geometri masuk ke sini.”

Malam itu, entah bagaimana, Plato datang ke Peace Café.

 

Malam di Peace Café

Pendiri Peace Café: Selamat datang di Peace Café, Prof Plato.

Plato: Terima kasih, Beltiste – wahai yang terbaik. Tetapi jangan terlalu cepat memberikan gelar kepada seseorang. Gelar sering membuat manusia berhenti belajar.

Pendiri Peace Café: Bukankah itu sebabnya kami memanggil Anda Prof Plato? Bukan karena gelar, tetapi karena pikiran Anda yang luas.

Plato: Kalau begitu, aku menerimanya.

Pendiri Peace Café: Prof, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan. Mengapa Anda membangun Akademi setelah guru Anda, Sokrates, dihukum mati oleh demokrasi Athena?

Plato: Karena aku belajar satu hal yang pahit.

 Sebuah negara tidak selalu runtuh karena kekurangan orang pintar. Kadang ia runtuh karena orang pintar tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dengan kepandaiannya.

Athena memiliki retorika. Memiliki para politisi. Memiliki kerumunan yang pandai berdebat. Tetapi pengetahuan tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan.

Maka aku bertanya kepada diriku sendiri: jika sebuah kapal karam karena nahkodanya tidak memahami laut, apakah yang harus dilakukan? Mengganti nahkoda setiap kali kapal karam, atau membangun sekolah untuk mengajarkan bagaimana membaca angin, bintang dan arus?

Aku memilih membangun sekolah.

Pendiri Peace Café: Akademi?

Plato: Akademi. Karena perubahan yang paling penting bukan sekadar mengganti siapa yang memegang kemudi. Yang lebih penting adalah memastikan orang yang memegang kemudi memahami ke mana kapal harus diarahkan.

 

Gerbang dan Selembar Ijazah

Pendiri Peace Café: Tetapi mengapa geometri?

Mengapa bukan kemampuan berpidato? Bukankah pemimpin membutuhkan retorika untuk meyakinkan rakyat?

Plato: Justru karena itu. Retorika dapat membuat sesuatu yang salah terdengar benar. Geometri mengajarkan disiplin yang berbeda: kebenaran tidak berubah hanya karena banyak orang tidak menyukainya. Lingkaran tetap lingkaran, meskipun seluruh agora berteriak bahwa ia persegi.

Pendiri Peace Café: Jadi geometri bagi Anda bukan sekadar matematika?

Plato: Bukan. Ia adalah latihan bagi pikiran agar tidak tunduk kepada pendapat hanya karena pendapat itu populer.

Dan di sinilah persoalanmu menjadi menarik, Mathetes.

Pendiri Peace Café: Persoalan apa?

Plato: Tentang selembar kertas yang disebut ijazah. Mengapa manusia begitu penting dengan selembar kertas?

Pendiri Peace Café: Karena ijazah membuktikan seseorang telah menempuh pendidikan.

Plato: Tidak selalu. Ijazah dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah menjalani sebuah proses pendidikan. Tetapi ijazah bukan pendidikan itu sendiri. Seseorang dapat memiliki ijazah tetapi tidak memiliki pengetahuan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki pengetahuan yang luas meskipun tidak memiliki selembar ijazah.

 Namun jangan salah memahami aku. Justru karena ijazah adalah tanda bahwa suatu proses pendidikan pernah terjadi, maka kejujuran di balik tanda itu menjadi penting.

Jika sebuah masyarakat mulai mempertanyakan sebuah ijazah, persoalannya tidak berhenti pada selembar kertas. Yang sedang dipertanyakan sesungguhnya adalah: apakah proses yang melahirkan kertas itu benar-benar terjadi?

 

Ketika Dokumen Menjadi Soal Publik

Pendiri Peace Café: Tetapi bukankah persoalan seperti itu seharusnya diselesaikan secara administratif?

Plato: Pada mulanya, mungkin. Tetapi tidak semua persoalan tetap menjadi persoalan administratif.

Bayangkan seseorang menggunakan sebuah tanda untuk memperoleh kepercayaan publik. Ketika tanda itu kemudian dipersoalkan, masyarakat tentu akan bertanya: apakah tanda tersebut sah, bagaimana ia diterbitkan, siapa yang menerbitkan, dan proses apa yang melahirkannya? Di titik itu, persoalannya telah bergerak dari administrasi menuju legitimasi.

Pendiri Peace Café: Legitimasi?

Plato: Ya. Kekuasaan membutuhkan legitimasi. Dan legitimasi membutuhkan kepercayaan.

Seorang pemimpin mungkin memiliki jabatan berdasarkan prosedur hukum. Tetapi dalam kehidupan publik, hukum bukan satu-satunya sumber kepercayaan. Ada pula integritas, rekam jejak, dan keyakinan masyarakat bahwa sesuatu memang sebagaimana dikatakan.

Karena itu, jangan takut kepada pertanyaan. Yang berbahaya bukan masyarakat yang bertanya. Yang berbahaya adalah masyarakat yang tidak lagi berani bertanya.

 

Kebenaran Tidak Membutuhkan Keramaian

Pendiri Peace Café: Tetapi pertanyaan publik kadang berubah menjadi tuduhan.

