Menguak Guwo Mate Anak: Gua Mistis Tempat 'Bersemayam' Kuntilanak yang Menyimpan Jejak Prasejarah
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diketuai oleh Dr. Moh. Mualliful Ilmi, S.Si., M.Si.
CultureOleh Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu Junjung Behaoh.
ORBITINDONESIA.COM - Di balik rimbunnya pepohonan di kaki Bukit Aik Sibut, Kampung Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, tersembunyi sebuah gua dengan nama yang cukup mendirikan bulu kuduk: Guwo Mate Anak.
Nama tersebut lahir bukan tanpa sebab. Secara turun-temurun, masyarakat Kampung Gudang meyakini gua ini sebagai tempat bersemayamnya mate anak—sebutan lokal untuk kuntilanak.
Cerita mistis ini diwariskan melalui tutur lisan para tetua dan menjadi bagian dari cerita rakyat (folklore) yang tetap hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Lempengan Batu Mirip Dipan Alami
Keunikan Guwo Mate Anak terletak pada bentukan alam di dalamnya. Sebuah lempengan batu granit datar terbentang dingin dan sunyi seperti dipan atau tempat peristirahatan alami.
Bagi warga setempat, lempengan inilah yang dipercaya menjadi tempat istirahat sang sosok gaib.
“Dari dulu orang tua mengatakan bahwa gua itu tempat bersemayamnya mate anak. Dikisahkan, mate anak ini berkeliaran di malam hari saat bulan terang,” ujar Hardin As, salah satu tetua Kampung Gudang.
Letak gua ini berjarak kurang dari satu kilometer dari pemukiman warga dan hanya sekitar enam meter dari fasilitas penampungan air bersih. Kendati dekat, rimbunnya pepohonan besar di sekelilingnya membuat gua ini tersembunyi dari pandangan luar, menciptakan atmosfer yang sejuk, tenang, sekaligus magis.
Saat melangkah ke dalam, ruang gua menyuguhkan suasana lembap dan remang. Cahaya matahari hanya mampu menyusup lewat dua celah di antara bongkahan granit.
Suara alur air pelan di sudut bawah serta kepakan sayap kelelawar di langit-langit gua kian memperkuat kesan misterius.
Menjadi Situs Penelitian Prasejarah
Bagi sebagian orang, Guwo Mate Anak mungkin sekadar gua terpencil di tengah belantara. Namun bagi masyarakat setempat dan ilmuwan, tempat ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Guwo Mate Anak kini menjadi salah satu titik penelitian keberadaan manusia prasejarah oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diketuai oleh Dr. Moh. Mualliful Ilmi, S.Si., M.Si.
Adapun anggota tim riset lintas lembaga tersebut meliputi:
*Adhi Agus Oktaviana, S.Hum., Ph.D. (BRIN)
*Sigit Eko Prasetyo, S.Hum., M.Hum. (BRIN)
*Dr. Budi Agung Sudarmanto, S.S., M.Pd. (BRIN)
*Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana (Universitas Indonesia)
*Prof. Dr. Evi Maryanti, M.Si. (Universitas Bengkulu)
*Ari Mukti Wardoyo Adi, M.A. (Universitas Jambi)
Guwo Mate Anak menjadi bukti nyata bahwa di Bangka Selatan, batas antara tuturan leluhur dan jejak sejarah peradaban prasejarah bisa berdampingan di satu tempat yang sama. ***