Strategi Investasi Nilai Saat Saham AI Mahal: Del Vicario Berburu Diskon
ORBITINDONESIA.COM – Strategi investasi nilai kembali diuji ketika pasar saham dinilai “kemahalan” dan indeks seperti S&P 500 serta Nasdaq melesat karena euforia AI. Namun manajer investasi Jason Del Vicario justru mengaku menemukan “lahan berburu” saham berkualitas, dengan ritme peluang yang ia sebut mirip periode kejatuhan 2022.
Del Vicario, pengelola portofolio Hillside Wealth Management di iA Private Wealth Inc., mengawasi aset sekitar US$280 juta. Ia menekankan pendekatan membeli perusahaan “berkualitas tinggi” pada “harga yang menguntungkan” lalu menahannya bertahun-tahun, bahkan “hingga puluhan tahun.”
Definisi kualitasnya tidak romantis, melainkan teknis dan disiplin. Ia mencari manajemen yang punya kepemilikan bermakna, serta rekam jejak menghasilkan return on invested capital di atas rata-rata secara konsisten.
Masalahnya, pasar sedang hiperfokus pada saham AI dan narasi pertumbuhan cepat. Strategi jangka panjang yang menunggu valuasi masuk akal sering tampak kalah cepat dibanding indeks yang ditarik segelintir raksasa teknologi.
Data kinerja memperlihatkan ketegangan itu. Dana all-equity perusahaannya naik 6,8% sepanjang tahun berjalan, tetapi masih negatif 1,5% untuk periode satu tahun, sementara imbal hasil tahunan sejak 2014 sekitar 9,5% (per 15 Juli, total return neto biaya).
Komposisi kepemilikan teratasnya juga menunjukkan ia tidak alergi teknologi, tetapi menolak membeli “cerita” tanpa harga. Lima besar portofolionya mencakup Meta Platforms, Constellation Software, Credit Acceptance, Couche-Tard, serta Games Workshop di bursa London.
Di tengah pasar yang mudah tergoda narasi AI, Del Vicario menyorot peluang yang lebih sunyi: saham yang turun bukan karena bisnisnya rusak, melainkan karena ekspektasi berubah. Ia membeli Copart, Kinsale Capital, dan Paycom Software, sambil menjual Kakaku.com karena faktor korporasi dan valuasi.
Copart adalah perantara penjualan kendaraan “total loss” dengan sekitar 200 lokasi salvage yard di Amerika Utara, Inggris, Eropa, Brasil, dan Timur Tengah. Del Vicario mulai membeli Maret dan menambah Juni, dengan harga rata-rata sekitar US$32 per saham.
Argumennya bertumpu pada paradoks industri otomotif modern. Jumlah tabrakan menurun, tetapi ambang kendaraan “dinyatakan total” naik karena teknologi mobil makin mahal untuk diganti, sehingga mobil dengan kerusakan fisik minimal pun sering masuk lelang.
Di sini, margin Copart justru diuntungkan. Sahamnya sempat dianggap overvalued, lalu turun karena kompetisi meningkat dari IAA setelah diakuisisi Ritchie Bros pada 2023.
Del Vicario menilai pasar masih cukup besar untuk dua pemain, tetapi struktur aset Copart lebih kuat. Copart disebut memiliki banyak real estat salvage yard, sementara IAA lebih banyak menyewa lahan, sehingga keunggulan biaya jangka panjang bisa lebih defensif.
Ia juga menekankan neraca Copart tanpa utang dan aksi buyback yang kembali aktif tahun ini setelah sekitar satu dekade. Dalam pasar yang sensitif suku bunga, “tanpa utang” bukan sekadar slogan, melainkan penyangga saat biaya modal naik.
Kinsale Capital menjadi taruhan pada realitas risiko iklim dan perubahan selera underwriting. Perusahaan asuransi property & casualty ini bermain di excess and surplus lines di AS, yakni segmen yang lebih sulit diasuransikan seperti rumah rawan kebakaran atau badai, hingga bisnis konstruksi dan transportasi komersial.
Del Vicario mulai membeli awal Juni dengan biaya rata-rata sekitar US$309 per saham. Ia menyukai kemampuan Kinsale mematok premi lebih tinggi ketika asuransi standar menarik diri dari risiko, sehingga pricing power muncul dari ketidaknyamanan pasar.