Plato: Itulah sebabnya pertanyaan harus diuji dengan pengetahuan. Aku tidak pernah mengatakan bahwa setiap tuduhan adalah benar. Aku justru mengatakan sebaliknya: jangan menerima tuduhan sebagai kebenaran sebelum ia diuji. Tetapi jangan pula menolak pertanyaan hanya karena pertanyaan itu tidak nyaman.

 Di sinilah pendidikan menjadi penting. Pendidikan bukan mengajari manusia untuk percaya kepada semua yang didengar. Pendidikan mengajari manusia bagaimana membedakan antara fakta, opini, asumsi, dan propaganda.

Pendiri Peace Café: Bukankah itu yang Anda maksud dengan Perumpamaan Gua dalam Republic?

Plato: Tepat. Manusia dapat hidup sepanjang hidupnya dengan melihat bayangan dan menganggapnya sebagai kenyataan.

Di dalam gua, bayangan tampak nyata. Masalahnya bukan karena bayangan itu ada. Masalahnya adalah manusia tidak pernah berusaha mengetahui dari mana bayangan itu berasal.

Maka pendidikan adalah proses membalikkan tubuh dan jiwa manusia menuju cahaya. Dalam bahasa yang lebih sederhana: berani memeriksa apa yang selama ini kita anggap benar.

 

Siapa Yang Layak Memimpin ?

Pendiri Peace Cafe: Lalu bagaimana dengan pemimpin? Mengapa dalam Republic Anda berbicara tentang philosopher-king, raja-filsuf?

Plato: Karena aku tidak mencari pemimpin yang paling pandai berbicara. Aku mencari manusia yang memahami tanggung jawab kekuasaan. Dalam jiwa manusia ada dorongan untuk menikmati, dorongan untuk berani, dan kemampuan untuk berpikir. Jika keinginan yang memimpin, negara menjadi rakus. Jika keberanian tanpa akal yang memimpin, negara mudah menjadi agresif.

Tetapi jika akal dan kebijaksanaan memimpin, kekuasaan memiliki kemungkinan untuk diarahkan kepada kebaikan bersama. Karena itu, calon pemimpin harus dididik. Bukan sehari. Bukan semalam. Bukan hanya untuk memperoleh selembar sertifikat.

Ia harus menjalani proses panjang: belajar, berdisiplin, berdialog, menguji pikirannya sendiri, dan – yang paling sulit – belajar mengakui bahwa dirinya bisa salah.

Pendiri Peace Café: Jadi bagi Anda, ijazah tidak cukup?

Plato: Ijazah penting sebagai bukti formal. Tetapi manusia jauh lebih besar daripada dokumennya.

Yang harus diuji bukan hanya kertasnya, tetapi juga proses yang melahirkannya, pengetahuan yang diwakilinya, dan integritas orang yang menggunakannya.

Sebab ketika sebuah tanda akademik dipakai untuk menopang legitimasi publik, maka kejujuran terhadap tanda itu bukan lagi urusan pribadi semata. Ia menjadi bagian dari etika publik.

 

Di Sinilah Plato Tersenyum

Pendiri Peace Café: Prof, apakah Anda sedang mengatakan bahwa setiap ijazah pejabat harus diperiksa?

Plato: Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya mengatakan: jika sebuah masyarakat mengajukan pertanyaan, jangan jawab dengan kemarahan. Jawablah dengan bukti. Jika bukti itu kuat, pertanyaan selesai. Jika bukti itu belum cukup, pemeriksaan dilanjutkan. Bukankah begitu cara ilmu bekerja?

Pendiri Peace Café: Lalu bagaimana dengan kekuasaan?

Plato: Kekuasaan seharusnya tidak takut kepada kebenaran. Justru kekuasaan yang sehat membutuhkan kebenaran untuk menjaga dirinya sendiri. Karena itu, aku tidak pernah mengajarkan murid-muridku untuk mencintai penguasa. Aku mengajarkan mereka untuk mencintai kebenaran. Dan jika suatu hari kebenaran berdiri berhadapan dengan kekuasaan, seorang akademisi harus memiliki keberanian untuk tetap berdiri bersama kebenaran.

Plato kemudian terdiam.

Ia memandang ke luar jendela Peace Café. Malam semakin larut. Lampu jalan memantulkan bayangan di kaca.

Pendiri Peace Café: Prof, bukankah kita masih berada di dalam gua?

Plato: Mungkin. Tetapi setidaknya malam ini kalian mulai bertanya dari mana datangnya bayangan. Ia tersenyum.

Plato: Dan ingat satu hal, Mathetes. Akademi bukan tempat untuk mengumpulkan ijazah. Akademi adalah tempat manusia belajar membedakan kebenaran dari bayangan.

Orang yang telah keluar dari gua tidak menjadi lebih tinggi daripada manusia lain. Ia hanya memperoleh satu kewajiban baru: kembali ke dalam gua dan membantu yang lain melihat cahaya.

Itulah mengapa aku membangun Akademi. Dan itulah mengapa syarat pemimpin bukanlah selembar kertas, melainkan keberanian untuk tidak memalsukan jiwanya sendiri.

Peace Café-mu, Mathetes, melakukan hal yang sama. Kau tidak menjual kopi. Kau sedang melatih jiwa-jiwa untuk duduk bersama, berdialog, dan melihat cahaya yang sama. ***