Ia juga menyorot efisiensi operasional karena Kinsale menangani klaim sendiri lewat platform teknologi proprietary, bukan outsourcing. Kepemilikan pendiri dan CEO Michael Kehoe sekitar 4% dipandang sebagai sinyal insentif yang selaras, ditambah catatan tanpa utang dan klaim kenaikan pangsa pasar.
Paycom Software memperlihatkan bagaimana ketakutan AI bisa menciptakan diskon yang tidak selalu rasional. Del Vicario mulai membeli pada 2024 sekitar US$138, lalu menambah sepanjang musim semi di kisaran US$114–US$121 ketika saham software terkoreksi karena kekhawatiran “AI membunuh bisnis mereka.”
Ia justru menempatkan AI sebagai tailwind, yakni alat produktivitas yang memperbaiki produk dan relasi klien. Ia juga menyukai buyback besar Paycom awal tahun, ekspansi internasional, serta kepemilikan CEO sekaligus pendiri Chad Richison sekitar 12,6%.
Keputusan menjual Kakaku.com menegaskan disiplin exit, bukan sekadar jatuh cinta pada “moat.” Ia menjual pertengahan Juni sekitar 3.300 yen, dengan price/earnings sekitar 34 yang ia nilai tinggi untuk bisnis sejenis, apalagi situs perbandingan harga Kakaku disebut stagnan beberapa tahun terakhir.
Transaksi itu dipicu juga oleh takeover private equity dan risiko delisting jika menunggu. Dengan porsi yang sempat sekitar 7% portofolio dan biaya rata-rata 2.125 yen, Del Vicario memilih mengunci keuntungan dan menghindari ketidakpastian proses akuisisi, meski ada rumor bidding war.
Di balik daftar saham, ada kritik halus terhadap budaya pasar yang menukar analisis dengan euforia. Ketika indeks “naik” karena beberapa saham raksasa, banyak investor merasa seluruh pasar mahal, padahal diskon sering tersebar di luar panggung utama.
Pendekatan Del Vicario mengingatkan bahwa investasi nilai bukan berarti anti-teknologi. Ia memegang Meta dan Constellation Software, tetapi tetap menuntut “harga yang masuk akal,” seolah mengatakan bahwa masa depan boleh cerah, namun valuasi tetap harus membumi.
Namun strategi ini juga tidak kebal dari risiko psikologis dan reputasi. Ketika kinerja jangka pendek tertinggal, manajer nilai diuji bukan hanya oleh pasar, tetapi oleh kesabaran klien yang membandingkan return dengan indeks populer.
Di sinilah transparansi menjadi penting, karena angka-angka di artikel menunjukkan realitas yang tidak dipoles. Return satu tahun negatif 1,5% bisa menjadi bahan serangan, tetapi return tahunan sejak 2014 sebesar 9,5% menyiratkan bahwa konsistensi sering datang dengan periode “tidak fashionable.”
Secara kritis, narasi “bargain” juga harus diuji: apakah penurunan harga adalah peluang, atau sinyal perubahan struktural. Del Vicario mencoba menjawabnya dengan indikator yang konkret, seperti neraca tanpa utang, buyback, kepemilikan manajemen, dan keunggulan biaya berbasis aset.
Di era AI, banyak orang menganggap semua software akan tergantikan, tetapi ia membedakan antara disrupsi dan peningkatan produktivitas. Pandangan ini tidak pasti benar, tetapi setidaknya menolak kepanikan massal yang sering membuat investor menjual tanpa tesis yang jelas.
Pelajaran paling tajam dari kisah ini bukan daftar tickers, melainkan disiplin berpikir saat pasar bising. Del Vicario membeli ketika ketakutan membuat harga turun, dan menjual ketika valuasi serta risiko korporasi membuat imbal hasil tak lagi sepadan.
Pasar modern sering menghadiahi kecepatan, tetapi investasi jangka panjang menuntut ketahanan untuk tampak “salah” sementara waktu. Pertanyaannya bagi investor ritel sederhana namun berat: apakah kita mengejar cerita yang sedang tren, atau membangun portofolio yang sanggup bertahan ketika tren berganti? (Orbit dari berbagai sumber, 16 September 2026)